Jerman Diprediksi Alami Resesi 3 Tahun Berturut-turut
JAKARTA, Investortrust.id - Lembaga riset Jerman Handelsblatt Research Institute (HRI) memperkirakan perekonomian Jerman akan mengalami resesi selama tiga tahun berturut-turut, kondisi yang belum pernah terjadi sejak Perang Dunia Kedua.
Menurut paparan lembaga riset ini yang dipublikasikan pada 1 Januari lalu, perekonomian Jerman akan menyusut sebesar 0,1% pada tahun 2025, setelah merosot sebesar 0,2% pada tahun 2024 dan 0,3% pada tahun 2023.
Para peneliti mengatakan situasi panjangnya masa kering dalam sejarah Republik Federal Jerman ini belum pernah terjadi. Namun demikian mereka menyebutkan ada harapan bahwa di tahun 2026 ekonomi Jerman berpotensi tumbuh sebesar 0,9%.
“Perekonomian Jerman berada dalam krisis terbesar dalam sejarah pascaperang. Pandemi, krisis energi, dan inflasi rata-rata membuat masyarakat Jerman menjadi lebih miskin,” kata kepala ekonom Handelsblatt, Bert Rürup seperti dilansir brusselsignal.eu, Jumat (3/1/2025).
Mengingat potensi pertumbuhan yang telah turun menjadi 0,5%, dan tidak disertai perbaikan dalam waktu dekat, Rurup menyebut perekonomian berada pada awal pelemahan yang cukup dalam.
Disebutkan pula oleh Rurup, belanja konsumen tetap menjadi satu-satunya pilar penopang perekonomian. Konsumsi swasta pada akhir tahun 2025 diperkirakan hanya sedikit melebihi tingkat sebelum pandemi pada tahun 2019, sementara belanja pemerintah diproyeksikan meningkat sekitar 12% pada periode yang sama.
Baca Juga
Jerman Hapus Utang RI untuk Penanganan HIV dan TBC Rp 1,27 Triliun
Hal yang lebih mengkhawatirkan menurut HRI, adalah proyeksi akan terjadi penurunan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi, yang merupakan pendorong penting bagi inovasi dan pertumbuhan ekonomi lokal. Tingkat investasi pada tahun 2026 diperkirakan akan sama dengan tingkat investasi pada akhir tahun 2016.
Di sisi lain potensi angka inflasi juga menghadirkan tantangan lain. Suku bunga diproyeksikan akan tetap di atas 2% hingga tahun 2025 dan 2026, sehingga menciptakan dilema bagi Bank Sentral Eropa (ECB).
ECB dilaporkan menghadapi tekanan yang sama kuatnya, antara kebutuhan untuk meningkatkan perekonomian yang lesu di seluruh sektor dengan cara memotong suku bunga, dan mempertahankan suku bunga yang lebih tinggi untuk memerangi inflasi yang ‘membandel’.
Rekor penurunan perekonomian Jerman sebelumnya terjadi pada awal abad ke-21, berlangsung selama dua tahun. Kondisi tersebut akhirnya memberikan jalan bagi pertumbuhan yang kuat sejak tahun 2005, hingga krisis keuangan global kembali melanda pada akhir tahun 2008.
“Bahkan jika pemerintah ingin mendapatkan citra positif dari publik dengan program stimulus sebelum pemilu, kendalanya adalah minimnya dana untuk melakukan itu,” kata Rürup.
Stagnasi makroekonomi yang sedang berlangsung juga kemungkinan akan mendorong pengusaha di sektor swasta untuk menahan kenaikan upah. Upah riil pada kuartal kedua tahun 2024 masih berada pada tingkat upah riil pada musim semi 2017, yang berarti rata-rata penduduk Jerman menjadi lebih miskin.
Masalah khusus terletak pada pasar energi. Karena Jerman mengerahkan seluruh upayanya dalam bidang energi terbarukan dan menutup pembangkit listrik tenaga nuklirnya. Padahal Jerman baru mampu memenuhi kebutuhannya sendiri jika kondisi angin dan sinar matahari untuk pembangkit listrik ikut mendukung.
Artinya, ketika harga listrik rendah Jerman dapat mengekspor. Tapi di lain waktu, seperti saat musim dingin, Jerman justru harus mengimpor energi dengan harga tinggi.

