Di Atas Ekspektasi, Ekonomi Australia Q2-2025 Tumbuh 1,8% YoY
Poin Penting
- PDB Australia tumbuh 1,8% yoy pada Q2, di atas ekspektasi 1,6% dan tercepat sejak September 2023.
- Konsumsi rumah tangga dan pemerintah jadi motor utama, meski investasi publik melemah.
- Inflasi melandai ke 2,1%, terendah sejak 2021, memberi ruang bagi pelonggaran moneter.
- RBA optimistis meski menurunkan proyeksi pertumbuhan 2025 ke 1,7% dari 2,1%.
CANBERRA, investortrust.id - Ekonomi Australia mencatat laju pertumbuhan tercepat dalam hampir dua tahun terakhir, menambah optimisme bahwa pemulihan masih berlanjut meski bayang-bayang ketidakpastian global belum sepenuhnya sirna.
Baca Juga
Di Bawah Perkiraan, Pertumbuhan PDB Australia Kuartal I Hanya 1,3% YoY
PDB negara Kanguru itu tumbuh 1,8% secara tahunan, lebih tinggi dari perkiraan 1,6% menurut jajak pendapat ekonom oleh Reuters, dan lebih tinggi dari 1,3% yang terlihat pada kuartal sebelumnya. Secara kuartalan, PDB Australia tumbuh 0,6%, dibandingkan dengan perkiraan 0,5% dalam jajak pendapat Reuters.
Data dari Biro Statistik Australia, yang dirilis Rabu (3/9/2025), menyebutkan bahwa pertumbuhan didorong oleh belanja domestik, termasuk konsumsi rumah tangga dan pemerintah.
Namun, permintaan publik stagnan karena investasi publik turun 0,2 poin persentase, meniadakan kenaikan 0,2 poin persentase pada belanja pemerintah. Perdagangan neto berkontribusi secara moderat terhadap pertumbuhan, dipimpin oleh ekspor komoditas pertambangan.
“Meskipun ketidakpastian global meningkat, tidak terlalu membebani perekonomian pada kuartal kedua, hal ini mungkin “menjadi titik tertinggi pertumbuhan di 2025,” tulis Sean Langcake, Kepala Peramalan Makroekonomi di Oxford Economics, dalam sebuah catatan setelah rilis data.
Ia mengatakan kepercayaan bisnis dan konsumen tetap “sedikit rapuh,” pasar tenaga kerja tampak mulai melambat, dan dukungan biaya hidup berangsur-angsur berkurang.
“Kami memperkirakan pertumbuhan yang stabil, tetapi tidak spektakuler, sepanjang paruh kedua tahun ini,” tambah Langcake, seperti dikutip CNBC.
Data PDB ini dirilis setelah Bank Sentral Australia memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,6% dalam kebijakan moneter terbarunya pada Agustus, dan juga menyampaikan nada yang lebih optimistis dalam pernyataan kebijakan moneternya.
Baca Juga
Waspadai Dampak Tarif Trump, Australia Pangkas Bunga ke Level Terendah dalam 2 Tahun
Bank sentral menyatakan bahwa meskipun ketidakpastian dalam perekonomian dunia tetap tinggi, ada sedikit kejelasan mengenai ruang lingkup dan skala tarif AS serta respons kebijakan di negara lain, yang berarti hasil yang lebih ekstrem kemungkinan dapat dihindari.
Australia dikenai tarif dasar 10% oleh Presiden AS Donald Trump, yang menurut laporan, disambut oleh menteri perdagangan negara tersebut sebagai sebuah “pembenaran” bagi negosiasi pemerintah.
“Secara domestik, permintaan swasta tampaknya telah pulih secara bertahap, pendapatan rumah tangga riil meningkat, dan beberapa ukuran kondisi keuangan telah melonggar,” tambah RBA.
Namun, bank tersebut juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun ini menjadi 1,7% dari 2,1%, dengan alasan kenaikan permintaan publik yang lebih lemah dari perkiraan pada awal 2025 tidak mungkin dapat diimbangi sepanjang sisa tahun ini.
Penurunan proyeksi pertumbuhan PDB ini lebih disebabkan oleh prospek pertumbuhan produktivitas yang lebih rendah, bukan gangguan perdagangan, kata bank sentral.
Inflasi di Australia tercatat 2,1% pada kuartal kedua, terendah sejak Maret 2021 dan mendekati batas bawah target inflasi RBA sebesar 2%-3%.
Analis dari Bank of America menyebut dalam catatan 28 Agustus bahwa kepercayaan konsumen dan bisnis mulai meningkat seiring kondisi keuangan yang lebih longgar mendukung permintaan swasta.
Menurut survei Westpac-Melbourne Institute yang dirilis pada 19 Agustus, sentimen konsumen Australia melonjak 5,7% menjadi 98,5 pada Agustus, level tertingginya dalam lebih dari 3 tahun, catat BofA. Pembacaan di atas 100 menunjukkan kepercayaan konsumen positif, dengan lebih banyak optimis dibanding pesimis, sementara pembacaan di bawah menunjukkan pesimisme.
“Rangkaian panjang pesimisme konsumen ini mungkin akhirnya akan berakhir,” kata Matthew Hassan, Kepala Peramalan Makro Australia di Westpac.

