Dow Jones Cetak Rekor Tertinggi di Tengah Pelemahan Wall Street
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS ditutup bervariasi pada Jumat waktu AS atau Sabtu (28/9/2024). S&P 500 dan Nasdaq ditutup nelemah, tetapi Dow Jones Industrial Average melaju ke rekor baru. Para trader mencerna data baru yang menunjukkan kemajuan lebih lanjut dalam menurunkan inflasi. Wall Street juga mencatatkan hasil positif selama tiga minggu berturut-turut.
Dow Jones bertambah 137,89 poin, atau 0,33%, berakhir pada 42.313,00. Rata-rata saham blue-chip membukukan rekor penutupan dan mencapai titik tertinggi sepanjang masa selama sesi itu.
S&P 500 turun 0,13% menjadi 5.738,17, sedangkan Nasdaq Composite kehilangan 0,39% ditutup pada 18.119,59. Penurunan sebesar 2% pada saham Nvidia membebani indeks teknologi.
Baca Juga
Wall Street Bergairah: Dow Melonjak Lebih dari 250 Poin, S&P 500 Catat ATH
Secara mingguan, rata-rata indeks utama masing-masing memperpanjang kenaikannya hingga minggu ketiga, dengan S&P 500 dan Dow naik sekitar 0,6%. Nasdaq naik hampir 1% selama seminggu.
Para trader menerima data inflasi yang menggembirakan. Hal ini memberikan lebih banyak alasan bagi bank sentral untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi pada bulan Agustus – ukuran inflasi favorit Federal Reserve – meningkat 0,1%, sesuai dengan ekspektasi para ekonom yang disurvei oleh Dow Jones. PCE meningkat 2,2% secara tahunan, di bawah perkiraan 2,3%.
Para pengambil kebijakan dan investor sama-sama mengharapkan penurunan angka inflasi bulanan secara terus-menerus, sehingga memungkinkan berlanjutnya pelonggaran biaya pinjaman yang akan mengurangi beban pada neraca perusahaan dan rumah tangga.
Baca Juga
Lebih Rendah dari Perkiraan, Inflasi PCE AS Makin Mendekati Target The Fed
“Sejauh inflasi tetap terkendali – dan tren kita terus mengarah ke sana – The Fed dapat fokus hampir seluruhnya pada pasar tenaga kerja, yang berarti bias penurunan suku bunga,” kata Chris Zaccarelli, kepala investasi di Independent Advisor Alliance, seperti dikutip CNBC
Ketika The Fed memangkas suku bunga, terutama karena tidak adanya pertumbuhan resesi, hal ini merupakan dorongan besar bagi pasar saham dan obligasi. “Dan pada akhirnya akan memberikan keringanan bagi konsumen yang lebih sensitif terhadap suku bunga,” kata Zaccarelli.
Serangkaian data cukup meyakinkan investor akan kekuatan ekonomi AS. Klaim pengangguran awal turun lebih dari yang diharapkan pada minggu terakhir, menunjukkan pasar tenaga kerja yang kuat. Sementara itu, data akhir produk domestik bruto (PDB) kuartal kedua mencapai 3%.

