Kesepakatan Terbaru, Trump Tetapkan Tarif 19% atas Produk Indonesia
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id - Presiden AS Donald Trump mengumumkan akan memberlakukan tarif 19% atas barang-barang dari Indonesia berdasarkan kesepakatan baru. Angka ini lebih rendah dari tarif yang ditetapkan sebelumnya sebesar 32%.
Baca Juga
Trump Umumkan Tarif Baru hingga 40% ke 14 Negara, Indonesia Termasuk
Kesepakatan ini merupakan salah satu dari sedikit kesepakatan yang telah dicapai oleh pemerintahan Trump menjelang tenggat 1 Agustus. Kesepakatan ini dicapai saat mitra dagang utama AS — Uni Eropa — bersiap mengambil tindakan pembalasan jika perundingan dengan Washington gagal.
Trump menjabarkan, kesepakatan dengan Indonesia memiliki garis besar mirip dengan pakta yang baru-baru ini dicapai dengan Vietnam, yakni tarif tetap atas ekspor ke AS sebesar dua kali lipat dari tarif 10% saat ini dan tanpa bea atas ekspor AS ke Indonesia. Kesepakatan ini juga mencakup tarif penalti untuk barang-barang transhipment dari China via Indonesia, serta komitmen untuk membeli sejumlah barang dari AS.
“Mereka akan membayar 19% dan kita tidak membayar apa pun... kita akan memiliki akses penuh ke Indonesia, dan kita memiliki beberapa kesepakatan seperti ini yang akan diumumkan,” kata Trump di luar Kantor Oval, dikutip dari Reuters, Rabu (16/7/2025), Selain itu, Trump kemudian mengatakan di platform Truth Social bahwa Indonesia telah sepakat membeli produk energi AS senilai $15 miliar, produk pertanian AS sebesar $4,5 miliar, dan 50 pesawat jet Boeing, meskipun tidak ada kerangka waktu yang ditentukan untuk pembelian tersebut.
Sebelumnya, Trump sudah membuat pengumuman melalui sosial media, Truthsocial, soal kesepakatan itu. “Kesepakatan besar untuk semua orang, baru saja membuat kesepakatan dengan Indonesia. Saya membuat kesepakatan langsung dengan Presiden mereka yang paling dihormati. Detailnya menyusul,” tulis Trump.
Baca Juga
Upaya Negosiasi
Pekan lalu, Trump mengumumkan akan tetap mengenakan tarif impor sebesar 32% kepada Indonesia. Melalui suratnya ke Presiden Prabowo tanggal 7 Juli 2025, Trump rencananya akan memberlakukan tarif impor itu mulai 1 Agustus 2025.
Kendati demikian, pemerintah mengupayakan diplomasi perdagangan dengan AS. Dua hari setelah surat itu, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto diminta Prabowo untuk bertemu dengan perwakilan AS.
Airlangga bertemu dengan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick dan United Trade Representative (USTR) Jamieson Greer di Washington DC. Perundingan intensif ditempuh untuk memastikan hasil terbaik bagi kedua belah pihak.
“Kita sudah memiliki pemahaman yang sama dengan AS terkait progress perundingan. Kita akan mengoptimalkan waktu dalam tiga pekan ke depan untuk secara intensif merundingkan lebih lanjut dan menuntaskan perundingan tarif ini dengna prinsip saling menguntungkan,” kata Airlangga dikutip di laman resmi Kemenko Perekonomian.
Airlangga menegaskan hubungan Indonesia dan AS selama ini sudah terjalin sangat baik dan akan terus diperkuat. Ini ditunjukkan dengan nota kesepahaman antara perusahaan energi dan pertanian Indonesia dan AS.
“Untuk pembelian produk unggulan AS dan mendorong peningkatan investasi,” ucap dia.
Indonesia dan AS juga melihat potensi besar untuk memperluas kembali kerja sama di sektor strategis seperti mineral kritis.
“Pihak AS menunjukkan ketertarikan yang kuat untuk mendorong kemitraan di bidang critical minerals. Indonesia memiliki cadangan besar nikel, mangan, kobalt, dan tembaga. Kita perlu mengoptimalkan potensi kerjasama dan investasi dalam pengolahan critical minerals tersebut bersama-sama,” ucap dia.
Perdagangan RI-AS
Total perdagangan Indonesia dengan AS — mencapai hampir $40 miliar pada 2024 — tidak termasuk dalam 15 besar mitra dagang AS, tetapi telah tumbuh. Ekspor AS ke Indonesia naik 3,7% tahun lalu, sementara impor dari Indonesia naik 4,8%, menghasilkan defisit perdagangan barang bagi AS hampir $18 miliar.
Kategori impor utama AS dari Indonesia, menurut data Biro Sensus AS yang diambil dari alat TradeMap milik International Trade Centre, tahun lalu meliputi minyak sawit, peralatan elektronik termasuk router data dan switch, alas kaki, ban mobil, karet alam, dan udang beku.
Susiwijono Moegiarso, pejabat senior Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, mengatakan kepada Reuters melalui pesan teks: “Kami sedang menyiapkan pernyataan bersama antara AS dan Indonesia yang akan menjelaskan besaran tarif timbal balik untuk Indonesia, termasuk kesepakatan tarif, non-tarif, dan pengaturan komersial. Kami akan segera menginformasikan ke publik.”
Trump sebelumnya mengancam Indonesia dengan tarif sebesar 32% yang akan berlaku efektif 1 Agustus, melalui surat yang dikirim ke presiden Indonesia pekan lalu. Ia mengirim surat serupa ke sekitar dua lusin mitra dagang bulan ini, termasuk Kanada, Jepang, dan Brasil, menetapkan tarif menyeluruh antara 20% hingga 50%, serta tarif 50% atas tembaga.
Tenggat 1 Agustus memberi waktu kepada negara-negara tersebut untuk menegosiasikan kesepakatan yang dapat menurunkan tarif yang diancamkan. Beberapa investor dan ekonom juga mencatat pola Trump yang kerap mundur dari ancaman tarifnya.
Sejak meluncurkan kebijakan tarifnya, Trump hanya menandatangani beberapa kesepakatan meskipun timnya mengklaim berupaya mencetak “90 kesepakatan dalam 90 hari.” Sejauh ini, kesepakatan kerangka telah dicapai dengan Inggris dan Vietnam, dan kesepakatan sementara dengan China berhasil mencegah tarif Trump yang paling tajam sembari perundingan antara Washington dan Beijing terus berlanjut.
Trump mengatakan perundingan dengan India juga bergerak ke arah serupa.
“India pada dasarnya sedang bekerja dalam jalur yang sama. Kita akan mendapat akses ke India. Dan Anda harus mengerti, kita tidak memiliki akses ke negara-negara ini. Orang-orang kita tidak bisa masuk. Dan sekarang kita mendapat akses karena apa yang kita lakukan dengan tarif,” katanya.

