Donald Trump Kantongi Kesepakatan Tarif dengan Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan telah memiliki kesepakatan tarif resiprokal dengan Indonesia. Kesepakatan ini ditempuh setelah Trump berbicara dengan Presiden Prabowo Subianto.
Pengumuman ini disampaikan Trump melalui sosial media, Truthsocial, Selasa (15/7/2026).
“Kesepakatan besar untuk semua orang, baru saja membuat kesepakatan dengan Indonesia. Saya membuat kesepakatan langsung dengan Presiden mereka yang paling dihormati. Detailnya menyusul,” tulis Trump.
Sebelum munculnya kesepakatan ini, Trump mengumumkan akan tetap mengenakan tarif impor sebesar 32% kepada Indonesia. Melalui suratnya ke Prabowo tanggal 7 Juli 2025, Trump rencananya akan memberlakukan tarif impor itu mulai 1 Agustus 2025.
Kendati demikian, pemerintah mengupayakan diplomasi perdagangan dengan AS. Dua hari setelah surat itu, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto diminta Prabowo untuk bertemu dengan perwakilan AS.
Airlangga bertemu dengan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick dan United Trade Representative (USTR) Jamieson Greer di Washington DC. Perundingan intensif ditempuh untuk memastikan hasil terbaik bagi kedua belah pihak.
Baca Juga
Tarif Trump Masih Bisa Dinegosiasikan, Wall Street Bergerak Positif
“Kita sudah memiliki pemahaman yang sama dengan AS terkait progress perundingan. Kita akan mengoptimalkan waktu dalam tiga pekan ke depan untuk secara intensif merundingkan lebih lanjut dan menuntaskan perundingan tarif ini dengna prinsip saling menguntungkan,” kata Airlangga dikutip di laman resmi Kemenko Perekonomian.
Airlangga menegaskan hubungan Indonesia dan AS selama ini sudah terjalin sangat baik dan akan terus diperkuat. Ini ditunjukkan dengan nota kesepahaman antara perusahaan energi dan pertanian Indonesia dan AS.
“Untuk pembelian produk unggulan AS dan mendorong peningkatan investasi,” ucap dia.
Indonesia dan AS juga melihat potensi besar untuk memperluas kembali kerja sama di sektor strategis seperti mineral kritis.
“Pihak AS menunjukkan ketertarikan yang kuat untuk mendorong kemitraan di bidang critical minerals. Indonesia memiliki cadangan besar nikel, mangan, kobalt, dan tembaga. Kita perlu mengoptimalkan potensi kerjasama dan investasi dalam pengolahan critical minerals tersebut bersama-sama,” ucap dia.

