Microsoft Siap 'Putus' dengan OpenAI, Ketegangan Soal Saham Makin Tajam
WASHINGTON, investortrust.id - Microsoft dikabarkan siap menghentikan negosiasi lanjutan dengan OpenAI. Hal ini merupakan bentuk kebuntuan dalam pembahasan sejumlah isu penting, terutama terkait besaran kepemilikan saham Microsoft di masa depan.
Laporan Financial Times, Kamis (19/6/2025), meski diskusi berisiko dibekukan, Microsoft disebut tetap akan mempertahankan akses ke teknologi OpenAI melalui kontrak komersial yang sudah ditandatangani dan berlaku hingga 2030.
Ketegangan ini muncul di tengah upaya OpenAI untuk mengubah status hukumnya menjadi public-benefit corporation (PBC), yang bertujuan menarik lebih banyak pendanaan eksternal. Namun, perubahan status tersebut memerlukan persetujuan Microsoft sebagai investor utama.
Sebelumnya, Wall Street Journal juga melaporkan bahwa pihak OpenAI sempat mempertimbangkan untuk menuduh Microsoft melakukan praktik antimonopoli, seiring semakin besarnya ketergantungan antara dua perusahaan tersebut dalam ekosistem AI global.
Baca Juga
OpenAI dan Microsoft Mulai Renggang, Isu Persaingan Tak Sehat Mencuat
Kemitraan Strategis Bernilai Miliaran Dolar
Sebagai pengingat, kemitraan Microsoft–OpenAI dimulai pada tahun 2019, saat Microsoft pertama kali menginvestasikan US$ 1 miliar dalam bentuk dukungan finansial dan komputasi awan. Hubungan ini diperkuat pada awal 2023, ketika Microsoft menyuntikkan tambahan investasi senilai US$ 10 miliar, menjadikannya sebagai mitra komersial eksklusif OpenAI untuk produk-produk seperti ChatGPT, GPT-4, dan DALL·E.
Sebagai timbal balik, teknologi OpenAI diintegrasikan secara mendalam ke dalam ekosistem Microsoft, seperti Microsoft 365 Copilot, Azure OpenAI Service, serta produk enterprise lainnya. Ini menjadikan Microsoft sebagai perusahaan teknologi arus utama pertama yang berhasil mengkomersialkan kecerdasan buatan generatif secara besar-besaran.
Namun, sejak pertengahan 2024, muncul friksi antara kedua pihak terkait arah bisnis, pengawasan etika AI, dan kepemilikan teknologi. Ketegangan memuncak saat OpenAI mengganti struktur kepemimpinan dan mulai menjajaki kemungkinan IPO melalui bentuk perusahaan publik manfaat sosial (PBC), yang dinilai lebih fleksibel untuk menarik investor global.
Risiko dan Arah ke Depan
Bagi Microsoft, keputusan untuk menghentikan negosiasi bisa berarti kehilangan kendali lebih jauh atas perusahaan AI paling berpengaruh saat ini. Namun, lewat kontrak jangka panjang yang sudah ada, raksasa teknologi asal Redmond ini masih tetap bisa memanfaatkan teknologi OpenAI untuk pengembangan produk hingga 2030.
Sampai berita ini diturunkan, baik Microsoft maupun OpenAI belum memberikan tanggapan resmi. Namun situasi ini menambah ketidakpastian di tengah kompetisi sengit di sektor AI global yang makin panas, terutama menghadapi tekanan dari Google, DeepSeek, dan perusahaan AI independen lainnya.

