Aktivitas Manufaktur China Masih Kontraksi, Ancaman Deflasi Membayangi
Poin Penting
|
BEIJING, investortrust.id - Aktivitas manufaktur di China kembali menyusut pada Juni, menurut survei resmi yang dirilis Senin (30/6/2025). Ini menandai kontraksi tiga bulan berturut-turut, meskipun upaya stimulus Beijing mulai menstabilkan beberapa sektor industri.
Baca Juga
Indeks manajer pembelian (PMI) resmi naik tipis ke 49,7 dari 49,5 pada Mei, namun tetap di bawah angka 50 yang memisahkan pertumbuhan dan kontraksi, berdasarkan data Biro Statistik Nasional (NBS). Angka ini sejalan dengan prediksi jajak pendapat Reuters.
Sub-indeks produksi naik ke 51, sementara permintaan baru meningkat menjadi 50,2, mencerminkan peningkatan aktivitas industri dan permintaan, menurut Zhao Qinghe, ahli statistik senior di NBS. Namun, level persediaan dan tenaga kerja di pabrik masih menurun, masing-masing berada di angka 48 dan 47,9.
PMI non-manufaktur, yang mencakup sektor jasa dan konstruksi, naik ke 50,5 dari 50,3. Sub-indeks jasa turun ke 50,1, sedangkan konstruksi melonjak ke 52,8 seiring percepatan proyek infrastruktur.
Indeks saham acuan China CSI 300 naik 0,22% usai rilis data tersebut.
“Ekonomi China kembali mendapatkan momentum, didorong rebound sektor manufaktur dan konstruksi,” ujar Zichun Huang, Ekonom China di Capital Economics. “Namun, kami tetap berhati-hati terhadap prospek paruh kedua tahun ini, mengingat lemahnya pertumbuhan ekspor dan memudarnya dukungan fiscal,” tambahnya.
Pesanan ekspor baru dalam PMI manufaktur melonjak ke 47,5 dari 44,7 bulan sebelumnya. Ini bisa menandakan permintaan dari AS mulai pulih pasca gencatan dagang yang tercapai pertengahan Mei, menurut Huang.
Pabrikan China tengah menghadapi perang harga yang makin tajam akibat kelebihan pasokan dan lemahnya permintaan konsumen, diperparah oleh tarif AS yang lebih tinggi terhadap ekspor China. Pengiriman ke AS anjlok 34,5% pada Mei dan lebih dari 21% pada April, saat eksportir mengalihkan pasar untuk menghindari tarif tiga digit yang sempat diberlakukan sebelum dibatalkan pertengahan Mei.
Baca Juga
AS-China Sepakati Kerangka Dagang Baru, Fokus pada ‘Rare Earth’ dan Teknologi
Perdana Menteri China, Li Qiang, dalam forum ekonomi di Tianjin pekan lalu mengatakan bahwa Beijing memperkuat upaya meningkatkan permintaan domestik demi menjadikan China sebagai “kekuatan konsumsi.”
Harga konsumen tetap terjebak dalam deflasi, turun 0,1% pada Mei dibanding tahun sebelumnya. Indeks harga produsen bahkan mencatat penurunan terdalam sejak Juli 2023, memperparah deflasi yang telah membebani manufaktur lebih dari dua tahun. Laba industri anjlok 9,1% di Mei, penurunan terdalam dalam tujuh bulan.
Stimulus fiskal tambahan dinilai krusial untuk mendorong konsumsi. “Kami memperkirakan lebih banyak voucher akan dibagikan, program tukar tambah barang konsumsi digalakkan, dan semoga lebih banyak penerbitan utang di paruh kedua tahun,” kata Tommy Xie, Kepala Riset Greater China di OCBC Bank kepada CNBC.
Baca Juga
Pasar Tunggu Kelanjutan Stimulus China, Ini Paket yang Dijanjikan
Pada Jumat, Kementerian Perdagangan China mengonfirmasi kesepakatan lanjutan dengan AS terkait kerangka dagang yang sudah ada. Beijing akan memproses ekspor barang-barang yang masuk pengendalian, sementara AS akan mencabut sejumlah pembatasan terhadap China.
Meski hal ini dianggap sebagai sinyal positif dalam pembicaraan dagang bilateral, para ekonom mengingatkan kurangnya rincian — termasuk kriteria evaluasi ekspor logam tanah jarang — masih meninggalkan banyak ketidakpastian.
“Ini menunjukkan betapa alot dan rumitnya perundingan dagang,” ujar Wendy Cutler, Wakil Presiden Asia Society Policy Institute, seraya menambahkan bahwa kedua pihak berupaya memastikan kesepakatan awal yang dicapai di Jenewa dilaksanakan secara tulus.
Dalam pernyataan terpisah akhir pekan, Kementerian Perdagangan China juga menegaskan penolakannya terhadap kesepakatan dagang AS dengan negara lain yang bisa mengorbankan kepentingan China. “Jika hal ini terjadi, China tidak akan menerimanya dan akan mengambil langkah tegas untuk melindungi hak dan kepentingan sahnya.”
Survei PMI manufaktur versi swasta dari Caixin Media dan S&P Global akan dirilis Selasa, dan diperkirakan naik tipis ke 49 dari 48,3 bulan sebelumnya menurut jajak pendapat Reuters.

