Bank Sentral Australia Pangkas Suku Bunga 25 Bps, Pertama Kali dalam Lebih dari 4 Tahun
SYDNEY, investortrust.id - Reserve Bank of Australia (RBA) memangkas suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam lebih dari empat tahun, seiring dengan melemahnya inflasi yang membuka ruang bagi pelonggaran kebijakan.
RBA memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,10%, menandai langkah pelonggaran pertama sejak November 2020, ketika bank sentral menurunkan suku bunga ke rekor terendah dalam upaya menangani perlambatan ekonomi selama pandemi.
Baca Juga
Bank Sentral Australia Pertahankan Suku Bunga, Pasar Asia Pasifik Rebound
"Keputusan kebijakan hari ini mengakui kemajuan yang menggembirakan dalam inflasi, namun Dewan tetap berhati-hati terhadap prospek pelonggaran kebijakan lebih lanjut," kata anggota dewan RBA dalam pernyataannya, Selasa (18/02/2025), seperti dikutip CNBC.
Pernyataan tersebut mengisyaratkan niat bank sentral untuk menjaga "setiap penarikan lebih lanjut dari pembatasan moneter" tetap bertahap, tulis Abhijit Surya, ekonom senior APAC di Capital Economics, dalam sebuah catatan.
Dengan nada kebijakan yang masih cenderung hawkish, Surya memperkirakan siklus pelonggaran ini akan "berumur pendek," dengan hanya dua kali pemangkasan suku bunga dalam siklus saat ini, serta memperkirakan suku bunga terminal di 3,60%.
RBA telah mempertahankan suku bunga kebijakan tetap di 4,35% sejak November 2023, setelah periode panjang 13 kali kenaikan suku bunga untuk menekan inflasi.
Keputusan pada hari Selasa sejalan dengan ekspektasi pasar, dengan obligasi pemerintah menguat dalam beberapa pekan terakhir akibat antisipasi pemangkasan suku bunga. Imbal hasil obligasi pemerintah Australia bertenor 10 tahun turun hampir 20 basis poin sejak 13 Januari menjadi 4,450% pada hari Selasa, menurut data LSEG.
RBA tertinggal dari bank sentral utama lainnya yang memulai siklus pelonggaran sejak akhir tahun lalu.
Dalam pertemuan kebijakan terakhirnya pada bulan Desember, bank sentral menyatakan lebih yakin bahwa inflasi menurun, yang memungkinkan peluang pelonggaran kebijakan di masa depan.
Inflasi Australia selama 12 bulan hingga kuartal Desember turun menjadi 2,4%, dibandingkan dengan 2,8% dalam 12 bulan hingga kuartal September, menurut data Biro Statistik Australia. RBA telah menetapkan target inflasi jangka menengah di kisaran 2% hingga 3%.
RBA menyebut tekanan inflasi "mereda sedikit lebih cepat dari yang diperkirakan," seraya mencatat bahwa bank sentral semakin yakin inflasi bergerak "secara berkelanjutan" menuju titik tengah targetnya.
Baca Juga
Tunggu Data Inflasi Australia dan Jepang, Pasar Asia Pasifik Mayoritas Melemah
Salah satu faktor yang menahan penurunan suku bunga adalah kekuatan pasar tenaga kerja, dengan tingkat pengangguran bertahan di dekat level terendah historis sebesar 4,0% pada bulan Desember. "Beberapa data pasar tenaga kerja baru-baru ini menunjukkan hasil yang lebih kuat dari perkiraan, mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja mungkin lebih ketat dari yang diperkirakan sebelumnya," beber RBA.
Pemangkasan biaya pinjaman ini akan menjadi dorongan bagi pemerintahan Partai Buruh saat mereka bersiap menghadapi pemilu yang sulit tahun ini, di tengah pertumbuhan ekonomi yang lesu.
Produk domestik bruto (PDB) Australia yang disesuaikan secara musiman naik 0,3% pada kuartal September, sementara pertumbuhan tahunan melambat menjadi 0,8% dari 1,0% pada kuartal sebelumnya, tingkat terendah sejak pandemi.
"Ada ketidakpastian yang signifikan mengenai prospek aktivitas ekonomi domestik dan inflasi. Proyeksi utama adalah pertumbuhan konsumsi rumah tangga akan meningkat seiring dengan meningkatnya pertumbuhan pendapatan. Namun, ada risiko bahwa pemulihan konsumsi lebih lambat dari yang diperkirakan," urai RBA dalam pernyataannya pada hari Selasa.
Dolar Australia sedikit menguat menjadi 0,6341 terhadap dolar AS. Indeks ASX 200 memperpanjang kerugiannya pada hari Selasa, turun 0,54%.

