Kebijakan Trump Bakal Jadi Ancaman Serius Dunia, India Ajak Indonesia Redam Dominasi Amerika
JAKARTA, investortrust.id – India mengajak Indonesia menjalin kerja sama yang lebih erat untuk meredam kekuatan Amerika Serikat (AS) yang terlalu dominan di kancah global. Di bawah kepemimpinan Trump, kebijakan ekonomi AS yang protektif-unilateral bakal menjadi ancaman serius bagi perekonomian dunia.
Menurut India’s G20 Sherpa, Amitabh Kant, AS merupakan negara kuat yang mampu mengendalikan ekonomi dunia. Dengan populasi hanya 4% dari total populasi dunia, AS menguasai 25-26% produk domestik bruto (PDB) global dan menikmati 45% kapitalisasi pasar dunia.
“Kita harus memahami bahwa hanya ada satu negara di dunia yang selama 40 tahun terakhir mempertahankan kontribusinya sebesar 25-26% terhadap PDB global, mengendalikan 45% kapitalisasi pasar dengan hanya 4% populasi dunia, yaitu AS,” kata Amitabh Kant dalam pertemuan terbatas dengan pengurus Kadin dan pemerintah Indonesia di New Delhi, India, Sabtu (25/1/2025).
Baca Juga
Prabowo Pastikan Indonesia Tak Lupakan Bantuan India kepada dalam Perjuangan Kemerdekaan
Amitabh Kant menggarisbawahi bahwa pergantian tongkat kepemimpinan AS dengan kebijakan-kebijakan baru yang dicanangkan Trump akan menjadi ancaman cukup serius bagi dunia.
“Jadi, ketika terjadi pergantian kekuasaan di AS, misalnya dari Demokrat ke Republik, dan presiden seperti Trump mengambil alih, lalu mengeluarkan perintah eksekutif, dampaknya sangat besar bagi dunia. Dampaknya mencakup konflik, institusi internasional, bahkan rantai pasok global karena kebijakan tarif,” ujar dia.
Untuk mengimbangi dominasi AS dan meredam dampak buruk kebijakan-kebijakan Trump, menurut Amitabh Kant, India dan Indonesia harus mengembangkan pasar domestik guna mendorong pertumbuhan ekonomi. Kedua negara juga harus memperkuat kerja sama bilateral untuk membendung ‘aturan Trump’.
“Oleh karena itu, di beberapa bidang, kita perlu memanfaatkan kekuatan pasar domestik kita untuk mendorong pertumbuhan. Jika tidak, slogan seperti ‘Make America Great Again’ mungkin baik untuk Amerika, tetapi dapat mengganggu dunia. Penting bagi kita untuk memastikan bahwa ekonomi kita tidak terpengaruh dalam proses tersebut,” tegas dia.
Trump disebut-sebut berencana menerapkan tarif atau bea masuk (BM) impor yang tinggi terhadap barang-barang dari Kanada dan Meksiko, disusul China dan Uni Eropa.
Melansir Reuters, Sabtu (25/1/2025), Trump menyatakan, pemerintahannya sedang mendiskusikan pemberlakuan tarif 10% terhadap barang-barang yang diimpor dari China per 1 Februari 2025. Trump sebelumnya juga mengatakan, Meksiko dan Kanada dapat menghadapi pungutan BM impor sekitar 25%.
Meskipun Trump nyatanya belum menerapkan tarif sebesar yang dia janjikan pada masa kampanyenya, kebijakannya terkait tarif perdagangan global masih menimbulkan ketidakpastian yang berkepanjangan.
Baca Juga
Berdasarkan informasi yang diterima investortrust.id, Presiden Prabowo Subianto bakal menuntaskan berbagai kesepakatan kerja sama Indonesia dan India. Hal itu dilakukan Prabowo dalam kunjungan kenegaraan ke Negeri Anak Benua itu.
Sebelum keberangkatan ke India di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (23/1/2025), Prabowo mengungkapkan, kesepakatan kerja sama itu meliputi bidang kesehatan, kebudayaan, keselamatan maritim, serta pengembangan teknologi dan digital.
“Saya juga akan bertemu dengan tokoh-tokoh industri, tokoh-tokoh pengusaha pengusaha dari India yang ingin investasi di Indonesia. Di situ hadir pula perwakilan dari Kadin kita,” tutur Prabowo.
Indonesia baru saja bergabung dengan BRICS yang dibentuk Rusia bersama China, Brazil, India, dan Afrika Selatan sebagai pakta ekonomi untuk mengimbangi dominasi AS.

