Secercah Harapan di Gaza Setelah Dua Tahun Dihantui ‘Perang, Darah dan Air Mata’
Poin Penting
- Ribuan warga Palestina kembali ke rumah mereka yang hancur setelah gencatan senjata Israel-Hamas.
- Presiden AS Donald Trump akan menghadiri KTT internasional di Mesir bersama lebih dari 20 pemimpin dunia untuk menuntaskan peta jalan perdamaian permanen.
- Hamas diharapkan membebaskan sisa sandera Israel, sementara Israel berjanji membebaskan hampir 2.000 tahanan Palestina.
- Meski gencatan senjata memberi harapan, masa depan pengelolaan Gaza dan posisi Hamas masih menjadi batu sandungan terbesar bagi stabilisasi jangka panjang.
GAZA, investortrust.id – Di tengah sisa debu dan reruntuhan bangunan yang porak-poranda, ribuan warga Gaza berjalan kaki menyusuri jalan-jalan pesisir utara pada Sabtu (11/10/2025). Sebagian membawa barang seadanya, sebagian lainnya hanya membawa harapan - bahwa kali ini, perang benar-benar telah berhenti.
Baca Juga
Pasukan Israel Mundur, Warga Gaza Kembali ke Rumah yang Hancur
“Itu perasaan yang tak bisa dijelaskan, Alhamdulillah. Kami sangat bahagia perang ini berakhir, penderitaan kami berakhir,” ucap Nabila Basal, yang berjalan kaki bersama putrinya. Ada luka di kepala putrinya akibat serangan udara beberapa bulan lalu.
Kepulangan mereka terjadi setelah pasukan Israel mundur dari beberapa wilayah di bawah fase pertama kesepakatan yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Upaya diplomasi ini disebut sebagai titik balik dalam konflik dua tahun terakhir yang telah menewaskan lebih dari 67.000 warga Palestina dan membuat sebagian besar Jalur Gaza dalam kehancuran total.
Babak Baru
Presiden AS Donald Trump akan bergabung dengan lebih dari 20 pemimpin dunia dalam KTT di Sharm el-Sheikh, Mesir, Senin mendatang. Pertemuan itu disebut sebagai “langkah terakhir” menuju kesepakatan perdamaian permanen, bagian dari rencana 20 poin Trump yang menargetkan “Gaza pascaperang” di bawah pengawasan internasional.
Baca Juga
Akhiri Perang di Gaza, Trump Ungkap Rencana Perdamaian 20 Poin
Hamas, yang selama ini menolak untuk melucuti senjata, diperkirakan akan membebaskan seluruh sandera Israel sebelum tenggat waktu Senin siang. Sebagai imbalannya, Israel akan membebaskan hampir 2.000 tahanan Palestina, banyak di antaranya ditangkap selama perang berlangsung.
Ratusan truk per hari diperkirakan akan masuk ke Gaza membawa makanan dan bantuan medis. Juru bicara UNICEF, Tess Ingram, mengatakan pada Sabtu bahwa badan anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa itu berharap dapat secara signifikan meningkatkan pasokan makanan berenergi tinggi untuk anak-anak yang mengalami kekurangan gizi, perlengkapan kebersihan perempuan, dan tenda, mulai Minggu.
Antara Euforia dan Ketidakpastian
Di Israel, ribuan warga memenuhi Alun-Alun Sandera di Tel Aviv, tempat dua tahun terakhir dipenuhi protes dan air mata. Sorak-sorai menggema ketika utusan Timur Tengah AS, Steve Witkoff, naik ke panggung bersama Jared Kushner dan Ivanka Trump. “Saya bermimpi tentang malam ini. Ini adalah perjalanan panjang,” ujar Witkoff.
Namun di Gaza, di antara reruntuhan rumah dan kenangan yang sirna, kebahagiaan terasa getir. “Rumahku yang kubangun 40 tahun lalu hilang dalam sekejap,” kata Ahmed al-Jabari. “Saya senang perang berhenti. Tapi ke mana kami harus pergi sekarang?”
Panglima Komando Pusat Militer AS, Laksamana Brad Cooper, yang mendampingi Kepala Staf Militer Israel Eyal Zamir, mengatakan kunjungannya ke Gaza merupakan bagian dari pembentukan satuan tugas internasional untuk mendukung stabilisasi kawasan, tanpa pengerahan pasukan AS di lapangan.
Baca Juga
Gencatan Senjata Gaza Mulai Berlaku, Militer Israel Tarik Pasukan
Meski begitu, tantangan terbesar kini adalah politik pascaperang. Siapa yang akan memerintah Gaza? Bagaimana posisi Hamas diatur dalam tatanan baru? Pertanyaan-pertanyaan itu masih menggantung di udara.
Trump sendiri mengaku optimistis. “Mereka semua sudah lelah berperang,” ujarnya di Gedung Putih. “Ada konsensus tentang langkah berikutnya, tapi beberapa detail masih harus diselesaikan.”
Selain menghadiri KTT di Mesir, Trump juga dijadwalkan berpidato di Knesset, parlemen Israel, selama kunjungannya ke kawasan tersebut — menjadikannya presiden AS pertama yang melakukannya sejak George W. Bush pada 2008. Sebuah langkah simbolik yang menandai ambisinya mengakhiri perang terpanjang dalam sejarah modern Timur Tengah.
Bagi banyak orang, gencatan senjata kali ini bukan sekadar jeda — melainkan ujian. Apakah Gaza akhirnya bisa bernapas bebas setelah dua tahun dalam api dan kehancuran?
Dunia menunggu jawaban, sementara di sepanjang jalan-jalan yang retak di Gaza, ratusan keluarga memulai hidup baru di antara puing-puing — mencoba memercayai bahwa untuk pertama kalinya dalam dua tahun, suara yang mereka dengar bukanlah ledakan, melainkan langkah pulang.

