Israel Gempur Gaza, Setidaknya 200 Orang Dilaporkan Tewas
Israel Gempur Gaza, Setidaknya 200 Orang Tewas
KAIRO, investortrust.id – Militer Israel gempur Gaza. Serangan udara menghantam puluhan target pada Selasa pagi (18/03/2025), mengakhiri kebuntuan selama berminggu-minggu terkait perpanjangan gencatan senjata yang menghentikan pertempuran sejak Januari.
Menurut otoritas kesehatan Palestina, serangan udara Israel di Gaza itu menewaskan setidaknya 200 orang.
Baca Juga
AS dan Israel Skenariokan Afrika Jadi Tempat Tinggal Warga Gaza
Serangan dilaporkan terjadi di berbagai lokasi, termasuk Gaza utara, Kota Gaza, serta Deir al-Balah, Khan Younis, dan Rafah di Gaza tengah dan selatan. Pejabat Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan banyak dari korban tewas adalah anak-anak.
Militer Israel, yang mengklaim telah menyerang puluhan target, menyatakan serangan akan terus berlanjut selama diperlukan dan tidak terbatas pada serangan udara saja, meningkatkan kemungkinan bahwa pasukan darat Israel dapat kembali bertempur.
Seperti dilansir Reuters, serangan ini jauh lebih luas dibandingkan serangkaian serangan drone reguler yang sebelumnya dilakukan Israel terhadap individu atau kelompok kecil militan yang dicurigai. Serangan ini terjadi setelah upaya selama berminggu-minggu untuk memperpanjang gencatan senjata yang disepakati pada 19 Januari gagal.
Di rumah sakit-rumah sakit yang kewalahan setelah 15 bulan pemboman, tumpukan jenazah yang dibungkus plastik putih berlumuran darah terlihat menumpuk saat korban-korban baru terus berdatangan.
Palang Merah Palestina mengatakan timnya menangani 86 korban tewas dan 134 orang luka-luka, tetapi banyak lainnya dibawa ke rumah sakit yang sudah kewalahan dengan mobil pribadi.
Pejabat dari Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Rumah Sakit Al-Aqsa di Gaza tengah, dan Rumah Sakit Al-Ahly di Kota Gaza, yang semuanya mengalami kerusakan parah akibat perang, mengatakan mereka menerima sekitar 85 jenazah. Otoritas juga melaporkan secara terpisah bahwa 16 anggota satu keluarga di Rafah, Gaza selatan, tewas dalam serangan tersebut. Juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza menyebut jumlah korban tewas mencapai setidaknya 200 orang.
Hamas menyatakan bahwa Israel telah membatalkan kesepakatan gencatan senjata, meninggalkan nasib 59 sandera yang masih ditahan di Gaza dalam ketidakpastian.
Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuduh Hamas "berulang kali menolak membebaskan sandera kami" dan menolak proposal yang diajukan oleh utusan Timur Tengah Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff.
"Mulai sekarang, Israel akan bertindak melawan Hamas dengan kekuatan militer yang meningkat," sebut pernyataan tersebut.
Di Washington, juru bicara Gedung Putih mengatakan bahwa Israel telah berkonsultasi dengan pemerintahan AS sebelum melakukan serangan ini, yang menurut militer menargetkan komandan tingkat menengah Hamas, pejabat kepemimpinan, serta infrastruktur militan.
Baca Juga
Berencana Ambil Alih Gaza, Trump Sebut Warga Palestina Tak Berhak Kembali
"Hamas bisa saja membebaskan sandera untuk memperpanjang gencatan senjata, tetapi mereka memilih penolakan dan perang," kata juru bicara Gedung Putih, Brian Hughes.
Di Gaza, saksi mata yang dihubungi Reuters mengatakan tank-tank Israel menembaki area di Rafah, Gaza selatan, memaksa banyak keluarga yang telah kembali ke rumah mereka setelah gencatan senjata dimulai untuk meninggalkan rumah mereka dan bergerak ke utara menuju Khan Younis.
Kebuntuan
Tim perunding dari Israel dan Hamas berada di Doha saat para mediator dari Mesir dan Qatar berusaha menjembatani perbedaan antara kedua pihak setelah fase awal gencatan senjata berakhir. Fase tersebut menghasilkan pembebasan 33 sandera Israel dan lima warga Thailand oleh kelompok militan di Gaza sebagai imbalan atas sekitar 2.000 tahanan Palestina.
Dengan dukungan Amerika Serikat, Israel telah mendesak pembebasan 59 sandera yang tersisa di Gaza sebagai imbalan atas gencatan senjata jangka panjang yang akan menghentikan pertempuran hingga setelah bulan suci Ramadan dan perayaan Paskah Yahudi pada April.
Namun, Hamas bersikeras untuk melanjutkan negosiasi menuju penghentian perang secara permanen dan penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza, sesuai dengan ketentuan awal perjanjian gencatan senjata.
"Kami menuntut para mediator untuk menuntut pertanggungjawaban penuh dari Netanyahu dan pendudukan Zionis atas pelanggaran dan pembatalan perjanjian ini," kata Hamas.
Masing-masing pihak saling menuduh tidak menghormati ketentuan perjanjian gencatan senjata Januari, dan selama fase pertama terdapat berbagai hambatan. Namun, hingga saat ini, kembalinya pertempuran penuh masih dapat dihindari.
Israel telah berulang kali memblokir pengiriman bantuan ke Gaza dan mengancam akan melanjutkan pertempuran jika Hamas tidak setuju untuk mengembalikan para sandera yang masih ditahannya.
Militer Israel tidak memberikan rincian mengenai serangan yang dilakukan pada Selasa pagi, tetapi otoritas kesehatan Palestina dan saksi mata melaporkan kerusakan di berbagai wilayah di Gaza, di mana ratusan ribu orang tinggal di tempat penampungan darurat atau bangunan yang rusak.
Sebuah bangunan di Kota Gaza, bagian utara Jalur Gaza, terkena serangan, dan setidaknya tiga rumah dihantam di Deir Al-Balah, Gaza tengah. Selain itu, serangan juga menghantam target di kota selatan Khan Younis dan Rafah, menurut tenaga medis dan saksi mata.
Baca Juga
Berencana Ambil Alih Gaza, Trump Ingin Membangun 'Riviera Timur Tengah'
Di antara mereka yang tewas adalah pejabat senior Hamas, Mohammad Al-Jmasi, anggota biro politik Hamas, serta anggota keluarganya, termasuk cucunya yang berada di rumahnya di Kota Gaza ketika serangan udara menghantam. Sumber Hamas dan kerabat menyatakan bahwa setidaknya lima pejabat senior Hamas tewas, bersama dengan anggota keluarga mereka.
Sebagian besar wilayah Gaza kini hancur setelah 15 bulan pertempuran yang dimulai pada 7 Oktober 2023, ketika ribuan militan yang dipimpin Hamas menyerang komunitas Israel di sekitar Jalur Gaza, menewaskan sekitar 1.200 orang menurut data Israel, dan menculik 251 sandera ke Gaza.
Sebagai respons, kampanye militer Israel telah menewaskan lebih dari 48.000 orang, menurut otoritas kesehatan Palestina, serta menghancurkan sebagian besar perumahan dan infrastruktur di wilayah tersebut, termasuk sistem rumah sakit.

