Prospek Pasar Saham Korsel Pasca Drama ‘Darurat Militer’, Analis Bilang Begini
SEOUL, investortrust.id – Drama politik luar biasa di Korea Selatan dikhawatirkan bakal memperburuk prospek ekonomi Negeri Ginseng itu. Namun, sebagian analis melihat peluang rebound jika krisis yang lebih dalam dapat dihindari.
Baca Juga
Gawat, Presiden Korsel Yoon Suk Yeol Tetapkan Darurat Militer
Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol secara mengejutkan mengumumkan rencana memberlakukan darurat militer pada Selasa malam, dengan alasan perlunya melindungi negara dari "kekuatan komunis" Korea Utara dan memberantas "kekuatan anti-negara."
Namun, deklarasi ini dengan cepat dicabut hanya beberapa jam kemudian setelah hampir 200 anggota parlemen secara serempak memblokir langkah tersebut dalam sidang darurat Majelis Nasional.
Baca Juga
Presiden Yoon Suk Yeol Cabut Darurat Militer, Saham Korsel Berangsur Pulih
Pergolakan ini membawa Korea Selatan, sekutu penting AS dan pemain kunci dalam rantai pasok global, menjadi sorotan dunia serta mengguncang pasar keuangan.
Saham perusahaan Korea yang tercatat di AS merosot tajam setelah pengumuman darurat militer, sementara nilai tukar won Korea Selatan mencapai titik terendah dalam dua tahun terakhir terhadap dolar AS. Meskipun demikian, won telah pulih dari sebagian besar kerugiannya.
Wakil Menteri Ekonomi dan Keuangan Korea Selatan, Kim Byung-hwan, mengatakan sebelum pasar dibuka pada Rabu bahwa regulator siap menggelontorkan 10 triliun won ($7,06 miliar) untuk menstabilkan pasar saham kapan saja, seperti dilaporkan Yonhap News Agency.
Prospek Saham Korea
Indeks Kospi Korea Selatan ditutup turun 1,44% pada Rabu, setelah sebelumnya sempat merosot lebih dari 2% menyusul dimulainya proses pemakzulan Presiden Yoon oleh anggota parlemen oposisi.
Menurut Jonathan Garner, Kepala Strategi Ekuitas Asia dan Emerging Markets di Morgan Stanley, pasar Korea tidak dalam posisi yang kuat menghadapi perlambatan ekonomi global, terutama karena sangat bergantung pada perdagangan.
Garner juga mencatat bahwa siklus semikonduktor saat ini berada pada fase penurunan, sementara sektor otomotif global menghadapi tantangan signifikan. “Ekonom kami bahkan sebelum peristiwa ini sudah memperkirakan pertumbuhan Korea akan turun di bawah 2% tahun depan, yang merupakan salah satu perlambatan terbesar secara global,” kata Garner.
Beberapa perusahaan besar Korea seperti Samsung turun 1%, sedangkan LG Energy Solution dan Hyundai Motor masing-masing kehilangan 2,8% dan 2,4%.
Namun, Rory Green dari TS Lombard memperingatkan bahwa volatilitas harga negatif kemungkinan masih akan terus terjadi, khususnya di pasar aset Korea dan pasar mata uang asing di Asia.
Potensi Rebound
Tidak semua analis bersikap pesimis. Thomas Mathews dari Capital Economics menyebut potensi pemakzulan atau pengunduran diri Yoon sebagai peluang bagi investor untuk mengesampingkan isu ini.
"Pemakzulan presiden bukan hal baru di Korea, dan pasar saham Korea secara keseluruhan menunjukkan kinerja baik selama pemakzulan terakhir pada 2016/2017," kata Mathews, seperti dikutip CNBC.
Mathews juga menambahkan bahwa perusahaan teknologi besar Korea umumnya berada dalam posisi yang baik untuk memanfaatkan tren positif di bidang AI dan teknologi secara umum.
Baca Juga
Ikuti Irama Wall Street, Pasar Asia-Pasifik Bergerak Menguat
"Jika sentimen investor terhadap Korea akhirnya membaik, kemungkinan perbaikan akan terjadi secara tajam," ungkapnya, meskipun dia mengingatkan bahwa masih banyak tantangan yang harus dihadapi sebelum hal tersebut tercapai.

