Wall Street Tunggu Keputusan The Fed, Investor Cenderung ‘Wait and See’
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Indeks saham utama Wall Street bergerak di kisaran sempit pada perdagangan Senin waktu AS atau Selasa (29/7/2025) WIB. Pasar cenderung menahan diri jelang pekan krusial yang dipenuhi laporan keuangan raksasa teknologi dan keputusan suku bunga Federal Reserve.
Baca Juga
The Fed Pertahankan Suku Bunga, Soroti Ancaman Risiko Inflasi dan Pengangguran
Indeks S&P 500 naik tipis 0,02% dan ditutup di 6.389,77. Indeks luas ini sempat mencetak rekor tertinggi baru tak lama setelah bel pembukaan, namun hanya naik 0,2% di puncak sesi karena antusiasme pasar terhadap kesepakatan dengan UE cenderung terbatas.
Dow Jones Industrial Average turun 64,36 poin, atau 0,14%, menjadi 44.837,56. Nasdaq Composite naik 0,33% dan ditutup di 21.178,58. Indeks yang didominasi saham teknologi itu juga mencetak rekor baru.
Investor tengah bersiap menghadapi banyak rilis data penting, termasuk pekan tersibuk musim laporan keuangan, keputusan suku bunga The Fed, serta laporan ketenagakerjaan Jumat. Lebih dari 150 perusahaan dalam indeks S&P 500 dijadwalkan merilis kinerja kuartalannya, termasuk perusahaan-perusahaan “Magnificent Seven” seperti Meta Platforms dan Microsoft pada Rabu, diikuti oleh Amazon dan Apple pada Kamis. Investor akan mencermati komentar perusahaan terkait belanja kecerdasan buatan (AI) untuk menilai apakah investasi besar ke penyedia layanan hyperscale tahun ini memang layak.
The Fed juga akan menggelar pertemuan kebijakan selama dua hari yang berakhir pada Rabu. Meski bank sentral diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan jangka pendeknya pada kisaran target 4,25% hingga 4,5%, pelaku pasar akan mencari sinyal apakah pemangkasan suku bunga mungkin dilakukan pada pertemuan September.
Pada Jumat, investor juga akan mencermati laporan ketenagakerjaan bulan Juli guna mengukur kesehatan ekonomi. Laporan tersebut diperkirakan menunjukkan adanya tambahan 102.000 lapangan kerja pada Juli, turun dari 147.000 di bulan Juni. Hari Jumat juga merupakan tenggat waktu yang ditetapkan Presiden Donald Trump bagi mitra dagang untuk mulai membayar tarif impor.
“Dengan pasar terus menembus rekor tertinggi dan volatilitas turun ke level terendah sejak Februari, dua tantangan utama bagi investor saat ini adalah rasa puas diri dan keinginan untuk ikut-ikutan mengejar pasar. Meskipun ada perkembangan positif di sektor perdagangan, dampak penuh dari tarif tetap menjadi tanda tanya,” beber Daniel Skelly, direktur pelaksana di Morgan Stanley Wealth Management, seperti dikutip CNBC.
Baca Juga
Pada Minggu, Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa AS telah mencapai kesepakatan dengan Uni Eropa untuk menurunkan tarif menjadi 15%. Sebelumnya, presiden sempat mengancam akan memberlakukan tarif sebesar 30% terhadap sebagian besar barang impor dari mitra dagang terbesarnya. Pada Senin, Trump mengatakan bahwa tarif dasar global bagi negara-negara yang belum merundingkan ulang perjanjian dagang dengan AS kemungkinan akan berada di kisaran 15% hingga 20%.
“Minggu ini adalah minggu yang diimpikan sekaligus ditakuti oleh para trader. Ada begitu banyak kejutan yang bisa terjadi,” kata Jay Woods, kepala strategi global di Freedom Capital Markets. “Apa yang akan menjadi berita utama terbesar — keputusan FOMC atau konferensi pers Ketua The Fed?”
Data ekonomi lainnya yang akan dirilis pekan ini mencakup Survei Pembukaan Lapangan Kerja dan Perputaran Tenaga Kerja (JOLTS) pada Selasa, laporan ketenagakerjaan sektor swasta ADP pada Rabu, dan klaim pengangguran mingguan pada Kamis.

