Ancaman Rusia Tak Main-main, Lancarkan Serangan Besar-besaran ke Ukraina
JAKARTA, investortrust.id – Ancaman Presiden Rusia Vladimir Putin ternyata tidak main-main.
Baca Juga
Rusia melancarkan serangan besar-besaran terhadap infrastruktur energi Ukraina pada Kamis (28/11/2024), sehingga menyebabkan lebih dari 1 juta orang kehilangan akses listrik. Serangan ini menggunakan kombinasi drone dan rudal, termasuk rudal jelajah.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut tindakan Rusia itu sebagai “eskalasi keji.”
Serangan ini merupakan serangan besar kedua Rusia terhadap infrastruktur energi Ukraina pada bulan ini dan menjadi serangan ke-11 sejak Maret 2023. Ukraina melaporkan bahwa serangan tersebut menargetkan fasilitas energi dan bahan bakar, mengganggu jaringan listrik di berbagai wilayah negara.
Eskalasi Ancaman
Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan serangan ini sebagai tanggapan atas penggunaan rudal ATACMS jarak menengah buatan AS oleh Ukraina dalam serangan terhadap wilayah Rusia. Putin juga mengancam bahwa target berikutnya bisa mencakup "pusat pengambilan keputusan" di Kyiv.
Baca Juga
Presiden Biden Izinkan Ukraina Serang Rusia dengan Rudal Jarak Jauh
Ukraina menyerukan komunitas internasional untuk menanggapi ancaman Putin tersebut. “Kami berharap negara-negara yang sebelumnya mendesak untuk mencegah perluasan perang akan merespons pernyataan Putin,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Ukraina, Heorhii Tykhyi, seperti dikutip VOA.
Di wilayah Lviv, 523.000 pelanggan kehilangan listrik, menurut kepala wilayah Maksym Kozytsky. Sebanyak 215.000 pelanggan di wilayah Volyn dan 280.000 di wilayah Rivne juga terkena dampak.Kyiv, Odesa, Dnipropetrovsk, dan Donetsk melaporkan pemadaman darurat yang memengaruhi layanan listrik dan air. Beberapa unit pembangkit listrik tenaga nuklir juga terputus dari jaringan selama serangan.
Respons Ukraina
Ukraina menuntut percepatan bantuan militer dari mitra internasional untuk menghadapi eskalasi ini. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Ukraina menyatakan bahwa prioritas utama saat ini adalah pengiriman peralatan militer yang lebih cepat untuk mempersenjatai pasukan yang telah dimobilisasi.
Dengan peringatan tiga tahun invasi skala penuh Rusia semakin dekat, pasukan darat Rusia dilaporkan maju dengan kecepatan tercepat dalam dua tahun terakhir. Ukraina juga menyatakan kesiapan untuk menjadi tuan rumah KTT global kedua guna mengakhiri invasi Rusia.
Sementara itu, di Kazakhstan, Putin menyatakan bahwa Rusia siap untuk bernegosiasi tanpa prasyarat, tetapi syarat yang diajukan pada Juni lalu tetap tidak berubah: Kyiv harus melepaskan ambisinya untuk bergabung dengan NATO dan menyerahkan empat provinsi Ukraina yang diklaim Rusia. Ukraina menolak syarat tersebut sebagai bentuk penyerahan total.
Serangan ini tidak hanya merusak infrastruktur energi Ukraina tetapi juga meningkatkan ketegangan geopolitik di tengah musim dingin yang mendekat. Eskalasi ini mempertegas perlunya respon internasional yang lebih kuat terhadap krisis yang sedang berlangsung.

