OPEC+ Akan Tambah Produksi, Harga Minyak Anjlok Lebih dari 3%
Poin Penting
- Harga minyak Brent turun 3,1% ke $67,97/barel, WTI merosot 3,45% ke $63,45.
- OPEC+ diperkirakan tambah produksi 137.000 bph mulai November.
- Aliran minyak Kurdistan ke Turki kembali berjalan hingga 160.000 bph.
- Pasar waspada kelebihan pasokan setelah reli harga akibat serangan Ukraina ke Rusia.
HOUSTON, investortrust.id – Harga minyak global jatuh 3% lebih pada Senin (29/9/2025) setelah OPEC+ memberi sinyal akan kembali menaikkan produksi pada November, ditambah dimulainya kembali ekspor minyak mentah dari Kurdistan Irak melalui jalur pipa ke Turki. Perkembangan ini menambah kekhawatiran pasar akan potensi kelebihan pasokan di tengah melemahnya permintaan global.
Baca Juga
Stok AS Turun, Harga Minyak Melonjak 3% ke Level Tertinggi 7 Pekan
Minyak Brent berjangka turun $2,16 atau 3,1% ke $67,97 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) merosot $2,27 atau 3,45% ke $63,45. Padahal, akhir pekan lalu harga sempat menyentuh level tertinggi sejak 31 Juli.
Tiga sumber, seperti dilansir Reuters, menyebutkan pertemuan OPEC+ pada Minggu mendatang kemungkinan besar akan mengonfirmasi tambahan produksi minimal 137.000 barel per hari untuk November, setelah sebelumnya aliansi itu tercatat memompa hampir 500.000 bph di bawah target.
Kepala ekonom Rystad Energy, Claudio Galimberti, menilai langkah OPEC+ beralih fokus ke pangsa pasar membuat fundamental pasar minyak semakin longgar. Sementara itu, aliran minyak Kurdistan ke pelabuhan Ceyhan, Turki, yang sempat terhenti 2,5 tahun, kembali berjalan di kisaran 150.000–160.000 bph dan berpotensi meningkat hingga 230.000 bph.
“Dengan strategi OPEC+ yang lebih menitikberatkan pangsa pasar, pasar harus bersiap menghadapi pasokan berlebih,” ujar Galimberti.
Baca Juga
OPEC+ Sepakat Tambah Produksi 137.000 bph Oktober, Harga Minyak Berpotensi Melemah
Minggu lalu, harga kedua patokan minyak naik lebih dari 4% setelah serangan drone Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia mengurangi ekspor bahan bakar negara tersebut.
“Ukraina jelas mencium kelemahan di sini. Jika ada, Ukraina kemungkinan akan menggandakan serangan strategisnya terhadap kilang Rusia,” kata analis SEB.
Rusia menggempur Kyiv dan wilayah lain di Ukraina pada Minggu pagi dalam salah satu serangan paling berkelanjutan terhadap ibu kota sejak invasi Moskow pada 2022.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Senin bahwa sudah saatnya kelompok militan Palestina Hamas menerima proposal perdamaian 20 poin yang ia sepakati dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengenai masa depan Gaza.

