Tolak Mundur, Presiden Yoon Akan Berjuang Sampai Akhir
SEOUL, investortrust.id - Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol menolak untuk mundur dan akan berjuang sampai titik darah penghabisan.
Yoon membela keputusannya yang mengejutkan untuk menyatakan darurat militer pekan lalu. Ia mengatakan langkah tersebut diambil untuk melindungi demokrasi negara.
Baca Juga
Gawat, Presiden Korsel Yoon Suk Yeol Tetapkan Darurat Militer
Dalam pidato mendadak yang disiarkan di televisi pada Kamis (12/12/2024), ia menyatakan bahwa keputusan itu adalah langkah hukum untuk "mencegah kehancuran" demokrasi dan melawan "diktator parlemen" oleh pihak oposisi.
Yoon menyatakan bahwa ia tidak akan mundur menjelang pemungutan suara kedua untuk memakzulkannya di parlemen pada hari Sabtu. Ia menyatakan, akan tetap teguh, baik jika dimakzulkan maupun diselidiki. "Saya akan berjuang hingga akhir," ujarnya, seperti dikutip BBC.
Presiden dan sekutunya kini menghadapi penyelidikan atas tuduhan pemberontakan, dan beberapa di antara mereka telah dilarang meninggalkan Korea Selatan.
Namun, Yoon membantah bahwa perintah darurat militernya adalah tindakan pemberontakan, dengan mengklaim bahwa rival politiknya kini menciptakan "hasutan palsu" untuk menjatuhkannya.
Dalam pidatonya, yang pertama sejak ia meminta maaf akhir pekan lalu, Yoon mengulangi banyak argumen yang ia gunakan saat malam ia menyatakan darurat militer: bahwa oposisi berbahaya, dan bahwa dengan mengambil alih kendali, ia mencoba melindungi masyarakat dan mempertahankan demokrasi.
Namun, Yoon menambahkan bahwa ia tidak akan menghindari "tanggung jawab hukum dan politiknya."
Pemakzulan Lanjutan
Akhir pekan lalu, upaya anggota parlemen oposisi untuk memakzulkan presiden gagal setelah anggota partai penguasai memboikot pemungutan suara. Namun, anggota oposisi berencana mengadakan pemungutan suara pemakzulan lagi akhir pekan ini dan bersumpah untuk mengulanginya setiap Sabtu hingga Yoon lengser.
Baca Juga
Upaya Pemakzulan Gagal, tapi Posisi Presiden Yoon Belum Aman
Partai Yoon sebelumnya berharap dapat meyakinkan Presiden untuk mundur lebih awal, daripada memaksanya turun dari jabatan.
Beberapa menit sebelum Yoon berbicara, pemimpin partainya, Han Dong-hoon, muncul di televisi dan menyatakan bahwa jelas presiden tidak akan mundur. Han kemudian mendesak anggota partai untuk memilih menyingkirkannya dari jabatan pada Sabtu ini.
Jika parlemen Korea Selatan meloloskan undang-undang pemakzulan, sidang akan digelar oleh Mahkamah Konstitusi. Dua pertiga hakim di mahkamah tersebut harus menyetujui pemakzulan agar Yoon dicopot secara permanen.
Yoon telah menjadi presiden yang tidak efektif sejak oposisi memenangkan pemilu umum bulan April dengan kemenangan telak – pemerintahannya tidak mampu meloloskan undang-undang yang diinginkan dan hanya bisa memveto rancangan undang-undang yang diajukan oleh oposisi.
Yoon juga menuduh simpatisan Korea Utara berusaha melemahkan pemerintahannya saat ia menyatakan darurat militer pada 3 Desember lalu.
Pengumuman itu menyebabkan kekacauan politik di negara tersebut. Para demonstran berhadap-hadapan dengan pasukan keamanan di depan gedung Majelis Nasional sementara anggota parlemen bergegas untuk membatalkan perintah Yoon.
Yoon menarik kembali perintah darurat militernya beberapa jam setelah diblokir oleh anggota parlemen.
Sejak itu, negara tetap berada dalam situasi tegang. Protes besar-besaran dan pemogokan menyerukan pemakzulan Yoon, dan kantor kepresidenan digerebek pada hari Rabu sementara Yoon menghadapi berbagai penyelidikan atas tuduhan pemberontakan dan pengkhianatan.
Baca Juga
Polisi Geledah Kantor Presiden Yoon, Mantan Menteri Pertahanan Korsel Coba Bunuh Diri
Sementara itu, mantan menteri pertahanan Kim Yong-hyun, yang mengundurkan diri dan bertanggung jawab atas darurat militer, mencoba bunuh diri saat dalam tahanan pada hari Selasa. Ia saat ini dalam kondisi stabil.

