Pasar Obligasi AS Bergolak Usai Trump Copot Lisa Cook dari The Fed
Poin Penting
- Imbal hasil Treasury jangka pendek turun, sementara jangka panjang naik setelah Trump memecat Gubernur The Fed Lisa Cook.
- Pasar menilai langkah Trump mengikis independensi The Fed dan memberi sinyal ke arah penurunan suku bunga.
- Lisa Cook menolak mengundurkan diri dan akan menggugat, menyebut presiden tidak memiliki kewenangan hukum.
- Investor menunggu data inflasi PCE sebagai acuan arah kebijakan moneter di tengah gejolak politik.
NEW YORK, investortrust.id - Pasar obligasi AS bergejolak pada Selasa (26/8/2025) setelah Presiden Donald Trump secara mengejutkan mengumumkan pemecatan Gubernur Federal Reserve, Lisa Cook. Langkah ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai independensi bank sentral di tengah dinamika politik Washington.
Baca Juga
Trump Pecat Lisa Cook dari The Fed Terkait Tuduhan Pernyataan Palsu dalam Formulir Hipotek
Imbal hasil obligasi 2 tahun anjlok lebih dari 4 basis poin ke 3,685%, sedangkan yield tenor 30 tahun justru naik 2 basis poin menjadi 4,911%. Yield 10 tahun turun tipis ke 4,26%. Pergerakan ini membuat kurva imbal hasil semakin curam, mencerminkan ekspektasi pasar bahwa suku bunga akan turun dalam jangka pendek, namun tetap tinggi dalam jangka panjang.
Trump menuding Cook melakukan “pernyataan palsu” dalam perjanjian hipoteknya, merujuk tuduhan yang disampaikan Direktur Federal Housing Finance Agency, Bill Pulte. Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump mengumumkan pemecatan tersebut.
Cook, perempuan kulit hitam pertama yang menjadi Gubernur The Fed, dengan tegas menolak mundur. “Trump berpura-pura memecat saya ‘dengan alasan’ padahal tidak ada dasar hukum. Ia tidak memiliki kewenangan untuk itu,” tegas Cook dalam pernyataan resminya. Kuasa hukumnya memastikan akan menggugat keputusan tersebut.
Baca Juga
“Trump secara efektif telah merebut fungsi forward guidance The Fed, memberi sinyal langsung ke pasar bahwa suku bunga lebih rendah akan datang,” ujar Jamie Cox, Managing Partner Harris Financial Group, seperti dikutip CNBC. “Itu yang mendorong obligasi jangka pendek jatuh seperti batu,” tambahnya.
Dampaknya, dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang utama. Investor juga menilai, langkah politik Trump ini bisa membuat The Fed kurang agresif menghadapi inflasi di masa depan, sehingga imbal hasil obligasi jangka panjang justru cenderung turun.
Selain faktor politik, pasar turut merespons data ekonomi yang positif. Pesanan barang tahan lama Juli tercatat lebih kuat dari perkiraan, sementara indeks kepercayaan konsumen Agustus juga melampaui ekspektasi. Kini perhatian beralih pada rilis indeks harga PCE—indikator inflasi favorit The Fed—yang akan menjadi kunci arah kebijakan moneter ke depan.

