Bessent Isyaratkan AS Takkan Bersikap ‘Lembek’ dalam Negosiasi Dagang dengan China
Poin Penting
- Trump ancam embargo minyak goreng dan menuduh China sengaja berhenti membeli kedelai AS sebagai “tindakan bermusuhan ekonomi.”
- Ancaman ini sempat mengguncang pasar saham, S&P 500 langsung jatuh setelah unggahan Trump di Truth Social.
- Menteri Keuangan Scott Bessent menegaskan AS tak akan mengubah sikap meski pasar bergejolak, menolak “tekanan pasar” sebagai alasan negosiasi.
- Washington kini memperkuat posisi negosiasi keras terhadap Beijing, menyiapkan tarif tambahan 100% pada November di tengah perang dagang yang memanas.
WASHINGTON, investortrust.id – Amerika Serikat (AS) mengisyaratkan tidak akan melunak dalam bernegosiasi dengan China, meskipun berdampak pada gejolak pasar. Hal itu ditegaskan Menteri Keuangan AS Scott Bessent.
Presiden Donald Trump kembali memicu ketegangan dalam perang dagang dengan China setelah mengancam akan menghentikan seluruh bisnis yang berkaitan dengan minyak goreng, sebagai pembalasan atas keputusan Beijing menolak membeli kedelai dari Amerika Serikat. Ancaman tersebut langsung mengguncang pasar keuangan, menambah gejolak yang sudah dipicu oleh tarif impor baru dan retorika keras antara dua ekonomi terbesar dunia.
Baca Juga
Pasar Saham AS Bergejolak, Trump Kembali Kobarkan Perang Dagang
Dalam unggahan di Truth Social, Trump menuduh China melakukan “tindakan bermusuhan secara ekonomi” karena sengaja tidak membeli kedelai Amerika, yang selama ini menjadi salah satu komoditas utama ekspor AS dengan nilai mencapai hampir 12,8 miliar dolar AS pada 2024. “Kami bisa memproduksi minyak goreng sendiri, kami tidak perlu membeli dari China,” tulisnya.
Langkah ini muncul di tengah meningkatnya tekanan dagang setelah Beijing menerapkan kontrol ekspor baru pada mineral tanah jarang — bahan penting bagi industri teknologi AS. Sebagai balasan, Trump mengancam akan menaikkan tarif tambahan hingga 100% terhadap seluruh impor dari China mulai 1 November. Indeks S&P 500 jatuh sesaat setelah unggahan Trump, menutup perdagangan di zona merah setelah sesi yang fluktuatif.
Namun pemerintahan Trump menegaskan tidak akan mengendurkan tekanan terhadap Beijing. Menteri Keuangan Scott Bessent menyatakan bahwa volatilitas pasar tidak akan memengaruhi strategi negosiasi Washington. “Kami tidak akan bernegosiasi karena pasar saham turun. Kami akan bernegosiasi karena kami melakukan yang terbaik untuk ekonomi AS,” ujar Bessent dalam wawancara di forum Invest in America CNBC, Rabu (15/10/2025).
Bessent juga menepis laporan The Wall Street Journal yang menyebut Xi Jinping yakin ekonomi AS tidak akan sanggup menahan konflik berkepanjangan. Ia menyebut laporan tersebut “buruk” dan menuding media itu menulis “berdasarkan dikte Partai Komunis China.” Pihak WSJ menolak tuduhan itu dan menyatakan tetap berpegang pada standar jurnalistik tertinggi.
Kedua pernyataan ini menegaskan arah kebijakan AS yang semakin konfrontatif. Di satu sisi, Trump menggunakan ancaman dagang sebagai alat tekanan politik, sementara di sisi lain, tim ekonominya berupaya menjaga agar volatilitas pasar tidak menggoyahkan strategi. “Trump menyukai pasar saham yang tinggi, tetapi ia percaya pasar yang kuat adalah hasil dari kebijakan yang baik,” ujar Bessent.
Baca Juga
Meski pasar sempat bangkit pada awal pekan, ketidakpastian terus membayangi. Investor kini menanti sinyal baru dari Washington dan Beijing, sementara pelaku pasar global bersiap menghadapi kemungkinan babak baru dalam perang dagang yang belum berakhir.

