Wall Street Bangkit dari Pelemahan Ekstrem, Dow Melejit Hampir 600 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Bursa saham AS berbalik menguat tajam pada Senin waktu AS atau Selasa (5/8/2025) WIB. Pekan lalu, Wall Street tertekan akibat data tenaga kerja yang mengecewakan dan kekhawatiran baru terkait kebijakan tarif Presiden Donald Trump. Dow Jones Industrial Average melonjak hampir 600 poin, sedangkan S&P 500 dan Nasdaq mencetak reli satu hari terbaik dalam dua bulan terakhir.
Baca Juga
Wall Street Ambles Dipicu Data Tenaga Kerja AS dan Tarif Trump, Dow Anjlok Hampir 550 Poin
Indeks Dow Jones Industrial Average melesat 585,06 poin, atau 1,34 persen, menjadi 44.173,64 dan menghapus aksi jual besar yang terjadi pada hari Jumat. S&P 500 naik 1,47 persen menjadi 6.329,94, mengakhiri tren penurunan selama empat hari dan mencatatkan sesi terbaik sejak bulan Mei. Nasdaq Composite melonjak 1,95 persen dan ditutup di level 21.053,58.
"Hari ini semacam hari pantulan balik. Saham cenderung naik setelah penurunan, jadi itulah yang terjadi," ujar Sam Stovall, kepala strategi investasi di CFRA Research, seperti dikutip CNBC.
"Kita harus menunggu dan melihat apa yang terjadi besok, karena bisa saja investor berpikir, 'Kita sebaiknya merealisasikan sebagian keuntungan ini'," tambahnya.
Saham-saham dilepas pada hari Jumat setelah laporan pekerjaan yang lebih lemah dari perkiraan, yang juga mencakup revisi besar terhadap data ketenagakerjaan Mei dan Juni. Tak lama setelah laporan itu dirilis, Presiden Donald Trump memecat kepala Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS). Trump kemudian mengatakan akan segera menunjuk pejabat BLS yang baru dalam beberapa hari ke depan.
Baca Juga
Data Tenaga Kerja AS Mengecewakan, Trump Pecat Pejabat Biro Statistik
Kekhawatiran atas tarif baru yang dimodifikasi oleh Trump juga mengguncang pasar. Akhir pekan lalu, Trump menandatangani perintah eksekutif yang memperbarui tarif "resiprokal"-nya terhadap puluhan mitra dagang AS, mulai dari Suriah hingga Taiwan, dengan besaran tarif baru antara 10 persen hingga 41 persen.
Dengan minimnya data ekonomi yang dirilis pekan ini, investor akan mencermati setiap perkembangan perdagangan antara AS dan Tiongkok setelah pejabat tinggi kedua negara bertemu di Stockholm, Swedia, pekan lalu. Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan kepada CNBC pada hari Kamis bahwa mereka sedang “menyusun kerangka kesepakatan."
Investor juga menantikan laporan kinerja keuangan emiten pekan ini. Palantir dijadwalkan merilis hasil keuangan setelah pasar tutup hari Senin, dan AMD akan melaporkan kinerjanya pada hari Selasa.
Pasar kini bersiap menghadapi bulan yang secara historis lemah. Bulan Agustus merupakan bulan terburuk bagi Dow Jones Industrial Average sejak data tahun 1988, dan bulan terburuk kedua untuk S&P 500 dan Nasdaq Composite, menurut Stock Trader’s Almanac.

