Layanan Microsoft Skype Sampaikan Selamat Tinggal, Ditutup pada Mei 2025
WASHINGTON, Investortrust.id - Raksasa teknologi Microsoft telah mengonfirmasi rencana untuk menutup platform video konferensi Skype, 14 tahun setelah mengakuisisi aplikasi yang berbasis di Eropa tersebut.
Didirikan pada tahun 2003 oleh tim pengembang dan pengusaha dari berbagai negara di Eropa, Skype dengan cepat mengganggu industri telepon rumah dan membuka jalan bagi platform komunikasi masa depan seperti Zoom, Microsoft Teams, dan Google Hangouts.
"Kami tahu ini adalah perubahan besar bagi para pengguna Skype, dan kami sangat berterima kasih atas dukungan mereka terhadap Skype serta semua pembelajaran yang telah berkontribusi pada pengembangan Teams selama tujuh tahun terakhir," ujar Jeff Teper, Presiden Microsoft 365 Collaborative Apps and Platforms, kepada TechCrunch Sabtu (1/3/2025).
"Saat ini, kami memusatkan seluruh perhatian pada Teams yang akan memungkinkan kami menyampaikan pesan yang lebih sederhana dan mendorong inovasi lebih cepat," imbuhnya.
Baca Juga
Kemenkomdigi dan Google Luncurkan Google Play Protect, Apa Fungsinya?
Salah satu pendiri Skype, yakni Jaan Tallinn belakangan dikenal sebagai investor startup terkemuka, mendukung perusahaan AI seperti DeepMind dan Anthropic. Langkah ini ia lakukan setelah menjual sahamnya di Skype.
Investasi terbaru Tallinn termasuk Unlikely AI, startup berbasis di London yang didirikan oleh mantan kepala unit Alexa Amazon. Startup ini bertujuan untuk mengurangi jumlah "halusinasi" yang dihasilkan oleh model bahasa besar.
Rekan pendiri Skype lainnya, Niklas Zennström, kemudian mendirikan Atomico, salah satu perusahaan modal ventura paling berpengaruh di Eropa, yang telah mendukung perusahaan raksasa seperti Stripe, Klarna, dan DeepL.
Menulis di LinkedIn setelah pengumuman tersebut, Zennström menyampaikan: "Kami membangun Skype untuk menghancurkan monopoli telekomunikasi dan membuat dunia menjadi lebih kecil. Secara instan, para ekspatriat, pelancong bisnis, wisatawan, serta mereka yang meninggalkan negara asal mereka dalam kondisi yang jauh lebih sulit memiliki cara untuk tetap terhubung dengan orang-orang tercinta—sepenuhnya gratis."
"Skype adalah produk revolusioner pada masanya, dan saya akan selalu bangga serta berterima kasih kepada para anggota tim awal dan para investor yang telah mempercayai kami," imbuh Zennström.
Menghilangnya Skype dari pasar persaingan, dipastikan akan makin membuka jalan bagi kesuksesan aplikasi serupa, yakni Zoom dan Google Hangouts.

