Pasukan Israel Mundur, Warga Gaza Kembali ke Rumah yang Hancur
Poin Penting
• Ribuan warga Gaza mulai kembali ke rumah mereka setelah gencatan senjata antara Israel dan Hamas mulai berlaku.
• Pasukan Israel menarik diri dari beberapa wilayah Gaza sebagai bagian dari tahap pertama rencana perdamaian Presiden AS Donald Trump.
• Kesepakatan mencakup pembebasan 20 sandera Israel dan 1.950 tahanan Palestina.
• Meski perang dinyatakan berakhir, tantangan besar masih menanti, termasuk masa depan pemerintahan Gaza dan perlucutan senjata Hamas.
YERUSALEM, investortrust.id – Debu beterbangan di jalan-jalan Gaza saat ribuan warga yang mengungsi selama dua tahun terakhir berduyun-duyun kembali menuju rumah mereka yang porak-poranda. Di bawah teriknya matahari siang, arus manusia itu bergerak perlahan ke utara, menuju Kota Gaza — pusat perkotaan terbesar di wilayah yang baru saja dibombardir dalam salah satu ofensif terbesar Israel sejak perang dimulai.
“Alhamdulillah, rumah saya masih berdiri. Tapi lingkungan saya hancur. Rumah-rumah tetangga rata, seluruh distrik lenyap,” cerita Ismail Zayda (40), warga distrik Sheikh Radwan di Kota Gaza, dikutip dari Reuters, Jumat (10/10/2025).
Militer Israel mengumumkan bahwa gencatan senjata resmi berlaku pada pukul 12 siang waktu setempat. Pemerintah Israel meratifikasi perjanjian dengan Hamas pada dini hari Jumat, membuka jalan bagi penarikan pasukan secara bertahap dan penghentian penuh serangan di Gaza dalam 24 jam.
Baca Juga
Gencatan Senjata Gaza Mulai Berlaku, Militer Israel Tarik Pasukan
Sesuai kesepakatan yang difasilitasi oleh Amerika Serikat, Hamas akan membebaskan 20 sandera Israel yang masih hidup dalam waktu 72 jam. Sebagai gantinya, Israel akan melepaskan 250 tahanan Palestina dengan hukuman panjang serta 1.700 warga Gaza yang ditahan selama perang berlangsung.
Setelah kesepakatan dijalankan sepenuhnya, truk-truk bantuan berisi makanan dan obat-obatan akan melintasi perbatasan menuju Gaza. Ratusan ribu warga yang selama ini berlindung di tenda-tenda pengungsian diharapkan mendapat akses pada bantuan kemanusiaan mendesak.
Tahap pertama dari inisiatif perdamaian Presiden Donald Trump menyerukan penarikan pasukan Israel dari beberapa wilayah perkotaan utama, meski separuh wilayah Gaza masih berada di bawah kendali militer Israel.
Baca Juga
Akhiri Perang di Gaza, Trump Ungkap Rencana Perdamaian 20 Poin
Dalam pidato yang disiarkan televisi, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan pasukannya akan tetap berada di Gaza untuk memastikan wilayah itu benar-benar didemiliterisasi dan Hamas dilucuti senjatanya. “Kalau ini bisa dicapai dengan cara mudah, baiklah. Kalau tidak, maka akan kami capai dengan cara sulit,” ujarnya.
Gembira dan Haru di Reruntuhan
Di Khan Younis, Gaza bagian selatan, beberapa pasukan Israel terlihat mundur dari daerah timur dekat perbatasan. Namun dentuman meriam tank masih terdengar. Di kamp pengungsi Nusseirat di pusat Gaza, beberapa posisi militer Israel dibongkar dan pasukan bergerak ke arah timur, meski tembakan sporadis sempat terdengar Jumat dini hari.
Pasukan Israel juga meninggalkan jalan utama di sepanjang pantai Mediterania menuju Kota Gaza.
“Begitu kami mendengar berita tentang gencatan senjata, kami langsung bersiap pulang ke Gaza City,” ujar Mahdi Saqla (40). “Tentu, tidak ada rumah lagi — semuanya sudah hancur. Tapi kami bahagia bisa kembali ke tempat kami dulu tinggal, meskipun hanya di atas puing. Itu pun sudah menjadi kebahagiaan besar. Dua tahun kami menderita, berpindah-pindah tanpa tempat tetap.”
Akhir Perang dan Awal Ketidakpastian
Perang Gaza selama dua tahun telah mengguncang Timur Tengah dan semakin mengisolasi Israel di kancah global. Konflik ini juga memperlemah hubungan Washington–Tel Aviv, dengan Trump yang disebut semakin kehilangan kesabaran terhadap Netanyahu.
Warga di kedua sisi perbatasan, Israel dan Palestina, menyambut lega pengumuman kesepakatan tersebut — langkah paling signifikan untuk mengakhiri perang yang telah menewaskan lebih dari 67.000 warga Palestina dan menahan ratusan sandera sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Khalil Al-Hayya, kepala Hamas di Gaza yang kini hidup di pengasingan, mengatakan ia telah menerima jaminan dari Amerika Serikat dan para mediator internasional bahwa perang benar-benar berakhir.
Meski demikian, rintangan masih membayangi. Daftar tahanan Palestina yang akan dibebaskan belum dipublikasikan. Hamas dikabarkan menuntut pembebasan sejumlah tokoh penting yang dipenjara bertahun-tahun oleh Israel.
Selain itu, beberapa poin penting dalam rencana 20 butir Trump masih belum disepakati, termasuk siapa yang akan memerintah Gaza pascaperang, serta status akhir Hamas yang hingga kini menolak permintaan Israel untuk melucuti senjata.
Kementerian Dalam Negeri yang dikelola Hamas mengatakan pihaknya akan menempatkan pasukan keamanan di wilayah yang telah ditinggalkan oleh militer Israel. Belum jelas apakah para pejuang bersenjata akan kembali muncul di jalan-jalan seperti pada masa gencatan senjata sebelumnya — sebuah langkah yang kemungkinan besar akan dianggap provokatif oleh Israel.
Baca Juga
Trump: Israel dan Hamas Sepakat pada ‘Fase Pertama’ Rencana Akhiri Pertempuran
Misi Perdamaian di Tengah Puing
Presiden Donald Trump dijadwalkan berkunjung ke kawasan Timur Tengah pada Minggu, kemungkinan untuk menghadiri penandatanganan resmi perjanjian di Mesir. Ketua Parlemen Israel, Amir Ohana, bahkan mengundangnya untuk berpidato di Knesset.
Namun di antara rumah-rumah yang rata dan jalan yang tertimbun puing, warga Gaza memulai perjalanan panjang menuju kehidupan yang belum pasti. Harapan bercampur luka, namun bagi mereka, langkah kecil untuk kembali ke rumah — bahkan hanya untuk menyentuh tanah yang dulu mereka miliki — sudah menjadi simbol awal kebebasan setelah dua tahun kegelapan.

