Rudal Iran Hantam Rumah Sakit, Israel Balas Bombardir Reaktor Nuklir
TEL AVIV, investortrust.id – Ketegangan antara Iran dan Israel memasuki kondisi yang lebih berbahaya setelah serangan rudal Iran menghantam sebuah rumah sakit di Beersheba, Israel, pada Rabu malam. Sebagai balasan, Israel meluncurkan serangan udara besar-besaran terhadap fasilitas nuklir dan markas militer di Iran, meningkatkan risiko konflik regional menjadi perang terbuka.
Baca Juga
Tak Gentar Ultimatum Trump, Khamenei Serukan ‘Perang Dimulai’
Presiden Amerika Serikat Donald Trump masih menunda keputusan soal keterlibatan langsung AS dalam perang tersebut, namun menegaskan keputusan akan diambil dalam dua minggu ke depan.
"Berdasarkan kenyataan bahwa ada kemungkinan besar terjadinya negosiasi — yang mungkin atau tidak akan terjadi dengan Iran dalam waktu dekat — Presiden akan mengambil keputusan dalam dua minggu," kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt, mengutip pernyataan Trump.
Leavitt menambahkan bahwa Iran memiliki semua kemampuan teknis untuk membuat senjata nuklir. "Yang mereka butuhkan hanyalah keputusan dari Pemimpin Tertinggi Iran, dan butuh waktu beberapa minggu untuk menyelesaikan produksi senjata tersebut," ujarnya.
Israel menyebut serangan udara pada Jumat pagi sebagai “pukulan pendahuluan” untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. Namun Iran membantah memiliki niat membuat senjata tersebut dan segera meluncurkan serangan balasan berupa rudal dan drone ke berbagai kota Israel.
Baca Juga
Trump Beri Iran ‘Ultimatum Terakhir’, AS Siapkan Evakuasi Warga dari Israel
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa "tiran-tiran Teheran akan membayar harga penuh" atas serangan yang merusak pusat medis Soroka di Beersheba.
"Apakah kami menargetkan kejatuhan rezim? Itu bisa saja jadi akibatnya, tetapi semua tergantung pada rakyat Iran untuk bangkit dan merebut kebebasannya," ujar Netanyahu, seperti dikutip Reuters.
Juru bicara militer Israel Brigadir Jenderal Effie Defrin menuding Iran sengaja menyasar warga sipil. "Itu adalah aksi teror yang disponsori negara dan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional," katanya.
Iran menyatakan bahwa target mereka adalah markas militer dan intelijen Israel di dekat rumah sakit tersebut. Seorang pejabat militer Israel membantah adanya target militer di wilayah tersebut.
Israel juga menghantam markas besar pasukan khusus keamanan internal Iran di Teheran. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz sebelumnya mengatakan bahwa militer diperintahkan untuk meningkatkan serangan terhadap target strategis di ibu kota Iran guna menghilangkan ancaman terhadap Israel dan mengguncang pemerintahan Ayatollah Ali Khamenei.
Saat malam tiba di Teheran pada Kamis, media Iran melaporkan sistem pertahanan udara aktif melawan "target musuh" di wilayah utara ibu kota.
Menurut para pejabat Israel, Barat, dan kawasan, serangan udara Israel bertujuan lebih dari sekadar menghancurkan infrastruktur nuklir dan misil Iran. Serangan ini ingin menggoyang fondasi pemerintahan Khamenei dan mendorongnya menuju keruntuhan.
Sumber diplomatik menyebut bahwa Netanyahu berharap Iran cukup dilemahkan sehingga dipaksa membuat konsesi besar: meninggalkan pengayaan uranium secara permanen, menghentikan program rudal balistik, serta memutus dukungan terhadap kelompok militan di Timur Tengah.
Tiga diplomat menyatakan kepada Reuters bahwa utusan khusus AS, Steve Witkoff, telah beberapa kali berbicara via telepon dengan Menlu Iran Abbas Araqchi sejak pekan lalu.
Dalam pernyataan resmi, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran memperingatkan akan menggunakan strategi berbeda jika "pihak ketiga" ikut terlibat dalam perang di pihak Israel — sebuah sindiran terselubung ke arah AS.
Serangan ke Fasilitas Nuklir
Israel mengonfirmasi bahwa mereka telah menggempur fasilitas nuklir Natanz dan Isfahan, serta reaktor air berat Arak (Khondab) yang masih dalam pembangunan. Gambar satelit dari Airbus Defense yang dipublikasikan oleh Open Source Centre menunjukkan lubang besar di atap reaktor Arak dan menara distilasi air berat di sekitarnya yang hancur total.
Reaktor air berat menghasilkan plutonium — bahan utama selain uranium yang bisa digunakan untuk membuat senjata nuklir.
David Albright, mantan inspektur nuklir PBB dan kepala Institute for Science and International Security, menyatakan bahwa Israel menyerang karena kekhawatiran atas niat Iran mengaktifkan reaktor itu tahun depan.
Baca Juga
Konflik Israel-Iran Ancam PLTN Bushehr, IAEA Ingatkan Potensi Krisis Radiasi
"Iran memainkan berbagai taktik, jadi Israel mengambil inisiatif lebih dulu," kata Albright.
Serangan udara dan misil Israel selama sepekan terakhir disebut telah menghabisi komando puncak militer Iran dan menewaskan ratusan orang. Sementara itu, serangan balasan Iran telah menewaskan sedikitnya dua lusin warga sipil di Israel.
Iran juga mengklaim meluncurkan serangan gabungan rudal dan drone ke situs militer dan industri pertahanan Israel di Haifa dan Tel Aviv pada Kamis.
Anggota Presidium Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Behnam Saeedi, kepada kantor berita Mehr menyebut bahwa Iran sedang mempertimbangkan opsi menutup Selat Hormuz, jalur penting tempat mengalirnya sekitar 20% konsumsi minyak global harian.
Jangan Ganggu Negeri Kami”
Sejak serangan Hamas ke Israel selatan pada 7 Oktober 2023 memicu perang Gaza, Israel — kekuatan militer terkuat di kawasan — kini menghadapi berbagai front: Gaza, Lebanon, Yaman, dan kini langsung berhadapan dengan Iran.
Iran sejauh ini membatasi informasi tentang kerusakan di dalam negeri. Pemerintah tidak lagi mengumumkan jumlah korban, media negara tidak menayangkan gambar kehancuran, dan internet hampir sepenuhnya ditutup. Warga juga dilarang mengambil gambar.
Arash, 33 tahun, seorang pegawai pemerintah di Teheran, mengatakan bahwa bangunan di samping rumahnya di kawasan Shahrak-e Gharb hancur dihantam serangan.
"Saya melihat sedikitnya tiga anak dan dua perempuan meninggal di gedung itu. Apakah ini cara Netanyahu ‘membebaskan’ rakyat Iran? Jangan ganggu negeri kami," katanya kepada Reuters via telepon.

