Minta Vietnam Hapus Kecurangan Non Tarif, AS Tolak Tawaran Tarif Impor 0%
'
WASHINGTON, investortrust.id - Presiden AS Donald Trump melalui penasihat perdagangan utamanya, Peter Navarro, menyatakan bahwa tawaran Vietnam untuk menghapus tarif atas barang-barang AS tidak cukup bagi pemerintahan Trump untuk menarik kembali tarif baru yang diumumkan pekan lalu.
Seperti diberitakan Wakil Perdana Menteri Vietnam, Bui Thanh Son, bertemu dengan Duta Besar AS Marc E Knapper pada hari Minggu (6/4/2025) dan menawarkan penghapusan tarif impor atas produk-produk Amerika menjadi nol. Langkah tersebut ditujukan untuk menunda pemberlakuan tarif timbal balik baru dari Trump yang menyasar negara-negara dengan surplus perdagangan signifikan terhadap Amerika Serikat.
Namun, tawaran tersebut ditolak oleh Navarro, yang menyebut situasi ini sebagai "darurat nasional."
"Ini bukan negosiasi, ini adalah keadaan darurat nasional yang disebabkan oleh defisit perdagangan yang tidak terkendali akibat kecurangan," ujar Navarro saat berbicara kepada Fox News, Senin (7/4/202
Kemudian, dalam wawancara dengan CNBC, Navarro kembali menegaskan pendiriannya dan menyinggung soal kecurangan non-tarif, termasuk barang-barang asal China yang dialihkan jalurnya melalui Vietnam. "Ambil contoh Vietnam. Ketika mereka datang dan berkata 'kami akan menghapus tarif menjadi nol', itu tidak berarti apa-apa bagi kami karena yang penting adalah kecurangan non-tarifnya," kata Navarro.
Baca Juga
Pernyataan Navarro ini muncul setelah Trump, pekan lalu, melalui platform media sosialnya Truth Social mengatakan bahwa To Lam, Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam, telah menawarkan penghapusan tarif atas produk AS menjadi nol.
Vietnam, yang merupakan pusat manufaktur utama untuk barang-barang tujuan ekspor ke AS termasuk dari perusahaan besar seperti Nike, kini berada dalam tekanan karena pasar saham negara tersebut anjlok hampir 10% pekan lalu setelah pemerintahan Trump mengumumkan akan memberlakukan tarif impor sebesar 46%.
Sementara itu, Vietnam menyatakan bahwa mereka akan membeli lebih banyak produk AS, termasuk produk pertahanan dan keamanan, serta meminta penundaan pemberlakuan tarif AS selama 45 hari. Sekadar gambaran, tahun lalu, Vietnam mencatat surplus perdagangan lebih dari US$ 123 miliar dengan AS, yang merupakan pasar ekspor terbesar bagi Vietnam.
Perdana Menteri Vietnam, Pham Minh Chinh, dalam pernyataan resmi menyatakan bahwa ia ingin "bernegosiasi dengan pihak AS untuk mencapai perdagangan yang seimbang dan berkelanjutan, sesuai dengan kepentingan kedua belah pihak."

