Lebih dari 8 Ribu Penerbangan Dibatalkan, Maskapai AS Galau Jelang Liburan Thanksgiving
Poin Penting
|
CHICAGO, investortrust.id – Shutdown terpanjang dalam sejarah Amerika Serikat telah mengacaukan puluhan ribu penerbangan dalam beberapa hari terakhir. Hal ini mengurangi optimisme maskapai tentang kinerja kuartal liburan.
Menjelang kemungkinan berakhirnya shutdown pada akhir pekan ini, maskapai kini harus berjuang mengendalikan dampaknya terhadap penumpang dan pendapatan perusahaan.
Baca Juga
Senat AS Loloskan RUU Pendanaan Sementara, Trump Sebut ‘Shutdown’ Segera Berakhir
Maskapai sebelumnya memperkirakan permintaan stabil pada kuartal ini setelah pemesanan korporasi dan wisata sempat melemah pada paruh pertama 2025 akibat ketidakpastian ekonomi dan ketegangan dagang. Namun, pertumbuhan pemesanan untuk libur Thanksgiving kini merosot tajam—hanya naik sekitar 1% sejak akhir Oktober, atau separuh dari proyeksi awal—menurut data firma analisis penerbangan Cirium. Ini mencerminkan kehati-hatian para pelancong di tengah berkepanjangannya shutdown.
Senat AS pada Senin telah menyetujui RUU untuk memulihkan pendanaan lembaga federal, membuka peluang bahwa shutdown bisa berakhir pekan ini, dengan DPR yang dikuasai Partai Republik dijadwalkan membahasnya dalam beberapa hari ke depan.
Namun, para pejabat industri memperingatkan bahwa gangguan operasional masih akan terasa bahkan setelah pemerintahan kembali beroperasi. Berdasarkan data situs pemantau penerbangan FlightAware, lebih dari 4.000 penerbangan dibatalkan antara 1 Oktober hingga 5 November. Namun, dalam empat hari terakhir saja, jumlah pembatalan melonjak menjadi lebih dari 8.000 penerbangan, sementara Otoritas Penerbangan Federal (FAA) telah memerintahkan pengurangan bertahap pada 40 bandara utama di AS.
Gangguan yang meluas dan tak terduga membuat pilot serta awak kabin mencapai batas waktu kerja yang ditetapkan secara federal sebelum rute mereka selesai. Kondisi ini, ditambah dengan pesawat dan kru yang terdampar di bandara yang salah, memaksa maskapai untuk mencari pengganti dengan cepat guna menghindari keterlambatan tambahan.
Untuk mengelola situasi tersebut, maskapai seperti Delta dan United menawarkan insentif tambahan bagi kru di sejumlah basis untuk mengambil penerbangan ekstra, menurut pesan internal yang dilihat oleh Reuters. Juru bicara United Airlines mengonfirmasi bahwa perusahaan meningkatkan penggunaan sistem bayaran premium bagi pilot dan memperluas insentif serupa bagi awak kabin di beberapa lokasi.
Maskapai juga mengandalkan kru cadangan yang disiagakan untuk keadaan darurat. Namun, habisnya sumber daya cadangan ini bisa menyebabkan gangguan besar saat akhir pekan Thanksgiving yang dimulai pada 27 November, salah satu periode tersibuk dalam industri penerbangan AS.
“Apa yang kami lakukan hari ini akan menentukan bagaimana sisa bulan ini berjalan,” kata Steve Olson, Wakil Presiden Senior Operasi Sistem dan Bandara JetBlue, kepada Reuters.
Ancaman Kerugian
Pelemahan terbaru ini mengikuti tren penurunan perjalanan udara di AS secara keseluruhan. Penjualan tiket melalui agen perjalanan AS untuk periode hingga akhir November turun 10% secara tahunan bulan lalu, menurut data Airlines Reporting Corp.
“Semua orang di industri ini sedikit khawatir tentang kuartal keempat,” ujar Steve Johnson, Chief Strategy Officer American Airlines.
Baca Juga
Bulan lalu, American memperkirakan kerugian pendapatan di bawah US$1 juta per hari akibat shutdown, sebanding dengan Delta. Namun, sejak itu gangguan terus meningkat.
Menurut analis Seaport Research Partners Daniel McKenzie, pengurangan penerbangan sebesar 10% yang diwajibkan FAA dapat merugikan industri sekitar US$10 juta per hari. Jika pembatasan ini berlanjut hingga Thanksgiving, biaya dapat melonjak menjadi US$45 juta per hari, belum termasuk pendapatan yang hilang dari perjalanan yang ditunda dan pembatalan menit terakhir.
Maskapai berbiaya rendah seperti Frontier dan Allegiant menghadapi risiko lebih besar karena frekuensi penerbangan yang lebih sedikit dan kapasitas terbatas untuk menampung ulang penumpang. Sebaliknya, maskapai besar seperti American, Delta, dan United yang memiliki jadwal lebih padat di rute tertentu berpotensi mendapat limpahan penumpang dari pesaing berbiaya rendah.
Sementara itu, FAA menyatakan akan kembali ke operasi normal setelah pendanaan dipulihkan dan sistem tak lagi mengalami beban berlebih, meski belum ada kepastian kapan hal itu akan terwujud.

