Tarif Trump dan Inflasi Tekan Wall Street, tapi Nasdaq Malah Cetak Rekor
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS tertekan pada Selasa waktu AS atau Rabu (16/7/2025) WIB. Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok karena kekhawatiran terhadap inflasi AS dan laporan laba dari bank-bank besar yang beragam. Tapi, Nasdaq Composite malah cetak rekor karena mendapat dorongan dari kenaikan saham Nvidia.
Baca Juga
Dow, yang terdiri dari 30 saham, jatuh 436,36 poin atau 0,98% dan ditutup di 44.023,29. S&P 500 turun 0,40% dan ditutup di 6.243,76, melemah dari rekor tertinggi yang dicapai sebelumnya pada sesi tersebut. Nasdaq justru unggul, naik 0,18% dan mencatat penutupan rekor di 20.677,80. Indeks yang sarat saham teknologi ini terbantu oleh kenaikan 4% saham Nvidia setelah perusahaan chip itu mengatakan berharap “segera” melanjutkan pengiriman GPU H20 ke Tiongkok.
Data inflasi bulan Juni yang dirilis Selasa menunjukkan kenaikan dari level Mei, meskipun angka utama sesuai dengan ekspektasi. Indeks harga konsumen naik 0,3% dalam sebulan, sehingga tingkat inflasi tahunan berada di 2,7%, sesuai dengan jajak pendapat konsensus dari Dow Jones. CPI inti, yang tidak memasukkan harga makanan dan energi, tumbuh 0,2% per bulan, sedikit di bawah ekspektasi. Secara tahunan, inflasi inti naik 2,9%, sesuai dengan perkiraan.
Angka ini memicu kekhawatiran terhadap dampak tarif Presiden Donald Trump. Trump pada Sabtu mengatakan bahwa AS akan memberlakukan tarif 30% terhadap barang-barang dari Uni Eropa dan Meksiko mulai 1 Agustus.
Baca Juga
Perang Dagang Memanas, Trump Patok Tarif 30% Ke Uni Eropa dan Meksiko Mulai 1 Agustus 2025
“Laporan inflasi AS terbaru secara praktis mengonfirmasi bahwa tarif Trump mendorong kenaikan harga konsumen pada bulan Juni,” beber Matthew Ryan, kepala strategi pasar di perusahaan jasa keuangan global Ebury, seperti dikutip CNBC.
“Meskipun angka inti sedikit meleset, baik inflasi utama maupun inflasi inti kini berada di level tertinggi dalam empat bulan terakhir. Kekhawatiran besar bagi para pejabat The Fed adalah bahwa tantangan yang lebih besar akan datang, karena bukan hanya ada jeda waktu antara tarif dan dampaknya terhadap harga, tetapi kenaikan tarif tambahan pada 1 Agustus hampir pasti akan memicu tekanan inflasi lebih lanjut,” urai Ryan.
Skyler Weinand, Chief Investment Officer di Regan Capital, mengatakan bahwa laporan CPI yang sesuai ekspektasi memang memberi sedikit kelegaan, tetapi “sangat mungkin bahwa ledakan inflasi akibat tarif akan segera datang.”
Dari sisi laba, laporan dari sejumlah raksasa keuangan gagal meyakinkan investor.
Wells Fargo mencatat laba yang melebihi ekspektasi, tetapi penurunan panduan pendapatan bunga bersih membuat sahamnya turun lebih dari 5%. Saham JPMorgan Chase sedikit turun meskipun bank tersebut membukukan hasil kuartal kedua yang lebih baik dari perkiraan, didorong oleh pendapatan perdagangan dan perbankan investasi yang kuat. Manajer aset BlackRock turun hampir 6% karena meleset dalam pendapatan kuartalan.
Citigroup menjadi pengecualian dari tren negatif sektor keuangan, naik lebih dari 3% setelah melampaui ekspektasi laba kuartal kedua.
Wall Street berharap musim laporan laba kuartal kedua akan mendorong pasar saham yang saat ini sudah mendekati rekor tertinggi. Namun ekspektasi tetap rendah menjelang rilis tersebut. S&P 500 diperkirakan akan mencatat pertumbuhan laba gabungan sebesar 4,3% secara tahunan, menurut data FactSet. Itu akan menjadi tingkat pertumbuhan terendah bagi indeks tersebut sejak kuartal IV 2023.

