Menteri Energi AS Yakin ‘Shale Oil’ Akan Berkembang Meski Harga Minyak Mentah Menurun
ABU DHABI, investortrust.id - Menteri Energi AS Chris Wright tidak khawatir tentang penurunan harga minyak dan dampaknya terhadap industri minyak shale (shale oil) Amerika. Ia menekankan bahwa tahun-tahun mendatang seharusnya menjadi masa kelimpahan energi bagi ekonomi terbesar dunia itu.
“Industri shale AS akan bertahan dan berkembang. Namun tentu saja, keputusan investasi akan disesuaikan jika harga tetap rendah dalam jangka waktu lama. Tapi saya cukup optimis terhadap industri AS,” jelas Wright dalam wawancara dengan Dan Murphy dari CNBC di ibu kota Uni Emirat Arab, Abu Dhabi, Jumat (11/4/2025).
Harga minyak mengalami tekanan akibat permintaan global yang melemah, meningkatnya ketidakpastian atas tarif, dan pasokan yang lebih besar di pasar dari negara-negara OPEC maupun non-OPEC — dengan pendapatan yang lebih rendah mengancam kelangsungan produsen shale.
Baca Juga
Kontrak minyak mentah Brent acuan global yang jatuh tempo bulan Juni diperdagangkan pada $63,51 per barel pada hari Jumat pukul 13:43 waktu London, naik 0,28% dari penutupan Kamis. Kontrak WTI AS bulan Mei berada di $60,26 per barel, naik 0,32% dari harga penutupan sebelumnya. Kedua kontrak tersebut telah turun sekitar 22% selama satu tahun terakhir.
Untuk menegaskan pandangannya, Wright merujuk pada periode 2014 hingga 2016, di mana lonjakan produksi shale bertepatan dengan lemahnya permintaan global dan menurunkan harga minyak hingga 70%. Industri ini harus menghadapi gelombang kebangkrutan.
Namun menteri energi tersebut mengambil sudut pandang optimis. “Pada 2015 dan 2016, harga minyak dua kali menyentuh $28 [per barel], dan apa yang terjadi? Apa yang dilakukan industri shale AS saat itu — berinovasi, menjadi lebih cerdas, menekan biaya mereka, dan itulah yang terjadi sekarang,” kata Wright.
Analis komoditas memperkirakan bahwa harga minyak mentah AS perlu tetap di atas $65 per barel agar produsen shale tetap bertahan. Goldman Sachs minggu ini menurunkan proyeksi harga minyak untuk WTI AS menjadi $58 per barel pada Desember 2025 dan $51 per barel pada Desember 2026, turun dari proyeksi sebelumnya sebesar $66 tahun ini dan $59 pada 2026.
Wright sendiri adalah mantan eksekutif shale, yang mendirikan dan menjabat sebagai CEO perusahaan jasa minyak Liberty Energy yang berbasis di Denver sebelum mengundurkan diri untuk bergabung dengan pemerintahan Presiden Donald Trump. Harga saham Liberty Energy telah terpukul akibat penurunan harga minyak dan ketegangan dagang, dengan penurunan lebih dari 46% sepanjang tahun ini.
Pernyataan Wright muncul sekitar satu minggu setelah aliansi OPEC dan mitra produsen minyak non-OPEC, yang dikenal sebagai OPEC+, mengambil keputusan mengejutkan untuk mempercepat rencana peningkatan produksi minyak mentah, menambah pasokan ke pasar yang sudah jenuh. Keputusan ini turut mendorong penurunan harga minyak lebih lanjut.
Namun dalam jangka panjang, anggota OPEC+ membutuhkan harga minyak yang lebih tinggi untuk menyeimbangkan anggaran mereka. Sebaliknya, Trump telah berjanji untuk “bor, bor, bor” guna menjaga harga tetap rendah bagi konsumen Amerika, dan telah lama menyuarakan keinginannya agar negara-negara anggota OPEC memompa lebih banyak minyak karena alasan tersebut.
Ketika ditanya apakah hal ini pada akhirnya dapat menempatkan AS dan OPEC pada jalur konflik, Wright menjawab tidak. “Saya tidak melihat ini sebagai jalur konflik. Yang kami lihat, dan yang saya lihat di UEA, dan yang Anda lihat di Arab Saudi dan Qatar adalah visi energi jangka panjang yang sangat kuat,” kata Wright.
Diakui, ada penurunan pendapatan jangka pendek jika harga minyak dan gas turun. “Tapi investasi yang dilakukan di sini dan hubungan yang dibangun di sini, semuanya mengarah ke masa depan beberapa dekade ke depan,” bebernya.
Baca Juga
Harga Minyak Anjlok 3% karena Trump Naikkan Tarif ke Tiongkok Jadi 145%
Wright menegaskan bahwa secara keseluruhan terdapat keselarasan dalam strategi energi antara AS dan terutama sekutu-sekutu kaya minyak di Teluk Arab, yang para pemimpinnya dijadwalkan akan ia temui selama kunjungannya ke Timur Tengah, yang berlangsung menjelang kunjungan yang direncanakan oleh Trump ke kawasan tersebut.
“Cara untuk membuat kehidupan rakyat Amerika menjadi lebih baik, dan warga dunia menjadi lebih baik, adalah dengan energi yang lebih besar, energi yang lebih terjangkau, dan masa depan yang jauh lebih cerah dan sejahtera. Itulah jalur yang sedang kita tempuh. Dan saya rasa, UEA, Arab Saudi, dan Qatar — saya rasa kita semua sejalan dalam misi tersebut,” urai Wright.

