Belanja Konsumen AS Melonjak, Inflasi Inti PCE Agustus Bertahan di 2,9% YoY
Poin Penting
- Inflasi inti PCE Agustus bertahan di 2,9%, sesuai ekspektasi pasar.
- Belanja konsumen melonjak 0,6%, ditopang kenaikan pendapatan dan tabungan.
- Dampak tarif Trump terhadap inflasi konsumen terbatas, harga barang hanya naik tipis.
- Pasar yakin pemangkasan suku bunga lanjutan pada Oktober, Desember masih belum pasti.
WASHINGTON, investortrust.id - Inflasi inti AS hampir tidak berubah pada Agustus, menurut alat perkiraan utama Federal Reserve. Hal ini kemungkinan membuat bank sentral tetap berada pada jalur penurunan suku bunga ke depan.
Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) mencatat kenaikan 0,3% untuk bulan Agustus, sehingga tingkat inflasi utama tahunan berada di 2,7%, menurut laporan Departemen Perdagangan pada Jumat (26/9/2025).
Baca Juga
Imbas Tarif Trump, Inflasi Inti PCE AS Juli Naik Menjadi 2,9%
Tidak termasuk makanan dan energi, tingkat harga inti PCE yang lebih diperhatikan naik 0,2% untuk bulan itu dan berada di level tahunan (yoy/year on year) 2,9%. Tingkat inflasi utama tahunan naik tipis dari 2,6% pada Juli sementara tingkat inti tetap sama. Angka itu sejalan dengan perkiraan konsensus Dow Jones.
Data belanja dan pendapatan sedikit lebih tinggi dari yang diperkirakan. Pendapatan pribadi meningkat 0,4% untuk bulan tersebut, sementara pengeluaran konsumsi pribadi tumbuh lebih cepat, yakni 0,6%. Keduanya 0,1 poin persentase di atas perkiraan.
Meskipun target inflasi The Fed adalah 2%, hasil ini kecil kemungkinan akan mengubah arah kebijakan, setelah pekan lalu para pejabat bank sentral memberi sinyal dua kali lagi pemangkasan suku bunga seperempat poin sebelum akhir tahun.
The Fed menggunakan PCE sebagai indikator utama inflasi karena dianggap memberi gambaran lebih luas dibanding laporan lain seperti indeks harga konsumen (CPI), dan mencakup perubahan kebiasaan belanja konsumen. Memang, bank sentral juga memperhatikan banyak data lainnya.
Futures pasar saham menambah kenaikan setelah laporan tersebut sementara imbal hasil Treasury sedikit melemah.
Laporan ini juga menunjukkan bahwa tarif yang diberlakukan Presiden Donald Trump hanya memiliki dampak terbatas terhadap harga konsumen. Walaupun banyak ekonom memperkirakan tarif besar-besaran Trump akan mendorong kenaikan harga, perusahaan mengandalkan persediaan sebelum tarif diberlakukan dan langkah penyerapan biaya untuk membatasi dampaknya.
Harga barang naik 0,1% sementara jasa meningkat 0,3%. Makanan mencatat kenaikan 0,5% sementara energi melonjak 0,8%. Biaya perumahan naik 0,4%.
Selain itu, data menunjukkan konsumen tetap tangguh meskipun ada gelombang tarif, terus membelanjakan secara kuat seiring pendapatan yang terjaga. Tingkat tabungan pribadi juga meningkat bulan ini, naik menjadi 4,6%, bertambah 0,2 poin persentase.
“Secara keseluruhan, konsumen benar-benar menunjukkan performa luar biasa dengan lonjakan belanja yang sangat kuat, tidak hanya pada Agustus, tetapi juga Juni dan Juli,” beber Chris Rupkey, kepala ekonom di Fwdbonds, seperti dikutip CNBC. Musim panas, menurut dia, adalah waktu untuk belanja balas dendam setelah sebelumnya menahan diri dari toko dan mal akibat ketidakpastian serta ketakutan yang ditimbulkan oleh kebijakan tarif Gedung Putih pada April dan Mei.
Baca Juga
The Fed Pangkas Suku Bunga 25 Bps, Indikasikan Pemotongan Lanjutan
Pejabat The Fed termasuk Ketua Jerome Powell mengatakan skenario yang mungkin terjadi dari tarif adalah dampak sementara terhadap harga, bukan penyebab jangka panjang inflasi inti. Namun, beberapa pembuat kebijakan tetap menyuarakan keraguan dan melihat ruang yang terbatas untuk pemangkasan suku bunga lebih lanjut.
Pasar sangat yakin akan adanya pemangkasan suku bunga pada Oktober, meskipun antusiasme lebih rendah untuk pergerakan lain pada Desember. Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pekan lalu menyetujui pemangkasan seperempat poin pada suku bunga dana federal, pelonggaran pertama tahun ini yang menurunkan suku bunga acuan ke kisaran target 4%-4,25%.

