Pasar Asia Anjlok Imbas Pernyataan The Fed dan Aksi Jual di Wall Street
JAKARTA, investortrust.id - Saham dan mata uang di Asia-Pasifik jatuh pada hari Kamis (19/12/2024) di tengah aksi jual di pasar Wall Street. Pasar bereaksi setelah Federal Reserve AS mengumumkan pemotongan suku bunga ketiga secara berturut-turut dan mengisyaratkan pengurangan suku bunga yang lebih sedikit ke depan.
Baca Juga
Wall Street Ambruk, Dow Anjlok 1.100 Poin dan Catat Penurunan Terpanjang Sejak 1974
Investor juga mencermati keputusan Bank of Japan (BOJ) yang mempertahankan suku bunga kebijakannya tetap di 0,25% untuk pertemuan ketiga berturut-turut.
Yen Jepang melemah 0,74% menjadi 155,94 terhadap dolar AS, menyentuh level terendah dalam satu bulan, setelah Gubernur BOJ Kazuo Ueda menyatakan bahwa bank sentral akan terus menaikkan suku bunga kebijakan jika ekonomi bergerak sesuai dengan perkiraan.
Sebagai respons terhadap langkah bank sentral tersebut, indeks Nikkei 225 turun 0,69% menjadi 38.813,58, sementara Topix melemah 0,22% dan ditutup di 2.713,83.
Di Korea Selatan, dikutip dari CNBC, indeks Kospi anjlok 1,95% menjadi 2.435,93, sementara indeks Kosdaq turun 1,89% menjadi 684,36. Won Korea Selatan mendekati level terlemah sejak Maret 2009 dan terakhir diperdagangkan di angka 1.452,33 terhadap dolar AS.
Di Australia, indeks S&P/ASX 200 turun 1,7% dan ditutup di 8.168,2.
Indeks Hang Seng Hong Kong melemah 0,36% pada jam perdagangan terakhir, sementara indeks CSI 300 di daratan China naik tipis dan ditutup di 3.945,46.
Otoritas Moneter Hong Kong pada hari Kamis memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin, sejalan dengan langkah The Fed. Mata uang Hong Kong secara ketat dipatok terhadap dolar AS.
Di tempat lain, ekonomi Selandia Baru masuk ke dalam resesi, turun 1% pada kuartal September dibandingkan kuartal sebelumnya, menurut badan statistik resmi Stats NZ. Resesi didefinisikan sebagai dua kuartal berturut-turut mengalami kontraksi.
Sebelumnya di AS, Dow Jones Industrial Average anjlok 1.123,03 poin, atau 2,58%, menjadi 42.326,87, mencatatkan penurunan 10 hari berturut-turut untuk pertama kalinya sejak 1974. Indeks S&P 500 yang lebih luas turun 2,95% menjadi 5.872,16, sementara Nasdaq Composite merosot 3,56% menjadi 19.392,69.
Aksi jual di Wall Street terjadi setelah bank sentral AS menurunkan suku bunga pinjaman overnight sebesar 25 basis poin ke kisaran target 4,25% hingga 4,5%. Meskipun pemotongan ini sudah diantisipasi, The Fed mengindikasikan hanya akan ada dua pemotongan suku bunga pada tahun 2025, lebih sedikit dibandingkan empat pemotongan dalam perkiraan sebelumnya.
Baca Juga
Turunkan Suku Bunga 25 Bps, The Fed Indikasikan Dua Kali Pemangkasan pada 2025
"Kami bergerak cukup cepat untuk sampai ke sini, dan saya pikir ke depan jelas kami akan bergerak lebih lambat," kata Ketua The Fed Jerome Powell dalam konferensi pers setelah pertemuan.

