Yield USTreasury Turun Pasca Rilis Data Ketenagakerjaan AS Terbaru
NEW YORK, investortrust.id - Imbal hasil obligasi pemerintah AS melemah pada Jumat (6/12/2024) saat investor mencerna data ketenagakerjaan utama yang memberikan peluang bagi Federal Reserve untuk kembali memangkas suku bunga.
Baca Juga
Non-Farm Payroll AS Naik 227.000 pada November, Lebih Tinggi dari Perkiraan
Imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun turun kurang dari 3 basis poin menjadi 4,153%, sementara imbal hasil Treasury 2 tahun turun kurang dari 5 basis poin menjadi 4,098%.
Nonfarm payrolls meningkat sebesar 227.000 pada bulan November, dibandingkan revisi kenaikan sebesar 36.000 di bulan Oktober dan estimasi konsensus Dow Jones sebesar 214.000.
Namun, tingkat pengangguran naik sedikit menjadi 4,2%, sesuai ekspektasi. Kenaikan tingkat pengangguran ini terjadi seiring dengan penurunan tingkat partisipasi angkatan kerja menjadi 62,5% dari 62,6% pada Oktober dan 62,7% dalam konsensus.
Laporan ini berpotensi memengaruhi keputusan suku bunga Federal Reserve pada pertemuan kebijakan 17-18 Desember mendatang. Setelah laporan tersebut, para pedagang mempercepat taruhan mereka pada pemotongan suku bunga, dengan peluang yang tersirat di pasar naik di atas 88% untuk pengurangan 25 basis poin.
"Tingkat partisipasi angkatan kerja secara tak terduga turun menjadi 62,5% dibandingkan 62,6% pada Oktober dan 62,7% dalam konsensus, menjadikan kenaikan tingkat pengangguran semakin signifikan. Tidak ada dalam laporan ini yang akan menghalangi FOMC untuk memotong suku bunga pada 18 Desember," urai Ian Lyngen, kepala departemen obligasi AS di BMO, dalam sebuah catatan, seperti dikutip CNBC.
Awal pekan ini, Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa bank sentral akan berhati-hati dalam melakukan pemotongan suku bunga, mengingat ekonomi yang tetap kuat.
Baca Juga
Pasar Perkirakan Suku Bunga Turun 25 Bps, Powell : The Fed Masih Berhati-hati
"Pasar tenaga kerja membaik, dan risiko penurunan tampaknya lebih kecil di sektor tersebut. Pertumbuhan jelas lebih kuat dari yang kami perkirakan, dan inflasi sedikit lebih tinggi. Jadi kabar baiknya adalah kami dapat lebih berhati-hati saat mencoba menemukan titik netral," ujar Powell.

