Apa Untungnya Jika Indonesia Bergabung ke BRICS, Ini Kata Pakar
JAKARTA, investortrust.id - BRICS, gabungan lima negara dengan size perekonomian raksasa, baru saja mendapat tambahan anggota baru, yakni Arab Saudi, Iran, Mesir, UEA, dan Ethiopia per 1 Januari 2024. Apa dampak bergabungnya lima negara tersebut terhadap perekonomian global? Perlukah Indonesia ikut bergabung, apa saja keuntungannya?
Sebagai informasi, Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan membentuk organisasi antarpemerintahan bernama BRICS. Afrika Selatan menjadi negara terakhir yang bergabung pada 2010, setelah empat negara lain menegakkan blok baru ini pada 2001.
BRICS didirikan sebagai penyeimbang hegemoni negara-negara maju yang dimotori Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa. Setelah 14 tahun berselang, BRICS semakin diperkokoh dengan kehadiran raksasa Timur Tengah di antaranya, Arab Saudi, Mesir, Iran, Uni Emirate Arab (UEA), dan negara dari benua Afrika, Ethiopia.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, mengatakan, BRICS memiliki karakteristik yang berbeda dengan blok atau organisasi antarnegara lain. Salah satu karakteristik yang mencolok adalah, organisasi ini digagas oleh negara berkembang.
“Jadi beda dengan G7 atau banyak blok lainnya yang di-drive oleh negara-negara maju,” ujar Faisal kepada investortrust.id, Jumat (5/1/2024).
Dengan corak ini, kata Faisal, seharusnya negara-negara yang bergabung di BRICS memiliki agenda dan ketertarikan yang sama. Peluang ini memungkinkan karena ketertarikan ini tak diakomodasi oleh aliansi yang digagas negara-negara maju.
Karakteristik lain yang mencolok adalah, anggota BRICS berasal dari negara-negara berkembang dan punya pasar besar. Dengan kesamaan latar belakang ini, kata Faisal, harusnya BRICS bisa meningkatkan daya saing (competitiveness) produk-produk buatan dalam negerinya.
“Bagaimana menjaga market-nya dari serbuan barang-barang dari negara-negara luar, termasuk dari negara-negara maju,” ujar dia.
Selain itu, BRICS juga dapat mendorong terbentuknya tata kelola perdagangan internasional yang menguntungkan negara-negara berkembang. Dari sisi negara utama di BRICS, mereka bisa memperluas pengaruh secara geopolitik. “Bagaimana misalnya China ingin memperluas pengaruh geopolitik ke Afrika,” kata dia.
Baca Juga
Jokowi Tegaskan Indonesia Masih Kaji Keikutsertaan Jadi Anggota BRICS
Belum Satu Visi
Sayangnya, Faisal melihat BRICS belum memiliki pandangan yang seragam untuk pengembangan ekonomi ke depan. Ini karena masing-masing negara anggota BRICS memiliki ideologi yang berbeda dengan kepentingan yang tak sama.
Faisal mencontohkan hubungan India dengan China. Dia mengatakan India dan China seringkali banyak tidak sepakat dalam hubungan perdagangan.
“India dekat AS, China lebih dekat Rusia misalnya. Tidak seragam. Ini satu keputusan itu tidak gampang. Keputusan bersama itu tidak gampang diambil dalam BRICS,” kata dia.
Faisal mengatakan, Indonesia memiliki latar belakang ekonomi yang sama dengan BRICS. Indonesia, kata dia, merupakan negara berkembang dengan pasar besar. Dengan kesamaan seperti ini, seandainya Indonesia bergabung, gagasan yang penting untuk diperjuangkan adalah berbagai kepentingan nasional yang strategis. Misalnya upaya mendorong hilirisasi dan memperkuat aturan pelarangan ekspor bahan mentah.
“Kemudian bagaimana dalam perdagangan internasional kita bisa memperjuangkan hambatan nontarif, BRICS bisa memberi perspektif yang berbeda, kalau Indonesia masuk di dalamnya,” ujar dia.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa Indonesia masih mengkaji dan mempertimbangkan keikutsertaan menjadi anggota aliansi BRICS. "Kita ingin mengkaji terlebih dahulu, mengalkulasi terlebih dahulu, kita tidak ingin tergesa-gesa," kata Jokowi usai menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-15 di Johannesburg, Afrika Selatan, Kamis (24/8/2023), sebagaimana tayangan video yang diunggah Sekretariat Presiden.
Meskipun demikian, kata Jokowi, hubungan Indonesia dengan negara-negara BRICS saat ini sangat baik khususnya dalam bidang ekonomi. "Hubungan kita dengan kelima anggota BRICS juga sangat baik, terutama di bidang ekonomi," katanya.
Sedangkan Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi menyatakan, pemerintah masih mempelajari untung rugi bergabung dengan BRICS. "Kita masih mempelajari keuntungan bergabung dengan BRICS, masih kami pertimbangkan," tutur Retno saat menghadiri diskusi di Media Center Indonesia Maju, Kamis (04/01/2024).
Baca Juga
Negara Lain Ramai-Ramai Masuk BRICS, Bagaimana Indonesia? Ini Kata Menlu Retno
Menekan Dolar
Faisal mengatakan, BRICS dapat mendorong penggunaan mata uang lokal sesama anggota. Langkah ini bisa memperkuat perjuangan Indonesia mendorong local currency transaction yang digalang dengan China, Jepang, Thailand, Korea, Malaysia juga bentuk upaya mengurangi dominasi dolar Amerika Serikat (AS). “Walaupun sangat lambat perkembangannya,” kata dia.
Faisal membayangkan BRICS dengan kekuatan negara-negara anggotanya dapat mengurangi penggunaan dolar AS dalam transaksi perdagangan. Sebab, selama ini penggunaan dolar AS di pasar internasional terlampau kuat karena sebagai alat tukar perdagangan minyak dunia dan dikenal murah sebagai alat tukar karena direct exchange market-nya.
“Makanya, ini perlu upaya bersama di banyak negara untuk bisa mengurangi dominasi dolar ini. Jadi tidak bisa ujug-ujug dalam waktu singkat. Tapi kalau itu berhasil, BRICS-nya kompak, bisa memang semakin mengurangi dominasi penggunaan dolar dalam perdagangan internasional,” ujar dia.

