Upaya Pemakzulan Gagal, tapi Posisi Presiden Yoon Belum Aman
SEOUL, investortrust.id - Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol menghadapi tantangan terbesar dalam karir politiknya yang singkat namun penuh gejolak, meskipun berhasil melewati upaya pemakzulan yang berat. Beberapa anggota partainya sendiri menyerukan pengunduran dirinya akibat keputusan memberlakukan darurat militer.
Baca Juga
Habis Pembatalan Darurat Militer, Muncul Seruan Pemakzulan Presiden Yoon
Yoon, yang sebelumnya dikenal sebagai politikus tangguh, semakin terisolasi, dihantui skandal pribadi, pertikaian dengan oposisi, dan perpecahan dalam partainya sendiri.
Setelah memenangkan pemilu tipis pada 2022, pertempuran politik terbaru membuatnya semakin pahit dan memunculkan sifat gegabah yang menurut seorang mantan rivalnya adalah ciri khasnya. Ketika Yoon mencoba memberlakukan darurat militer pada Selasa lalu, posisi politiknya sudah sangat lemah.
Mosi pemakzulan terhadapnya gagal pada Sabtu malam setelah anggota partai penguasa memboikot sidang Majelis Nasional. Namun, beberapa dari mereka tetap menganggap Yoon tidak layak memimpin dan mendesaknya untuk mundur.
Baca Juga
Presiden Korea Selatan Yoon Lolos dari ‘Impeachment’ Setelah Partai Penguasa Boikot Pemungutan Suara
Seperti dilansir Reuters, oposisi tampaknya tak akan diam dan bersumpah untuk mencoba lagi. Sementara itu, partai Yoon berjanji akan mencari cara yang “lebih teratur dan bertanggung jawab” untuk menyelesaikan krisis.
Beberapa analis menyebut, Yoon, seorang mantan jaksa yang belum pernah memegang jabatan terpilih sebelum menjadi presiden, menunjukkan tanda-tanda “amarah ekstrem” saat darurat militer diberlakukan, mengutip bahasa yang diduga digunakan Yoon untuk memerintahkan penangkapan beberapa anggota parlemen yang berselisih dengannya.
Seorang pejabat tinggi badan intelijen mengatakan kepada komite intelijen parlemen bahwa Yoon berkata, “Tangkap mereka semua dan bawa ke sini,” menurut anggota panel Kim Byung-kee.
Skandal
Ihn Yohan, seorang dokter dan anggota parlemen dari Partai Kekuatan Rakyat yang dianggap sekutu Yoon, menyebut dekrit darurat militer itu “ekstrem” namun tidak sepenuhnya tak berdasar mengingat serangan politik tanpa henti terhadap Yoon.
“Saya berharap kita mengingat bagaimana oposisi dengan kejam telah mendorong presiden dan keluarganya ke sudut dengan ancaman penyelidikan khusus dan pemakzulan,” katanya dalam pertemuan partai pada Kamis.
Tahun pertama masa jabatan Yoon banyak dibayangi oleh skandal yang melibatkan istrinya, yang dituduh menerima tas Christian Dior mahal sebagai hadiah secara tidak pantas, dan penolakannya untuk sepenuhnya mengakui masalah tersebut.
Hanya setelah skandal itu dianggap sebagai salah satu penyebab kekalahan telak partainya dalam pemilu parlemen April lalu, Yoon meminta maaf. Namun, ia tetap menolak seruan untuk menyelidiki skandal tersebut, termasuk tuduhan manipulasi harga saham yang melibatkan istrinya dan ibunya.
Kantor kejaksaan yang menyelidiki tuduhan tersebut memutuskan untuk tidak mengajukan tuntutan terhadap ibu negara.
Kesulitan Yoon di dalam negeri telah mengaburkan keberhasilannya di panggung internasional.
Dorongannya untuk membalikkan perselisihan diplomatik selama puluhan tahun dengan Jepang dan membangun kerja sama keamanan trilateral dengan Amerika Serikat dianggap sebagai warisan utama kebijakan luar negerinya.
Yoon juga dikenal memiliki kemampuan untuk membangun hubungan personal, seperti yang terlihat saat ia menyanyikan lagu pop “American Pie” di Gedung Putih tahun lalu, mengejutkan Presiden Joe Biden dan memukau hadirin.
Dukun dan Teman SMA
Lahir dari keluarga kaya di Seoul, Yoon adalah pemuda yang santai namun berprestasi di sekolah. Ia masuk Universitas Nasional Seoul untuk belajar hukum, tetapi kegemarannya berpesta membuatnya berkali-kali gagal ujian pengacara sebelum lulus pada percobaan kesembilan.
Yoon, yang akan berusia 64 tahun pada 18 Desember, pertama kali menjadi terkenal secara nasional pada 2016 saat memimpin investigasi terhadap Presiden Park Geun-hye terkait kasus korupsi.
Dua tahun kemudian, ia menjadi jaksa agung dan memimpin penyelidikan korupsi terhadap sekutu dekat Presiden Moon Jae-in, menjadikannya pahlawan bagi konservatif yang frustrasi dengan kebijakan liberal Moon.
Namun, kepresidenan Yoon dimulai dengan buruk ketika ia memindahkan kantor kepresidenan dari Blue House ke lokasi baru, yang memicu rumor bahwa langkah itu dipengaruhi oleh kepercayaan feng shui. Yoon membantah keterlibatan dirinya maupun istrinya dengan seorang dukun.
Ketika Yoon menolak memecat pejabat tinggi setelah tragedi Halloween 2022 yang menewaskan 159 orang di Itaewon, ia dituduh melindungi “orang-orang yang hanya mengatakan ya”.
Baca Juga
Gawat, Presiden Korsel Yoon Suk Yeol Tetapkan Darurat Militer
Dua orang yang merekomendasikan Yoon untuk memberlakukan darurat militer adalah Menteri Keamanan Lee Sang-min dan Menteri Pertahanan Kim Yong-hyun, yang keduanya adalah teman SMA Yoon, menurut laporan media lokal.

