Hadapi Tantangan Krisis Global, Ini 2 Strategi Besar Indonesia
Poin Penting
- Indonesia mencatat produksi beras tertinggi sepanjang sejarah, siap ekspor termasuk ke Palestina
- Target jangka panjang: menjadikan Indonesia lumbung pangan dunia
- Permukaan laut naik 5 cm per tahun, pemerintah bangun tanggul laut 480 km selama 20 tahun
- Komitmen iklim: net zero emission 2060, rehabilitasi 12 juta hektar lahan, energi terbarukan mulai dominan tahun depan
JAKARTA, investortrust.id - Indonesia memanfaatkan panggung Sidang Umum PBB di New York untuk menyampaikan dua agenda besar dalam menghadapi tantangan krisis global. Pertama, meningkatkan produksi beras untuk menjawab krisis pangan global. Kedua, melawan krisis iklim lewat pembangunan tanggul laut raksasa.
Baca Juga
Pidato Berapi-api soal Palestina, Prabowo Dihujani Applause di Sidang Umum PBB
Dalam pidatonya yang berapi-api dan mendapat applaus di Markas Besar PBB di New York Amerika Serikat, Selasa (23/9/2025),Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia tidak lagi sekadar penerima bantuan, melainkan siap tampil sebagai penyuplai pangan dunia.
Prabowo menyinggung jumlah penduduk dunia yang semakin banyak. “Planet kita semakin tertekan. Krisis pangan, energi, dan air menghantui banyak bangsa,” ucapnya.
Indonesia memilih menjawab tantangan ini langsung di dalam negeri, sekaligus membantu luar negeri sebisa mungkin.
“Tahun ini, Indonesia mencatat produksi beras dan cadangan pangan tertinggi sepanjang sejarah. Kami kini swasembada beras dan bahkan mengekspor beras ke negara lain yang membutuhkan, termasuk Palestina. Kami membangun rantai pasok pangan tangguh, meningkatkan produktivitas petani, dan berinvestasi pada pertanian ramah iklim. Kami yakin, dalam beberapa tahun mendatang, Indonesia akan menjadi lumbung pangan dunia,” papar Prabowo.
Pernyataan itu menegaskan transformasi Indonesia dari negara agraris yang rentan impor menjadi pemain kunci dalam rantai pasok pangan global. Dengan 280 juta penduduk dan lahan pertanian produktif yang terus ditingkatkan, Indonesia menargetkan diri sebagai lumbung pangan dunia dalam beberapa tahun mendatang.
Ekspor beras juga membawa dimensi geopolitik. Pengiriman beras ke Palestina dipandang bukan hanya bantuan kemanusiaan, melainkan juga simbol solidaritas dan instrumen diplomasi lunak yang memperkuat posisi Indonesia di forum internasional. Beras bisa menjadi instrumen diplomasi Indonesia di kancah global.
Ancaman Nyata Perubahan Iklim
Namun, ketahanan pangan hanyalah satu sisi tantangan. Di sisi lain, Indonesia menghadapi ancaman nyata dari perubahan iklim. Data resmi menunjukkan permukaan laut di pesisir utara Jakarta naik sekitar lima sentimeter per tahun. Jika tren ini berlanjut, kawasan metropolitan sekaligus pusat ekonomi terbesar di Indonesia menghadapi risiko serius dalam dua dekade mendatang.
Untuk menjawab ancaman tersebut, pemerintah menyiapkan proyek tanggul laut raksasa.Pembangunan yang diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua puluh tahun ini diproyeksikan menjadi salah satu proyek pertahanan iklim terbesar di Asia.
Baca Juga
Prabowo Ungkap Alasan Indonesia Bangun Tanggul Laut Raksasa di Sidang Umum PBB
“Sebagai negara kepulauan terbesar, kami merasakan langsung dampak perubahan iklim, khususnya ancaman naiknya permukaan laut. Di pesisir utara ibu kota, permukaan laut naik 5 cm setiap tahun. Bayangkan sepuluh tahun lagi? Dua puluh tahun lagi? Untuk itu kami membangun tanggul laut raksasa sepanjang 480 km. Mungkin butuh 20 tahun, tetapi kami tidak punya pilihan selain memulai sekarang. Kami memilih melawan perubahan iklim bukan dengan slogan, tetapi dengan langkah nyata,” beber Prabowo, yang menyampaikan pidato pada urutan ke-3.
Komitmen Indonesia terhadap isu lingkungan juga sejalan dengan Perjanjian Paris 2015. Pemerintah menargetkan net zero emission pada 2060 atau bahkan lebih cepat. Mulai tahun depan, sebagian besar tambahan kapasitas listrik baru akan dipasok dari energi terbarukan.
“Kami berkomitmen memenuhi Perjanjian Paris 2015. Kami menargetkan net zero emission pada 2060, dan yakin bisa mencapainya lebih cepat. Kami menargetkan rehabilitasi 12 juta hektar lahan terdegradasi dan menciptakan lapangan kerja hijau bagi masyarakat lokal,” kata Prabowo.
Strategi ganda ini, yakni ekspor beras dan pembangunan tanggul laut, merupakan bentuk diplomasi baru Indonesia. Dengan ketahanan pangan yang kian kokoh, Indonesia berpeluang memainkan peran penting sebagai penyangga krisis global. Sementara, pembangunan tanggul laut menunjukkan keseriusan Indonesia dalam menghadapi ancaman iklim yang semakin nyata.
Indonesia sedang membangun identitas baru di panggung internasional. Tidak lagi semata-mata sebagai negara berkembang yang menuntut keadilan global, tetapi juga sebagai penyedia solusi konkret untuk persoalan pangan dan iklim yang dihadapi dunia.

