Fokus Cegah Krisis Keuangan, Menkeu AS Tak Khawatir Gejolak di Pasar Saham
WASHINGTON, investortrust.id - Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan bahwa pemerintahan Trump sedang berfokus pada pencegahan krisis keuangan, yang bisa terjadi akibat pengeluaran besar-besaran pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.
Bessent mengaku tidak khawatir dengan pasar saham, yang telah mengalami penurunan beberapa kali akibat ancaman tarif Presiden Donald Trump.
Baca Juga
Ancaman Tarif Trump Bikin Wall Street Ambruk Lagi, Dow Ambles Lebih dari 500 Poin
“Saya telah berkecimpung di dunia investasi selama 35 tahun, dan saya bisa mengatakan bahwa koreksi pasar itu sehat. Itu normal. Yang tidak sehat adalah jika pasar terus naik tanpa henti,” kata Bessent dalam wawancara di NBC News, Minggu (16/03/2025).
“Pasar yang terlalu euforia justru menyebabkan krisis keuangan,” tambahnya.
Indeks saham utama mengalami penurunan dalam beberapa minggu terakhir akibat ancaman tarif dari Trump. CNBC sebelumnya melaporkan bahwa nilai S&P 500 telah turun sekitar $5 triliun dalam tiga minggu.
Trump telah berubah-ubah dalam kebijakannya terkait tarif terhadap Kanada dan Meksiko, dua mitra dagang terdekat AS, sambil mengancam tarif tinggi terhadap sekutu lainnya seperti Uni Eropa. Presiden juga telah menerapkan tarif besar pada aluminium dan baja. Bessent mengonfirmasi bahwa tarif “timbal balik” Trump terhadap negara lain akan mulai berlaku pada 2 April.
Baca Juga
Trump Ancam Tarif 200% pada Sampanye Prancis dan Minuman Beralkohol Uni Eropa
“Saya tidak khawatir tentang pasar. Dalam jangka panjang, jika kita menerapkan kebijakan pajak yang baik, deregulasi, dan keamanan energi, pasar akan berkembang dengan baik,” kata Bessent.
Fluktuasi pasar saham telah memicu kekhawatiran akan masalah ekonomi jangka panjang, dan Bessent tidak menutup kemungkinan terjadinya resesi, yang tidak bisa diprediksi.
“Jadi, saya bisa memprediksi bahwa kami menerapkan kebijakan yang kuat dan tahan lama, dan apakah akan ada penyesuaian? Bisa saja,” katanya, seraya menambahkan bahwa negara perlu mengurangi ketergantungan pada “pengeluaran besar-besaran pemerintah.”
Sebelumnya, Trump menolak untuk sepenuhnya menepis kemungkinan resesi dan mengakui bahwa rakyat Amerika mungkin akan merasakan dampak ekonomi akibat kebijakannya.
Perbaikan Fiskal
Presiden Donald Trump menjadikan perbaikan kondisi fiskal pemerintah sebagai prioritas sejak menjabat. Ia membentuk Departemen Efisiensi Pemerintah yang dipimpin oleh Elon Musk untuk memimpin pemangkasan pekerjaan dan insentif pensiun dini di berbagai lembaga federal.
Namun, masalah utang dan defisit AS semakin memburuk pada bulan pertama Trump menjabat, dengan defisit anggaran untuk bulan Februari melampaui angka $1 triliun.
Baca Juga
Senat AS Setujui RUU Anggaran Partai Republik, Cegah Penutupan Pemerintah (Shutdown)
Pasar telah mengalami gejolak belakangan ini karena tarif luas yang diterapkan Trump memicu kekhawatiran tentang inflasi dan perlambatan ekonomi. Pada hari Kamis, indeks S&P 500 mengalami koreksi 10% dari puncaknya di bulan Februari akibat lonjakan volatilitas.

