53 Tewas, AS Sebut Serangan terhadap Houthi Akan Terus Berlanjut
WASHINGTON, investortrust.id - Amerika Serikat akan terus menyerang kelompok Houthi di Yaman hingga mereka menghentikan serangan terhadap kapal-kapal di laut. Sementara kelompok yang didukung Iran itu mengisyaratkan kemungkinan eskalasi sebagai respons terhadap serangan mematikan AS sehari sebelumnya.
Baca Juga
Serangan udara AS, menurut Kementerian Kesehatan yang dikelola Houthi, menewaskan sedikitnya 53 orang. Ini merupakan operasi militer terbesar AS di Timur Tengah sejak Presiden Donald Trump menjabat pada Januari. Seorang pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa kampanye ini mungkin akan berlangsung selama beberapa minggu.
Pemimpin Houthi, Abdul Malik al-Houthi, mengatakan pada Minggu (16/03/2025) bahwa para militan kelompoknya akan menargetkan kapal-kapal AS di Laut Merah selama AS terus menyerang Yaman. "Jika mereka melanjutkan agresi mereka, kami akan terus meningkatkan eskalasi," katanya dalam pidato yang disiarkan televisi.
Biro politik Houthi menyebut serangan ini sebagai "kejahatan perang," sementara Moskow mendesak Washington untuk menghentikan serangan.
Juru bicara militer Houthi dalam pernyataan yang disiarkan televisi pada Senin pagi mengklaim tanpa bukti bahwa kelompok itu telah melancarkan serangan kedua terhadap kapal induk AS USS Harry S. Truman di Laut Merah.
Pesawat tempur AS menembak jatuh 11 drone Houthi pada Minggu, tetapi tidak ada yang mendekati Truman, kata seorang pejabat AS kepada Reuters. Pasukan AS juga melacak sebuah rudal yang jatuh di lepas pantai Yaman dan tidak dianggap sebagai ancaman, tambah pejabat tersebut.
"Begitu Houthi mengatakan mereka akan berhenti menembaki kapal-kapal kami, kami akan berhenti menembaki drone mereka. Kampanye ini akan berakhir, tetapi hingga saat itu, kami tidak akan berhenti," kata Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dalam acara di Fox News:
"Ini tentang menghentikan serangan terhadap aset ... di jalur perairan yang kritis itu, untuk mengembalikan kebebasan navigasi, yang merupakan kepentingan nasional utama AS. Iran telah mendukung Houthi terlalu lama. Mereka sebaiknya mundur," tegas Hegseth.
Kelompok Houthi, yang telah menguasai sebagian besar wilayah Yaman selama satu dekade terakhir, pekan lalu mengatakan mereka akan melanjutkan serangan terhadap kapal-kapal Israel yang melewati Laut Merah jika Israel tidak mencabut blokade bantuan ke Gaza.
Mereka telah meluncurkan puluhan serangan terhadap kapal sejak perang Israel dengan Hamas dimulai pada akhir 2023, dengan alasan solidaritas terhadap rakyat Palestina di Gaza.
Trump juga memperingatkan Iran, pendukung utama Houthi, untuk segera menghentikan dukungan terhadap kelompok tersebut. Ia mengatakan jika Iran mengancam Amerika Serikat, "Amerika akan meminta pertanggungjawaban penuh dari kalian, dan kami tidak akan bersikap lunak!"
Baca Juga
Dianggap Ancaman Langsung, Militer AS Hancurkan 4 Drone Houthi Yaman
Iran Peringatkan AS
Sebagai tanggapan, Hossein Salami, komandan tertinggi Garda Revolusi Iran, mengatakan bahwa Houthi mengambil keputusan mereka sendiri.
"Kami memperingatkan musuh-musuh kami bahwa Iran akan merespons dengan tegas dan destruktif jika mereka melaksanakan ancaman mereka," katanya kepada media pemerintah.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, pada Minggu menyerukan "penahanan maksimal dan penghentian semua aktivitas militer" di Yaman serta memperingatkan bahwa eskalasi baru dapat "memicu siklus balas dendam yang dapat semakin memperburuk stabilitas Yaman dan kawasan, serta menimbulkan risiko besar bagi situasi kemanusiaan yang sudah mengerikan di negara tersebut," kata juru bicaranya dalam sebuah pernyataan.
Baca Juga
Sekjen PBB Khawatir Terjadi Eskalasi Setelah Israel Serang Houthi
"Tidak mungkin Houthi dapat melakukan hal ini tanpa dukungan dari Iran. Jadi ini adalah pesan untuk Iran: jangan terus mendukung mereka, karena jika demikian, kalian juga akan bertanggung jawab atas serangan mereka terhadap kapal Angkatan Laut dan kapal-kapal dagang global," kata Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam acara di CBS News:
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, menghubungi Rubio untuk mendesak "penghentian segera penggunaan kekuatan dan pentingnya semua pihak terlibat dalam dialog politik," kata Moskow.
Anees Alsbahi, juru bicara Kementerian Kesehatan yang dikelola Houthi, mengatakan bahwa lima anak dan dua wanita termasuk di antara 53 orang yang tewas akibat serangan AS. Sebanyak 98 orang lainnya terluka, menurut kementerian tersebut.
Pentagon tidak segera menanggapi permintaan komentar tentang klaim korban sipil ini. Reuters tidak dapat secara independen memverifikasi klaim tersebut.
Penduduk di Sanaa mengatakan bahwa serangan menghantam lingkungan yang dikenal sebagai tempat tinggal beberapa anggota kepemimpinan Houthi.
"Ledakan itu sangat dahsyat dan mengguncang lingkungan seperti gempa bumi. Itu membuat wanita dan anak-anak kami ketakutan," kata seorang warga bernama Abdullah Yahia.
Di Sanaa, sebuah crane dan buldoser digunakan untuk membersihkan puing-puing di salah satu lokasi, sementara beberapa orang menggunakan tangan kosong untuk mengangkat reruntuhan. Di rumah sakit, tenaga medis merawat korban luka, termasuk anak-anak, dan beberapa jasad korban dibungkus plastik di halaman, menurut rekaman Reuters. Serangan juga menargetkan lokasi militer Houthi di kota Taiz, kata dua saksi mata.
Ganggu Perdagangan Global
Serangan lainnya, yang menghantam pembangkit listrik di kota Dahyan, menyebabkan pemadaman listrik, lapor Al-Masirah TV pada Minggu pagi. Dahyan adalah tempat di mana Abdul Malik al-Houthi, pemimpin Houthi yang misterius, sering menerima tamu.
Serangan Houthi terhadap kapal-kapal dagang telah mengganggu perdagangan global dan memaksa militer AS melakukan kampanye mahal untuk mencegat rudal dan drone.
Kelompok ini sempat menghentikan serangan mereka ketika Israel dan Hamas menyepakati gencatan senjata di Gaza pada Januari.
Namun pada 12 Maret, Houthi mengatakan ancaman mereka terhadap kapal-kapal Israel akan tetap berlaku hingga Israel kembali mengizinkan masuknya bantuan dan makanan ke Gaza.

