Abaikan The Fed, Bank Sentral China Tahan Suku Bunga
Poin Penting
- PBOC tahan LPR satu tahun di 3,0% dan lima tahun di 3,5%.
- Keputusan sejalan dengan ekspektasi ekonom, abaikan pemangkasan The Fed.
- Ekspor Agustus hanya tumbuh 4,4%, terendah sejak Februari.
- Pelonggaran moneter terbatas diperkirakan akhir 2025 demi target 5%.
BEIJING, investortrust.id - Tiongkok mempertahankan suku bunga pinjaman acuannya untuk bulan keempat berturut-turut, meskipun bank sentral AS, Federal Reserve, memangkas suku bunga pekan lalu.
Baca Juga
PBOC Pertahankan Bunga Acuan di Tengah Ancaman Tarif dan Perlambatan Ekonomi
People’s Bank of China (PBOC) mempertahankan loan prime rate (LPR) tenor satu tahun di 3,0% dan LPR tenor lima tahun di 3,5%, menurut pernyataan pada Senin (22/9/2025), seperti dikutip CNBC. LPR satu tahun memengaruhi sebagian besar pinjaman baru maupun yang sedang berjalan, sementara LPR lima tahun menjadi acuan dalam penentuan harga kredit pemilikan rumah.
Keputusan tersebut sejalan dengan ekspektasi ekonom bahwa otoritas Tiongkok akan menahan diri dari stimulus besar di tengah reli pasar saham belakangan ini, meskipun serangkaian data ekonomi menunjukkan tanda-tanda kelelahan.
Bank sentral terakhir kali memangkas suku bunga pinjaman utama sebesar 10 basis poin pada Mei sebagai bagian dari upaya Beijing menopang perekonomian. Pada Kamis pekan lalu, PBOC juga mempertahankan suku bunga reverse repo tujuh hari—yang menjadi suku bunga kebijakan utama—tetap, setelah keputusan The Fed memangkas suku bunga sebesar seperempat poin persentase.
Baca Juga
The Fed Pangkas Suku Bunga 25 Bps, Indikasikan Pemotongan Lanjutan
Suku bunga pinjaman acuan—biasanya dikenakan kepada klien bank dengan kualitas terbaik—dihitung setiap bulan berdasarkan usulan suku bunga dari bank-bank komersial tertentu kepada PBOC.
Pertumbuhan ekspor negara itu melambat menjadi 4,4% pada Agustus, menandai laju terendah sejak Februari, seiring meredanya dampak percepatan pengiriman barang dan tekanan kebijakan perdagangan AS yang menargetkan transshipment terhadap ekspor ke negara ketiga.
Para pembuat kebijakan Tiongkok diperkirakan akan meluncurkan pelonggaran moneter secara bertahap pada akhir tahun ini untuk memastikan ekonomi terbesar kedua dunia itu mencapai target pertumbuhan tahunan pemerintah sekitar 5%.

