Presiden Lula Sebut BRICS sebagai Pewaris Semangat Konferensi Bandung 1955
Poin Penting
|
RIO DE JANEIRO, Investortrust.id – Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva menyampaikan bahwa BRICS adalah pewaris dari semangat Konferensi Bandung 1955, yang menolak pembagian dunia ke dalam zona pengaruh dan memperjuangkan tatanan internasional yang multipolar, adil, dan berdaulat. Pernyataan tersebut disampaikan Lula dalam pidato pembukaan KTT BRICS ke-17 di Museum Seni Modern (MAM) Rio de Janeiro, Minggu (6/7/2025).
“Sepuluh tahun setelah berdirinya PBB, Konferensi Bandung menolak pembagian dunia ke dalam zona pengaruh dan memperjuangkan tatanan internasional multipolar. BRICS adalah pewaris Gerakan Non-Blok,” ujar Lula, seperti ditayangkan dalam youtube Sekretariat Presiden RI. Ia menggarisbawahi bahwa platform BRICS tidak hanya berfungsi sebagai forum ekonomi, tetapi juga sebagai pilar diplomasi global yang mengusung prinsip-prinsip keadilan dan kedaulatan.
Presiden Lula juga mengingatkan bahwa dunia saat ini tengah menyaksikan runtuhnya multilateralisme secara belum pernah terjadi sebelumnya, meski PBB baru saja menandai ulang tahunnya yang ke-80. Ia menyoroti bahwa sistem global yang dibangun pasca-Perang Dunia II kini berada di ujung tanduk akibat dominasi kekuatan besar, ketimpangan prioritas global, serta ancaman baru terhadap perdamaian.
Baca Juga
“Selalu lebih mudah membiayai perang dari pada perdamaian,” kritik Lula, merujuk pada kecenderungan negara-negara maju mengalokasikan anggaran militer hingga 5% dari PDB, ketimbang memenuhi komitmen bantuan pembangunan sebesar 0,7% dari PDB. Ia juga menyinggung bagaimana Dewan Keamanan PBB kehilangan legitimasi karena kerap diabaikan dalam keputusan intervensi militer, serta politisasi lembaga-lembaga internasional seperti IAEA.
Dalam pidatonya, Lula juga menyoroti konflik yang tak kunjung selesai dan semakin meluas, termasuk di Ukraina, Palestina, dan kawasan Sahel. Ia menegaskan bahwa krisis ini bukan hanya soal politik, tetapi juga kemanusiaan. “Tidak ada yang bisa membenarkan aksi teror Hamas, tetapi kita juga tidak bisa diam terhadap genosida oleh Israel di Gaza, pembunuhan warga sipil, dan penggunaan kelaparan sebagai senjata perang,” ujarnya.
Lula menekankan bahwa solusi konflik harus mengedepankan pendekatan dialog langsung dan penghormatan terhadap hukum internasional, bukan intervensi militer yang sarat kepentingan. Ia juga menegaskan dukungan Brasil terhadap pendirian negara Palestina merdeka dengan batas wilayah tahun 1967 serta perlunya reformasi mendalam terhadap Dewan Keamanan PBB.
“Jika tata kelola global tidak mencerminkan kenyataan multipolar abad ke-21, maka BRICS harus turut menginisiasi reformasi. Ini bukan hanya soal keadilan—ini adalah syarat untuk menjamin kelangsungan hidup PBB itu sendiri,” tegasnya.
Pada pembukaan KTT BRICS Minggu (6/7/2025), hadir para pemimpin dan perwakilan pemimpin negara, Perdana Menteri India Narendra Modi, Menteri Luar Negeri federasi Rusia Sergei Lavrov, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Perdana Menteri China Li Qiang, Presiden Indonesia Prabowo Subianto, Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed Ali, Perdana Menteri Mesir, Mostafa Madbouly, Pangeran Mahkota Abu Dhabi Khaled bin Mohamed, dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Aragchi. Presiden Rusia Vladimir Putin hadir secara virtual dan memberikan sambutan dalam KTT BRICS.

