Korban Gempa Myanmar-Thailand Lampaui 1.600, Tim Penyelamat Terus Cari Korban Selamat
MANDALAY, Investortrust.id - Jumlah korban tewas akibat gempa dahsyat yang melanda Myanmar dan Thailand telah melampaui 1.600 jiwa pada Sabtu (29/3/2025). Sementara itu tim penyelamat terus menggali reruntuhan bangunan yang roboh dalam upaya menemukan korban selamat.
Gempa berkekuatan 7,7 SR mengguncang wilayah barat laut kota Sagaing di Myanmar tengah pada Jumat siang (27/3/2025), disusul oleh gempa susulan berkekuatan 6,7 SR hanya beberapa menit kemudian.
Gempa ini menghancurkan bangunan, meruntuhkan jembatan, dan merusak jalan di berbagai wilayah Myanmar, dengan kehancuran besar terlihat di Mandalay, kota terbesar kedua di negara itu yang berpenduduk lebih dari 1,7 juta orang.
"Kami butuh bantuan," kata Thar Aye, 68 tahun, seorang warga Mandalay. "Kami tidak punya apa pun."
Menurut pernyataan pemerintah junta militer Myanmar, setidaknya 1.644 orang tewas dan hampir 3.400 lainnya terluka di Myanmar, dengan setidaknya 139 orang dinyatakan hilang. Di Bangkok, sekitar 10 orang dikonfirmasi meninggal dunia.
Namun, dengan komunikasi yang terganggu, skala bencana dan jumlah korban diperkirakan akan terus bertambah.
Di Mandalay, jurnalis AFP menyaksikan tim penyelamat menarik seorang wanita yang masih hidup dari reruntuhan sebuah apartemen. Seorang pejabat Palang Merah setempat mengatakan lebih dari 90 orang kemungkinan masih terjebak.
Setelah berjam-jam terjebak di Sky Villa Condominium yang separuh dari 12 lantainya runtuh akibat gempa, Phyu Lay Khaing, 30 tahun, berhasil diselamatkan dan langsung dibawa dengan tandu untuk bertemu suaminya sebelum dilarikan ke rumah sakit.
Namun, seorang wanita lain di gedung apartemen itu kurang beruntung. Putranya yang berusia 20 tahun, yang bekerja di gedung tersebut, masih hilang.
Baca Juga
Prabowo: Indonesia Siap Dukung Pemulihan Gempa Thailand dan Myanmar
"Kami belum bisa menemukannya. Dia satu-satunya anak saya, saya merasa sangat hancur," kata Min Min Khine, 56 tahun, seorang juru masak di gedung tersebut seperti dikutip CNA News.
"Dia makan di ruang makan saya dan berpamitan. Lalu dia pergi, dan gempa terjadi. Jika dia tetap bersama saya, mungkin dia bisa selamat seperti saya," katanya kepada AFP.
Di tempat lain di Mandalay, jurnalis AFP melihat puluhan orang bersiap tidur di jalanan. Mereka lebih memilih tidur di tempat terbuka daripada mengambil risiko bermalam di bangunan yang rusak akibat gempa.
Menurut para ahli geologi, gempa ini merupakan yang terbesar yang melanda Myanmar dalam beberapa dekade. Guncangannya cukup kuat untuk menyebabkan kerusakan serius pada bangunan di Bangkok, yang berjarak ratusan kilometer dari pusat gempa.
Di Mandalay, sebuah pagoda Buddha berusia berabad-abad terlihat hancur menjadi puing-puing.
"Awalnya mulai bergetar, lalu semakin kuat," kata seorang tentara di pos pemeriksaan dekat pagoda.
"Biara juga runtuh. Seorang biksu meninggal, beberapa orang terluka, kami berhasil mengevakuasi beberapa orang dan membawa mereka ke rumah sakit."
Baca Juga
AS: Korban Jiwa di Gempa Myanmar - Thailand Bisa Capai Ribuan Orang
Penjaga di Bandara Mandalay, yang dilaporkan mengalami kerusakan, melarang jurnalis masuk.
"Bandara sudah ditutup sejak kemarin," kata seorang penjaga. "Langit-langitnya runtuh, tetapi tidak ada yang terluka."
Kerusakan di bandara akan memperumit upaya bantuan di negara yang sistem penyelamatan dan layanan kesehatannya sudah terpukul akibat perang sipil selama empat tahun sejak kudeta militer pada 2021.
Permohonan Bantuan Langka dari Junta
Pimpinan junta militer Myanmar, Jendral Min Aung Hlaing menyampaikan permohonan bantuan internasional pada Jumat, menandakan tingkat keparahan bencana ini. Sebelumnya, pemerintahan militer Myanmar selalu menolak bantuan asing, bahkan saat bencana alam besar.
Negara itu telah menyatakan keadaan darurat di enam wilayah yang paling parah terkena dampak gempa. Di sebuah rumah sakit besar di ibu kota Naypyidaw, para tenaga medis bahkan harus merawat korban luka di luar ruangan.
Sementara bantuan dari luar negeri dilaporkan mulai berdatangan, Presiden AS Donald Trump dilaporkan pula berjanji membantu Myanmar.
Pesawat pertama dari India yang membawa perlengkapan kebersihan, selimut, makanan, dan kebutuhan darurat lainnya mendarat di ibu kota komersial Yangon pada Sabtu.
China mengirim lebih dari 80 petugas penyelamat ke Myanmar dan menjanjikan bantuan kemanusiaan darurat senilai US$13,8 juta.
Baca Juga
Gempa Myanmar – Thailand Bikin Gedung 30 Lantai di Thailand Runtuh Seketika
Di sisi lain organisasi bantuan telah memperingatkan bahwa Myanmar tidak siap menangani bencana sebesar ini. Sebelum gempa terjadi, sekitar 3,5 juta orang telah mengungsi akibat perang sipil yang berkecamuk, dan banyak di antaranya sudah berada dalam risiko kelaparan.
Prancis dan Uni Eropa menawarkan bantuan, sementara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan sedang memobilisasi pasokan medis untuk mengatasi cedera akibat bencana.
Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, mengatakan dalam sebuah unggahan di Facebook pada Jumat bahwa pemerintahnya "siap memberikan bantuan."
Pada Sabtu, tim beranggotakan 80 orang dari Pasukan Pertahanan Sipil Singapura (SCDF), termasuk penyelamat dari Tim Bantuan dan Penyelamatan Bencana elit, dokter, paramedis, spesialis pencarian dengan anjing pelacak, spesialis bahan berbahaya, dan petugas pendukung, berangkat menuju Myanmar.
Mereka membawa berbagai peralatan pencarian dan penyelamatan perkotaan, seperti alat pemotong, penghancur, dan pengangkat, perangkat pendeteksi kehidupan, serta kamera serat optik.
Palang Merah Singapura juga telah mengalokasikan dana awal sebesar S$150.000 (US$111.850) untuk mendukung upaya bantuan di Myanmar dan Thailand, serta berencana meluncurkan penggalangan dana publik.
Baca Juga
Gempa Bumi Magnitudo 7,7 Hantam Myanmar dan Thailand, 150 Korban Dilaporkan Tewas
Bangunan Runtuh di Bangkok
Di seberang perbatasan di Bangkok, tim penyelamat terus bekerja untuk mencari korban selamat yang terjebak dalam reruntuhan sebuah gedung pencakar langit setinggi 30 lantai yang sedang dalam tahap konstruksi sebelum runtuh akibat gempa.
Gubernur Bangkok, Chadchart Sittipunt, mengatakan kepada wartawan bahwa sejauh ini delapan orang telah dikonfirmasi tewas akibat runtuhnya gedung tersebut, sementara sedikitnya delapan orang lainnya berhasil diselamatkan.
Namun, sekitar 79 orang masih belum ditemukan di dalam gedung yang terletak dekat Pasar Chatuchak, yang menjadi daya tarik bagi wisatawan.
"Saya tidak bisa menggambarkan perasaan saya—semuanya terjadi dalam sekejap mata," kata seorang pekerja konstruksi, Khin Aung, yang berhasil lolos dari bangunan yang runtuh.
"Semua teman saya dan saudara laki-laki saya ada di dalam gedung saat itu. Saya tidak tahu harus berkata apa."
Chadchart kepada AFP mengatakan bahwa sekitar 10 orang telah dikonfirmasi tewas di seluruh Bangkok, sebagian besar akibat runtuhnya gedung pencakar langit tersebut.
Anjing pelacak dan drone pencitra termal telah dikerahkan untuk mencari tanda-tanda kehidupan di bawah reruntuhan. Chadchart mengatakan bahwa lokasi sekitar 30 orang dapat terdeteksi menggunakan radar.
Pihak berwenang Bangkok berencana mengerahkan lebih dari 100 insinyur untuk memeriksa keamanan gedung-gedung setelah menerima lebih dari 2.000 laporan kerusakan akibat gempa.

