Pesan Penting Dibalik Kunjungan Prabowo ke Beijing
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Prabowo Subianto akhirnya memilih untuk menghadiri undangan Perayaan 80 Tahun Kemenangan Perang Perlawanan Rakyat China dari Presiden Xi Jinping. Kunjungan Prabowo ke Beijing tersebut menjadi sorotan lantaran dilakukan saat adanya dinamika domestik setelah rentetan gelombang aksi demonstrasi di berbagai wilayah.
Menurut Pengamat Hubungan Internasional sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia South-South Foundation (ISSF), Akbar Azmi Hardjasasmita, keputusan kunjungan ke Beijing itu mencerminkan diplomasi strategis melalui apa yang disebut dengan intersubjective meaning, sebagai cermin dari gaya pemerintahan Prabowo.
"Kehadiran Presiden dalam Parade Peringatan World War II di Beijing bukan sekadar partisipasi seremonial, melainkan upaya sadar untuk membangun makna kolektif tentang Indonesia sebagai aktor global yang dihormati dan relevan," katanya saat dihubungi Investortrust, Rabu (3/9/2025).
Di tengah tekanan domestik dan dinamika geopolitik, Akbar Azmi menilai Prabowo memanfaatkan panggung internasional untuk menegaskan identitas sebagai negara yang mampu menjaga keseimbangan hubungan dengan semua kekuatan adidaya, sekaligus merespons narasi eksternal yang kerap mempertanyakan posisi kepentingan Indonesia.
Seperti diketahui pemerintahan Prabowo memiliki tantangan signifikan dalam konteks domestik yang kini masih bergulir, yakni gelombang demonstrasi besar-besaran yang dipelopori oleh "Gerakan 17/8 Tuntutan Rakyat", yaitu sebuah inisiatif yang muncul di media sosial dan menggalang dukungan luas untuk 17 tuntutan dan 8 isu krusial.
Termasuk di antaranya adalah penolakan revisi UU Pilkada, penurunan harga kebutuhan pokok, penegakan HAM, serta reformasi sistem demokrasi.
Baca Juga
"Fenomena ini menciptakan paradoks krusial, sementara pemerintah secara aktif membangun narasi stabilitas dan pengaruh global melalui diplomasi simbolis, realitas domestik justru menunjukkan ketegangan sosial yang mengemuka secara terbuka," jelasnya.
Magister Universitas Indonesia (UI) itu menuturkan, dalam perspektif konstruktivis, kondisi ini memperkuat kontestasi makna intersubjektif tentang Indonesia, baik di mata publik internasional maupun domestik. Di mana citra 'negara demokratis stabil' yang akan diproyeksikan ke luar, berbenturan dengan gambaran 'negara yang tengah bergolak' akibat unjuk rasa massal yang menuntut perubahan struktural.
Ia melanjutkan, hal ini selaras dengan peran Indonesia sebagai mediator dalam konflik global—seperti diwujudkan melalui inisiatif G20 dan misi perdamaian ke Ukraina-Rusia—yang mengonfirmasi bagaimana makna intersubjektif tentang 'ketenaran" dan "kredibilitas' dibangun melalui pengakuan kolektif komunitas internasional.
Direktur eksekutif ISSF itu meyakini, strategi ini bukan tanpa risiko, namun kontestasi makna dari berbagai aktor (baik domestik maupun internasional) menuntut manajemen narasi yang cermat untuk memastikan legitimasi Indonesia sebagai 'jembatan antar-blok' tetap terjaga.
"Bagi saya, fenomena ini menegaskan bahwa kebijakan luar negeri Indonesia tidak bisa dipahami hanya melalui lensa kekuasaan material (realisme) atau institusi (neoliberalisme), melainkan melalui dinamika konstruksi sosial yang membentuk realitas politik global," tutup dia.
Prabowo Hadiri Perayaan 80 Tahun Kemenangan Perang Perlawanan Rakyat China
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menghadiri Perayaan 80 Tahun Kemenangan Perang Perlawanan Rakyat China yang digelar di Tian’anmen, Beijing, Republik Rakyat China (RRC) pada Rabu (3/9/2025). Kehadiran Presiden Prabowo dalam parade ini menandai partisipasi aktif Indonesia pada momentum bersejarah yang turut dihadiri sejumlah pemimpin dunia.
Setibanya di Tian’anmen, Kepala Negara kemudian menuju leaders lounge dengan berjalan melewati pasukan jajar kehormatan. Sebelum mengikuti sesi foto bersama, Presiden Prabowo disambut hangat oleh Presiden RRT Xi Jinping beserta Madam Peng Liyuan.
Dalam sesi foto bersama, Presiden Prabowo tampak berdiri di sebelah kanan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Hal tersebut memperlihatkan posisi penting dan terhormat Indonesia dalam forum internasional. Usai sesi foto bersama, Presiden Prabowo bersama para pemimpin dunia lainnya kemudian bergerak menuju Tian’anmen Rostrum.
Dari Tian'anmen Rostrum, Presiden Prabowo Subianto duduk berdampingan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Premier Li Qiang tampak menyaksikan dan menikmati gelaran perayaan setiap 10 tahun sekali ini. Pada momen perayaan tahun ini, sebanyak 26 pemimpin setingkat kepala negara atau kepala pemerintahan hadir, nampak di antaranya Presiden Belarus Aleksandr Lukashenko dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim.

