Intel Pertimbangkan Hentikan Penjualan Teknologi Canggih Chip 18A, Mengapa?
SAN FRANCISCO, investortrust.id - Intel berencana menghentikan penjualan teknologi chip canggih 18A ke pelanggan luar dan memilih fokus ke teknologi baru bernama 14A. Langkah ini tengah dipertimbangkan CEO baru Intel, Lip-Bu Tan, sebagai strategi untuk bangkit dari tekanan industri chip global.
Teknologi 18A sebelumnya digadang-gadang jadi kekuatan baru Intel. Namun chip itu kalah saing dari teknologi chip milik TSMC asal Taiwan. Padahal, Intel sudah menghabiskan miliaran dolar untuk mengembangkan teknologi ini.
Dilansir dari Reuters, Rabu (2/6/2025), jika keputusan ini diambil, Intel bisa mengalami kerugian besar karena harus mencatat penghapusan nilai investasi teknologi tersebut. Namun, perusahaan tetap akan menggunakan 18A untuk produk internal mereka seperti chip laptop terbaru 'Panther Lake' yang rilis tahun depan.
CEO Lip-Bu Tan yang mulai memimpin Intel pada Maret lalu memang cukup mengambil langkah tegas. Ia merombak manajemen, memangkas biaya, dan sekarang fokus menata ulang strategi chip agar Intel bisa bersaing dengan TSMC dan menarik pelanggan besar seperti Apple, Nvidia, Amazon, dan Microsoft.
Intel kini memprioritaskan teknologi 14A karena dinilai punya potensi lebih unggul dari chip buatan TSMC yang sudah beredar di pasaran. Tan juga disebut sudah menyiapkan pembahasan bersama dewan direksi Intel, dan keputusan resmi bisa diumumkan dalam beberapa bulan ke depan.
Baca Juga
AS Batasi Ekspor Chip, China Balas Kritik Trump: Ini Perang Teknologi
Meski rencana ini belum final, Intel menyatakan akan tetap memenuhi kontrak produksi chip 18A yang sudah disepakati, termasuk untuk Amazon dan Microsoft. Namun, untuk pelanggan baru, Intel kemungkinan besar akan menawarkan teknologi 14A.
Keputusan ini akan menjadi salah satu langkah terbesar perusahaan di bawah kepemimpinan baru. Pasalnya, tahun lalu Intel mencatat kerugian hingga US$ 18,8 miliar atau menjadi rekor terburuk sejak 1986.
Langkah ini menunjukkan bahwa Intel ingin terus bersaing di pasar chip global, terutama di era kecerdasan buatan (AI) yang membutuhkan chip makin canggih dan efisien. Dengan strategi baru ini, perusahaan asal Amerika Serikat itu berharap bisa kembali bersaing dan jadi pilihan utama produsen teknologi besar dunia.
Baca Juga
Trump akan 'Utak-Atik' Aturan Ekspor Chip Kecerdasan Buatan untuk Negosiasi Perang Dagang

