Trump Terus Tekan Moskow, Brent Melonjak Tembus US$65 per Barel
Poin Penting
- AS menjatuhkan sanksi ke Rosneft dan Lukoil karena sikap Rusia atas perang Ukraina.
- Brent melonjak 5,43% menjadi US$65,99, sedangkan WTI melaju 5,62% ke US$61,79 per barel.
- Gedung Putih desak sekutu bergabung dalam langkah sanksi tambahan.
- Ketegangan perdagangan dan peningkatan produksi OPEC+ terus tekan pasar energi.
NEW YORK, investortrust.id – Harga minyak terus meroket seiring meningkatnya tekanan Washington terhadap Moskow. Harga minyak melonjak lebih dari 5% pada Kamis (23/10/2025) setelah pemerintahan Trump memberlakukan sanksi tambahan terhadap dua perusahaan minyak mentah terbesar Rusia, dengan alasan Moskow “tidak menunjukkan komitmen serius terhadap proses perdamaian untuk mengakhiri perang di Ukraina.”
Baca Juga
Minyak Brent Meroket Hampir 5% Usai AS Jatuhkan Sanksi Baru pada Perusahaan Energi Raksasa Rusia
Dikutip dari CNBC, harga minyak patokan global Brent naik US$3,40 atau 5,43% menjadi ditutup pada US$65,99 per barel. Minyak mentah AS naik US$3,29 atau 5,62% menjadi US$61,79 per barel.
“Sekarang adalah waktunya untuk menghentikan pertumpahan darah dan melakukan gencatan senjata segera,” kata Menteri Keuangan Scott Bessent saat mengumumkan sanksi terhadap Rosneft dan Lukoil.
“Kementerian Keuangan siap mengambil tindakan lebih lanjut jika diperlukan untuk mendukung upaya Presiden Trump mengakhiri perang lainnya. Kami mendorong sekutu kami untuk bergabung dan mematuhi sanksi ini,” tambah Bessent.
Departemen Keuangan menyatakan sanksi baru tersebut akan menghambat kemampuan Kremlin dalam mengumpulkan pendapatan untuk membiayai perang melawan Ukraina.
Seorang pejabat senior Gedung Putih mengatakan kepada NBC News bahwa sanksi baru ini terkait dengan gagalnya rencana pertemuan antara Presiden Donald Trump dan pemimpin Rusia Vladimir Putin di Budapest.
Baca Juga
Pertemuan Trump-Putin di Hungaria Terancam Batal, Rusia Tolak Gencatan Senjata
Trump juga berusaha menekan India agar berhenti membeli minyak Rusia. New Delhi merupakan salah satu pembeli terbesar ekspor minyak mentah Rusia.
Harga minyak mentah AS telah turun 16% tahun ini, sementara Brent melemah hampir 14%. OPEC+, yang dipimpin oleh Arab Saudi dan Rusia, telah meningkatkan produksi selama beberapa bulan terakhir.
Ketegangan dagang akibat tarif yang diberlakukan Trump juga menimbulkan kekhawatiran di pasar minyak bahwa pertumbuhan ekonomi akan melambat dan menekan permintaan minyak mentah.
Eskalasi
“Pengumuman sanksi AS terhadap Rosneft dan Lukoil merupakan eskalasi besar dalam penargetan sektor energi Rusia dan bisa menjadi guncangan besar yang mengubah pasar minyak global menjadi defisit tahun depan,” ujar David Oxley, kepala ekonom iklim dan komoditas di Capital Economics, dikutip dari Reuters. Rusia adalah produsen minyak mentah terbesar kedua di dunia pada 2024 setelah AS, menurut data energi Amerika Serikat.
Selain lonjakan harga minyak mentah, kontrak berjangka diesel AS melonjak hampir 7%, mendorong selisih harga (crack spread) diesel ke level tertinggi sejak Februari 2024. Crack spread mengukur margin keuntungan kilang.
Sanksi AS berarti kilang di China dan India, yang merupakan pembeli utama minyak Rusia, harus mencari pemasok alternatif untuk menghindari dikeluarkan dari sistem perbankan Barat, kata analis Saxo Bank Ole Hansen.
Beberapa sumber perdagangan mengatakan kepada Reuters bahwa perusahaan minyak negara China telah menangguhkan pembelian minyak Rusia yang dikirim lewat laut dari dua perusahaan yang kini berada di bawah sanksi AS, sehingga mendorong harga minyak lebih tinggi.
Menteri Minyak Kuwait mengatakan bahwa Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) siap menutupi kekurangan di pasar dengan mengembalikan sebagian produksi yang dipangkas.
Namun Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan pasar global akan membutuhkan waktu untuk menggantikan minyak Rusia. “Ini tentu saja upaya untuk menekan Rusia,” kata Putin. “Namun tidak ada negara yang menghormati diri sendiri dan tidak ada rakyat yang bermartabat yang akan mengambil keputusan di bawah tekanan.”
AS mengatakan siap mengambil tindakan lebih lanjut dan menyerukan Moskow untuk segera menyetujui gencatan senjata di Ukraina.
“Berbagai sanksi AS dan Uni Eropa sejauh ini pada dasarnya tidak berdampak pada kemampuan Rusia mengekspor minyak, jadi kami meragukan bahwa putaran terbaru ini akan menjadi titik balik besar.
Namun demikian, Kremlin mungkin harus menggunakan cara yang lebih rumit untuk mengirimkan minyaknya secara diam-diam, yang berarti biaya lebih tinggi,” kata Pavel Molchanov, analis strategi investasi di Raymond James. Molchanov menambahkan bahwa bank investasi AS tersebut akan “terus memantau isu ini” karena ekspor Rusia mencakup sekitar 7% pasokan minyak global.
Lebih Banyak Sanksi
Inggris menjatuhkan sanksi terhadap Rosneft dan Lukoil pekan lalu, sementara Uni Eropa telah menyetujui paket sanksi ke-19 terhadap Rusia yang mencakup larangan impor gas alam cair asal Rusia.
Uni Eropa juga menambahkan dua kilang China dengan kapasitas gabungan 600.000 barel per hari, serta Chinaoil Hong Kong — unit perdagangan dari PetroChina — ke dalam daftar sanksi terhadap Rusia, menurut Jurnal Resmi Uni Eropa pada Kamis.
"Dampak sanksi terhadap pasar minyak akan bergantung pada bagaimana India bereaksi dan apakah Rusia dapat menemukan pembeli alternatif," kata analis UBS Giovanni Staunovo.
Sumber industri mengatakan pada Kamis bahwa kilang India, yang menjadi pembeli terbesar minyak mentah Rusia dengan harga diskon setelah perang di Ukraina, siap memangkas drastis impor minyak Rusia untuk mematuhi sanksi baru AS terhadap Lukoil dan Rosneft — langkah yang berpotensi membuka jalan bagi kesepakatan perdagangan dengan AS.
Reliance Industries, perusahaan swasta terbesar dan pembeli utama minyak Rusia di India, berencana mengurangi atau menghentikan impor tersebut sepenuhnya, menurut dua sumber yang mengetahui hal itu.

