Exit Poll Pemilu Jerman: Konservatif Menang, Olaf Scholz Tersingkir
BERLIN, investortrust.id - Uni Demokrat Kristen (CDU) dan sekutunya, Uni Sosial Kristen (CSU), memperoleh suara terbanyak dalam pemilu federal Jerman.
Hal ini terungkap dari exit poll televisi Jerman ZDF, yang disiarkan Minggu (23/02/2025) waktu setempat.
Hasil ini menempatkan kandidat utama partai tersebut, Friedrich Merz, dalam posisi terdepan untuk menggantikan Olaf Scholz sebagai kanselir ekonomi terbesar di Eropa.
Baca Juga
Kanselir Jerman Olaf Scholz Kalah di Parlemen, Buka Jalan Pemilu Dini Februari 2025
CDU-CSU meraih 28,5% suara, dengan Partai Alternatif untuk Jerman (AfD) yang berhaluan sayap kanan ekstrem di posisi kedua dengan 20%, dan Partai Sosial Demokrat (SPD) pimpinan Scholz di posisi ketiga dengan 16,5%, menurut data survei keluar ZDF.
"Kami memenangkan ini karena CDU dan CSU bekerja sama dengan baik dan kami sangat siap menghadapi pemilu ini serta mengambil alih tanggung jawab pemerintahan," kata Merz, menurut terjemahan CNBC, seraya mengucapkan terima kasih kepada ketua CSU Markus Söder dan para pendukung lainnya. Ia menyebut ini merupakan hasil kampanye yang luar biasa.
Ia mengakui bahwa tantangan yang ada tidak akan mudah diatasi, dan menekankan bahwa kini saatnya bagi kelompok politik untuk mengadakan pembicaraan dan segera membentuk pemerintahan baru.
Baca Juga
"Ini adalah hasil pemilu yang pahit bagi Partai Sosial Demokrat. Ini juga merupakan kekalahan dalam pemilu, dan saya pikir itu harus dikatakan dengan jelas sejak awal, mengingat hasil seperti ini," kata Scholz di markas besar partainya, sambil mengucapkan terima kasih kepada para pendukung dan tim kampanyenya. Ia juga menyatakan bahwa dirinya bertanggung jawab atas hasil pemilu kali ini, mengingat SPD tampil lebih baik dalam pemilu federal sebelumnya. Namun, ia mengakui hasil pemilu yang buruk dan siap bertanggung jawab.
Scholz juga memberikan selamat kepada Merz dan CDU-CSU atas keberhasilan mereka dalam pemilu.
CDU dan partai regionalnya, CSU, memang berada di puncak survei menjelang pemilu, meskipun dukungan terhadap mereka sedikit menurun sesaat sebelum pemungutan suara. AfD berada di posisi kedua dalam jajak pendapat, diikuti oleh SPD.
Hasil ini menandai penurunan dukungan bagi SPD, yang meraih posisi teratas dalam pemilu 2021, diikuti oleh CDU/CSU. Saat itu, AfD hanya menempati posisi keempat.
.
Ambang Batas 5%
Pada hari Minggu, pemilih Jerman memberikan dua suara: satu untuk memilih anggota parlemen secara langsung yang mewakili daerah pemilihan mereka, dan satu lagi untuk daftar partai. Suara kedua ini menentukan komposisi proporsional Bundestag, parlemen Jerman, dengan partai-partai mengirim kandidat mereka ke Berlin untuk memastikan perwakilan.
Partai-partai harus mencapai ambang batas 5% untuk mendapatkan kursi di parlemen. Yang menarik, kelompok yang memperoleh suara sekitar angka ini sering kali menjadi "kingmaker" dalam pembentukan koalisi pasca pemilu.
Salah satu fokus utama dalam pemilu ini adalah bagaimana partai-partai kecil berkinerja, karena hal ini dapat memengaruhi pembentukan koalisi serta kemampuan pemerintahan baru untuk mereformasi aturan konstitusional, misalnya terkait pengeluaran dan utang. Untuk melakukan perubahan tersebut, mereka memerlukan mayoritas dua pertiga.
Para pengamat juga mengamati dengan cermat kinerja AfD di tengah pergeseran politik ke kanan yang lebih luas di dunia Barat.
Pemilu ini berlangsung di tengah situasi politik dan ekonomi yang bergejolak di Jerman.
Baca Juga
Pemungutan suara pada hari Minggu ini merupakan pemilu dini keempat dalam sejarah negara tersebut dan terjadi setelah koalisi pemerintahan sebelumnya yang terdiri dari SPD, Partai Hijau, dan Partai Demokrat Bebas (FDP) runtuh akhir tahun lalu, sesuatu yang jarang terjadi dalam politik Jerman. Perpecahan itu disebabkan oleh perselisihan mendalam yang telah berlangsung lama mengenai kebijakan ekonomi, fiskal, dan anggaran.
Kebijakan-kebijakan ini juga akan menjadi agenda utama dalam proses pembentukan koalisi pasca pemilu dan pemerintahan selanjutnya, terutama mengingat kondisi ekonomi Jerman yang lesu, dengan kontraksi yang terjadi pada tahun 2023 dan 2024. Tantangan lainnya termasuk ketergantungan tinggi pada ekspor, krisis perumahan, serta kesulitan di sektor otomotif yang menjadi kunci ekonomi negara.
Pemerintahan baru .harus menghadapi perdebatan sengit di dalam negeri mengenai imigrasi, meningkatnya popularitas kelompok sayap kanan, serta ketegangan yang lebih luas antara Eropa dan Amerika Serikat. Terutama, terkait kebijakan perdagangan dan perang Ukraina yang dijalankan oleh Presiden Donald Trump dalam masa jabatan keduanya.

