Menguak Rahasia di Balik ‘Booming’ Ekonomi India
JAKARTA, investortrust.id – Dunia saat ini memang sedang tidak baik-baik saja. Ketidakpastian global masih tinggi, diwarnai dengan ketegangan geopolitik, penanganan inflasi yang belum sesuai sasaran, tingkat suku bunga acuan yang masih tinggi, hingga perselisihan dagang yang kian meruncing. Semua itu berdampak pada pelemahan pertumbuhan ekonomi secara global.
Baca Juga
Dibayangi Konflik & Beban Utang, Ini Poin Penting Pertemuan IMF-Bank Dunia di Maroko
Tak heran bila sejumlah lembaga riset keuangan menggambarkan perekonomian dunia beberapa tahun ke depan masih diliputi bayang-bayang suram.
Dana Moneter Internasional (IMF), dalam publikasinya April 2024, memprediksi pertumbuhan ekonomi global 2024 sebesar 3,2%. Tahun 2025, kondisinya diperkirakan tak banyak berubah. Bank Standard Chartered menyebut angka lebih rendah. Bank asal Inggris itu memperkirakan pertumbuhan ekonomi global 2024 masih stagnan, hampir sama dengan capaian pertumbuhan tahun lalu. Dalam laporan Global Focus Economic Outlook kuartal II-2024 yang terbit April 2024, lembaga itu memprpyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini akan berada di kisaran 3,1% yoy (year on year), atau sama dengan capaian pertumbuhan 2023.
Bank Dunia (World Bank) menyodorkan angka lebih rendah. Lembaga internasinal itu memproyeksikan pertumbuhan global sebesar 2,6% pada 2024 sebelum kemudian naik menjadi rata-rata 2,7% pada tahun 2025-26. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata 3,1% pada dekade sebelum Covid-19. Perkiraan tersebut menyiratkan bahwa pada tahun 2024-2026, negara-negara yang secara kolektif menyumbang lebih dari 80% populasi dunia dan PDB global, masih tumbuh lebih lambat dibandingkan dekade sebelum Covid-19.
Secara keseluruhan, negara-negara berkembang diperkirakan akan tumbuh rata-rata sebesar 4% pada tahun 2024-25, sedikit lebih lambat dibandingkan tahun 2023. Pertumbuhan di negara-negara berpendapatan rendah diperkirakan akan meningkat menjadi 5% pada tahun 2024 dari 3,8% pada tahun 2023. Namun demikian, perkiraan untuk tahun 2024 mencerminkan penurunan peringkat di tiga dari empat negara berpendapatan rendah sejak bulan Januari. Di negara-negara maju, pertumbuhan diperkirakan akan tetap stabil sebesar 1,5% pada tahun 2024 sebelum meningkat menjadi 1,7% pada tahun 2025.
Dalam publikasinya Juni 2024, Bank Dunia menyebut pertumbuhan ekonomi global relatif stabil empat tahun terakhir setelah pergolakan yang disebabkan oleh pandemi, konflik, inflasi, dan pengetatan moneter. Namun, pertumbuhan berada pada tingkat yang lebih rendah dibandingkan sebelum tahun 2020. Prospek perekonomian negara-negara termiskin di dunia bahkan lebih mengkhawatirkan. Negara-negara tersebut menghadapi tingkat pembayaran utang yang berat, membatasi kemungkinan perdagangan, dan peristiwa iklim yang merugikan. “Negara-negara berkembang harus menemukan cara untuk mendorong investasi swasta, mengurangi utang publik, dan meningkatkan pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dasar. Negara-negara termiskin – terutama 75 negara yang berhak menerima bantuan lunak dari Asosiasi Pembangunan Internasional – tidak akan mampu melakukan hal ini tanpa dukungan internasional,” kata Indermit Gill, Kepala Ekonom dan Wakil Presiden Senior Grup Bank Dunia, dikutip dari laman website Bank Dunia.
Tahun ini, satu dari empat negara berkembang diperkirakan akan tetap miskin dibandingkan saat menjelang pandemi pada tahun 2019. Proporsi ini dua kali lebih tinggi untuk negara-negara yang rentan dan terkena dampak konflik. Selain itu, kesenjangan pendapatan antara negara-negara berkembang dan negara-negara maju diperkirakan akan melebar di hampir separuh negara-negara berkembang pada tahun 2020-2024 – yang merupakan kesenjangan pendapatan tertinggi sejak tahun 1990-an. Pendapatan per kapita di negara-negara tersebut—yang merupakan indikator penting standar hidup—diperkirakan akan tumbuh rata-rata sebesar 3,0% hingga tahun 2026, jauh di bawah rata-rata sebesar 3,8% pada dekade sebelum Covid-19.
Inflasi global diperkirakan akan melambat menjadi 3,5% pada tahun 2024 dan 2,9% pada tahun 2025, namun laju penurunannya lebih lambat dibandingkan perkiraan enam bulan lalu. Oleh karena itu, banyak bank sentral diperkirakan akan tetap berhati-hati dalam menurunkan suku bunga kebijakannya.
Suku bunga global kemungkinan akan tetap tinggi menurut standar beberapa dekade terakhir. Rata-rata sekitar 4% pada tahun 2025-26, atau sekitar dua kali lipat rata-rata pada tahun 2000-19.
“Meskipun harga pangan dan energi telah melambat di seluruh dunia, inflasi inti masih relatif tinggi—dan mungkin akan tetap seperti itu,” kata Ayhan Kose, Wakil Kepala Ekonom Bank Dunia dan Direktur Prospects Group. Hal ini bisa jadi akan mendorong bank sentral di negara-negara maju untuk menunda penurunan suku bunga. Lingkungan dengan tingkat suku bunga yang ‘lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama’ menunjukkan kondisi keuangan global yang lebih ketat dan pertumbuhan yang jauh lebih lemah di negara-negara berkembang. Bank Sentral Eropa (ECB) sudah memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada 6 Juni lalu, tapi Bank Sentral AS Federal Reserve (The Fed) masih kukuh mempertahankan suku bunga pada pertemuan 12 Juni 2024.
Fenomena India
Selama ini ada persepsi, India adalah negara dengan jumlah penduduk padat, mayoritas miskin. Negeri yang jorok, dengan fasilitas publik dan kesehatan yang minim.
Menyebut nama India, orang mungkin langsung teringat dengan goyangan kepala yang khas atau tari-tarian yang meliuk-liuk seperti ular kobra di film-film. Ternyata, goyangan India tak hanya sebatas goyang kepala dan tarian. Kini Negeri Bollywood itu juga mampu mengguncang dunia dengan kekuatan ekonominya.
Di tengah perkembangan ekonomi dunia yang kurang menggembirakan, India justru menunjukkan kekuatannya. Ekonomi India tumbuh tinggi. Selama tiga tahun terakhir, ekonominya tumbuh di atas 7% per tahun. Pada tahun anggaran 2023-2024, PDB (produk domestic bruto) India melaju di atas 8%. Bahkan, tahun 2021 PDB India tumbuh mencapai 9%. Tak heran, bila sejumlah pengamat menyatakan, negeri Bollywood itu berpotensi menjadi kekuatan baru perekonomian dunia.
India kini menjadi sorotan. Negara yang terletak di Asia Selatan itu sedang berada di era kejayaan dan menikmati bonus demografi. Jumlah penduduknya yang tahun 2023 mencapai 1,43 miliar sebagian besar terdiri dari generasi muda. Paling banyak berada di kelompok usia 15-19 tahun dan 20-24 tahun. Pada tahun 2030, jumlah penduduk India diperkirakan mencapai 1,51 miliar. Sedangkan, jumlah penduduk Tiongkok saat itu diperkirakan 1,42 miliar.
Tapi, India disorot bukan saja karena tercatat sebagai negara dengan penduduk terbanyak di dunia, melainkan juga karena memiliki kekuatan besar di berbagai sektor.
Seorang ekonom menggambarkan, perekonomian India kini sedang berada dalam fase keemasan. Indikasinya, pertumbuhan yang kuat dan risiko stabilitas makro yang terkendali. Kondisi sosial politik juga relatif stabil, dengan terpilihnya Narendra Modi sebagai Perdana Menteri India untuk ketga kalinya. Setelah melewati pertumbuhan fantastis 8,6% tahun 2023, negeri Bollywood itu diperkirakan masih mampu tumbuh di sekitar 7%. “Perekonomian India kemungkinan akan tumbuh sebesar 7% pada tahun fiskal ini,” sebut UBS Securities, dikutip dari Business Today.
Berbicara dalam webinar tentang Perekonomian India Pasca Pemilu, 10 Juni 2024, Kepala Ekonom UBS Securties India Tanvee Gupta Jain mengatakan, India kemungkinan akan mempertahankan potensi pertumbuhan sebesar 6,5-7% yoy hingga 2030. Potensi pertumbuhan India bersumber dari penerapan digitalisasi, peningkatan ekspor jasa dan dorongan manufaktur, serta penerapan reformasi besar-besaran yang akan meningkatkan potensi tingkat pertumbuhan lebih tinggi dari 7%.
Namun, Tanvee Gupta Jain mengingatkan , meskipun stabilitas politik akan membantu memastikan kesinambungan agenda kebijakan, pihaknya melihat ada risiko bias populis pada masa jabatan ketiga.
Meskipun penerapan undang-undang ketenagakerjaan yang telah lama tertunda masih dapat dilakukan karena peraturan tersebut telah disetujui oleh kedua majelis di Parlemen, reformasi yang lebih ketat kemungkinan akan dilakukan karena modal politik lebih rendah dibandingkan pemilu tahun 2019 dan 2014.
“Penerapan reformasi keras akan membantu India mencapai potensi pertumbuhan lebih tinggi dari 7%,” katanya.
Lembaga itu juga menyoroti bahwa meskipun pertumbuhan India masih tangguh, terdapat dikotomi nyata antara pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan pertumbuhan PDB riil.
India mengalami pemulihan konsumsi berbentuk K dengan permintaan segmen kaya dan premium tampaknya berjalan dengan baik, dan permintaan untuk barang-barang entry-level dan pasar massal tetap sepi pasca pandemi. Hal ini menunjukkan bahwa mereka yang berada pada tingkat konsumsi lebih rendah kelompok akhir piramida pendapatan, yang mungkin merupakan kelompok paling terdampak pandemi, masih belum mengalami pemulihan pendapatan hingga mampu mengembalikan kemampuan belanja mereka.
Ekonomi India mengalami awal yang baik pada 2024 ini. Data-data yang ada telah memupuk kepercayaan diri negara dengan penduduk terpadat di dunia tersebut. Konsultan real estat Knight Frank memperkirakan, jumlah konglomerat India, atau mereka dengan kekayaan minimal 30 juta dollar AS akan tumbuh 50% selama lima tahun ke depan.
Pertumbuhan ekonomi India juga berada di atas perkiraan IMF yang memproyeksikan angka 6,5% pada 2024. Ekspansi yang berkelanjutan diharapkan akan mendorong India naik peringkat sebagai negara dengan perekonomian terbesar di dunia. India juga dipandang sebagai alternatif pengganti China bagi negara-negara dan perusahaan-perusahaan yang ingin mendiversifikasi rantai pasokan mereka.
Baca Juga
Kebijakan Tarif AS: India Tarik Investasi Keluar dari Cina, Bagaimana Indonesia?
Hal itu terjadi terutama ketika hubungan antara Amerika Serikat dan China memburuk. Pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi telah aktif merayu perusahaan besar untuk mendirikan pabrik di negara tersebut. Pemerintah telah menghabiskan miliaran dolar untuk memperbaiki jalan, pelabuhan, bandara dan jalur kereta api. Beberapa perusahaan besar dunia telah menunjukkan ketertarikannya untuk memperluas operasinya di sana. Perusahaan yang ekspansi bisnis ke India termasuk Apple Foxconn, yang menanamkan investasi sekitar $ 2,6 miliar. Selain itu, juga Tesla milik Elon Musk.
Reformasi Pasar Modal
Pertumbuhan ekonomi India yang fantastis juga mendapat sorotan Head of Research Bahana Securities Satria Sambijantoro. “Pertumbuhan di atas 8% itu luar biasa untuk negara sebesar India, yang jumlah penduduknya hampir 1,5 miliar,” katanya dalam acara Musyawarah Anggota Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) 2024 yang bertajuk "Menuju Indonesia Emas 2045" di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta, 10 Juni 2024. Manurut dia, pertumbuhen di atas 8% di tengahkondisi ekonomi global yang lemah, sungguh fenomenal. Pertumbuhan ekonomi negara sebesar India tentu tidak bisa dibandingkan dengan Filipina, Vietnam atau Timor Leste, walaupun bisa tumbuh lebih tinggi,
Di Kelompok G20, India memimpin dengan pertumbuhan Kuartai I 2024 sebesar 7,8% yoy. Di bawahnya, ada Turki (5,7%), dan Rusia (5,4&). Sedangkan Tiongkok yang menjadi salah satu mesin perekonomian global hanya mampu tumbuh 5,3%. Indonesia di urutan ke-5 dengan pertumbuhan 5,1%. Jerman, Jepang, Argentina dan Arab Saudi malah tertinggal dengan pertumbuhan negatif.
Pertumbuhan ekonomi India yang tinggi memiliki magnitude besar. “Dengan penduduk hampir 1,5 miliar tumbuhnya 8% yoy. Bayangkan berapa triliun dolar yang di-generate,” ujarnya. Magnitude yang besar dari pertumbuhan tinggi itu terlihat dari berkembangnya sektor riil. Industri dan investasi berkembang pesat. Pertumbuhan yang tinggi juga menciptakan daya beli dan pasar yang besar. Tak heran bila perusahaan-perusahaan global tertarik masuk dan berinvestasi di sana. Satria mencontohkan, masuknya Apple Foxconn, yang memproduksi iPhone di India. “Sampai-sampai masyarakat China protes, kok mereka beli iPhone, tapi ternyata made in India,” ujarnya. Pemerintah China agak keki juga mengetahui perusahaan itu investasi besar-besaran di India, bukan di China.
Pasar modal India berkembang pesat. Tumbuh hampir dua kali lipat sejak 2020, sekitar 80-90%. Bandingkan dengan indeks Bursa Efek Indonesia (BEI), yang tumbuh sekitar 6%.
Dengan kemampuan menghimpun dana yang besar, Pemerintah memiliki anggaran untuk digunakan dalam pembangunan di berbagai bidang.
Satria mengungkap sejumlah faktor yang menopang kebangkitan ekonomi dan pasar modal India. Di bawah Pemerintahan PM Narendra Modi, India mulai melakukan reformasi ekonomi dan pasar modal. Pertama, membuat kebijakan satu warga hanya boleh punya satu bank account. Dengan kebijakan ini, semua pergerakan dana bisa dimonitor. Termasuk dana-dana dari black market.
Kedua, memotong jumlah uang beredar. Uang denominasi besar ditarik, sehingga menekan transaksi tunai. Akhirnya semua dana masuk. Dampaknya luar biasa dalam menghimpun dana. “Untuk bertumbuh, negara butuh dana. Dan karakter negara berkembang itu adalah capital hungry economy,” ujar Satria. Dua kebijakan itu membuat dana-dana bisa dimonitor dan di-pool. Pembangunan berjalan masif, pasar modal berkembang pesat, begitu juga sektor riil.
Pasar modal India memiliki basis pemodal lokal yang kuat. Kepemilikan asing hanya sekitar. 3%. Karena itu, Pemerintah tidak terlalu khawatir, meskipun mata uang Rupee terdepresias 40% dalam tiga tahun terakhir. Sektor jasa dan manufaktur terus meningkat, dengan kontribusi terhadap PDB mencapai hampir 60%.
Perdana Menteri India Narendra Modi yang terpilih lagi untuk ketiga kali mengatakan, kepercayaan yang diberikan pasar saham kepada pemerintahannya cukup tinggi. Terbukti dari kinerjanya yang luar biasa selama dekade terakhir. Saat menjabat, indeks Sensex sekitar 25000 poin, sedangkan saat ini sudah berada di sekitar 75.000 poin. Pada 21 Mei, bursa mencatat sejarah kapitalisasi pasar sebesar $5 triliun untuk pertama kalinya.
Selama 10 tahun terakhir, jumlah investor reksa dana di India telah meningkat dari 1 crore pada tahun 2014 menjadi 4,5 crore atau 45 juta. Hasilnya, pasar modal India memiliki basis investasi dalam negeri yang lebih luas. “Investor kami sangat menyadari reformasi pro-pasar yang telah kami terapkan. Reformasi ini telah menciptakan sistem keuangan yang kuat dan transparan, sehingga memudahkan setiap orang India untuk berpartisipasi di pasar saham,” papar Modi.
Menurut data pasar, indeks Nifty 50 telah melonjak tiga kali lipat dalam 10 tahun terakhir, indeks Nifty telah melonjak dari 6,900 poin pada tahun 2014 menjadi 22,700 poin pada Mei, dan naik lagi menjadi 23.465 pada 14 Juni 2024.
Baca Juga
BlackRock Nilai India dan Indonesia Punya Peluang Investasi yang Besar

