Tuduh Kamboja Langgar Gencatan Senjata, Ini Ancaman Thailand
Poin Penting
|
BANGKOK, investortrust.id – Hubungan antara Thailand dan Kamboja kembali diuji setelah militer Thailand menuduh pasukan Kamboja melanggar gencatan senjata pada Rabu pagi (30/7/2025). Insiden ini terjadi kurang dari 48 jam setelah kesepakatan damai yang dimediasi oleh Malaysia dan didukung langsung oleh Presiden AS Donald Trump.
Baca Juga
Prabowo Apresiasi Peran PM Malaysia Anwar Ibrahim Mediasi Konflik Thailand-Kamboja
Militer Thailand menuduh pasukan Kamboja melanggar perjanjian gencatan senjata di tiga lokasi terpisah di sepanjang perbatasan yang disengketakan. Militer Thailand memperingatkan bahwa agresi yang terus berlanjut dapat memaksa pasukan Thailand untuk memberikan respons yang lebih tegas.
Kedua pemerintah sepakat pada perjanjian gencatan senjata yang dimediasi di Malaysia dan mulai berlaku pada tengah malam Senin. Kesepakatan ini bertujuan untuk menghentikan pertempuran dan mencegah eskalasi dari konflik paling mematikan antara keduanya dalam lebih dari satu dekade, setelah lima hari pertempuran sengit yang telah menewaskan sedikitnya 43 orang dan membuat lebih dari 300.000 warga sipil di kedua sisi perbatasan mengungsi.
Gencatan senjata tercapai setelah upaya diplomatik berkelanjutan dari Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang sebelumnya memperingatkan para pemimpin Thailand dan Kamboja bahwa pertempuran harus dihentikan.
Thailand dan Kamboja saat ini menghadapi tarif sebesar 36% atas produk ekspor mereka ke Amerika Serikat, pasar ekspor terbesar bagi kedua negara, kecuali jika mereka berhasil menegosiasikan pengurangan tarif. Setelah kesepakatan gencatan senjata tercapai, Trump mengatakan bahwa ia telah berbicara dengan kedua pemimpin dan menginstruksikan tim perdagangannya untuk memulai pembicaraan tarif.
Pada Rabu, pihak Thailand menyatakan bahwa pasukan Kamboja telah melepaskan tembakan ke posisi-posisi di Provinsi Sisaket, Thailand timur laut, yang berbatasan dengan Kamboja utara.
“Pasukan Kamboja menggunakan senjata ringan dan peluncur granat, yang mendorong Thailand untuk merespons dalam rangka membela diri,” ujar juru bicara militer Thailand, Mayor Jenderal Winthai Suvaree, kepada wartawan, dikutip dari Reuters.
“Ini merupakan insiden kedua sejak perjanjian, dan mencerminkan perilaku yang tidak menghormati kesepakatan, merusak upaya de-eskalasi, dan menghambat kepercayaan antara kedua negara,” tambahnya.
Kamboja menolak tuduhan tersebut, menyatakan bahwa mereka berkomitmen terhadap gencatan senjata dan menyerukan pengawasan independen.
“Kamboja dengan tegas menolak tuduhan pelanggaran gencatan senjata yang tidak benar, menyesatkan, dan merugikan proses pembangunan kepercayaan yang masih rapuh,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Kamboja, Chum Sounry, dalam konferensi pers. Ia menambahkan bahwa pemerintah mendukung adanya mekanisme pemantauan dan observasi independen.
Baca Juga
Perang Thailand–Kamboja: Jejak Sengketa Era Kolonial, dan Krisis Regional 2025
Gencatan senjata yang juga mencakup kesepakatan untuk menghentikan pergerakan pasukan ini membuka jalan bagi pertemuan militer tingkat tinggi yang mencakup menteri pertahanan pada 4 Agustus mendatang di Kamboja. Belum ada laporan mengenai tembakan artileri berat, namun juga belum ada tanda-tanda penarikan pasukan dari kedua belah pihak.

