Meta Bakal Gunakan Interaksi AI untuk Atur Iklan dan Konten
Poin Penting
|
CALIFORNIA, investortrust.id - Meta akan mulai memanfaatkan interaksi pengguna dengan fitur kecerdasan buatan (generative AI) untuk mempersonalisasi konten dan iklan di seluruh platform mereka mulai 16 Desember 2025, termasuk Facebook dan Instagram.
Perusahaan menyatakan pengguna akan menerima pemberitahuan tentang kebijakan baru mulai 7 Oktober mendatang. Kebijakan ini hanya berlaku bagi pengguna yang memakai fitur Meta AI dan tidak menyediakan opsi untuk menolak (opt out) perubahan tersebut.
Meta menjelaskan, interaksi pengguna dengan fitur AI, baik melalui suara maupun teks, akan ditambahkan ke data yang sudah ada seperti “likes” dan akun yang diikuti. Informasi tersebut akan digunakan untuk meningkatkan rekomendasi konten seperti Reels serta iklan yang lebih relevan dengan minat pengguna.
Secara singkat, pengguna yang membicarakan aktivitas investasi dengan Meta AI dapat menerima rekomendasi grup komunitas investasi, pembaruan aktivitas teman, atau iklan seputar layanan dan produk investasi.
Baca Juga
Meta Siapkan Skema Patungan dan Jual Aset Rp 33 Triliun Demi Infrastruktur AI
“Interaksi pengguna akan menjadi elemen tambahan untuk mempersonalisasi tampilan feed dan iklan,” ujar Manajer Kebijakan Privasi Meta, Christy Harris dikutip dari Reuters, Kamis (2/10/2025).
Meta menegaskan bahwa percakapan yang menyangkut topik SARA tidak akan digunakan untuk penayangan iklan. Perusahaan menyebutkan proses pengembangan fitur yang memanfaatkan data interaksi ini masih terus berjalan dan akan berkembang seiring waktu.
Penerapan kebijakan baru akan dilakukan secara bertahap di berbagai wilayah, kecuali Inggris, Uni Eropa, dan Korea Selatan. Saat ini, Meta AI telah memiliki sekitar 1 miliar pengguna aktif bulanan yang tersebar di seluruh dunia.
CEO Meta, Mark Zuckerberg mengatakan fokus perusahaan tahun ini adalah memperdalam pengalaman pengguna dan menjadikan Meta AI sebagai asisten pribadi utama. Penekanan akan diarahkan pada personalisasi, percakapan suara, dan fitur hiburan yang lebih interaktif.
Tantangan Industri Media
Di Indonesia sendiri, tren pergeseran belanja iklan ke media sosial diketahui turut menekan pendapatan media konvensional yang selama ini mengandalkan iklan sebagai sumber utama. Namun hingga Oktober 2025, regulasi yang dibahas dalam RUU Penyiaran masih belum rampung.
Ketua Dewan Pers, Komarudin Hidayat sebelumnya juga menyinggung maraknya distribusi iklan yang pindah ke platform media sosial. "Padahal media sosial ini bagus juga, tapi kan banyak sekali hoaks di sana. Kalau sampai media konvensional ditinggalkan, maka pemerintah yang akan rugi," katanya Agustus lalu.

