Bank Sentral Jepang Bakal Akhiri Era Suku Bunga Negatif
JAKARTA, Investortrust.id - Era suku bunga negatif Jepang diperkirakan akan berakhir dalam beberapa bulan mendatang. Diperkirakan dampaknya pada pasar dunia akan sangat besar, demikian survei Bloomberg Markets Live Pulse terbaru. Dalam survei tersebut dikatakan bahwa obligasi AS atau US Treasuries akan mengalami dampak paling besar.
Diberitakan Bloomberg, Bank Sentral Jepang atau Bank of Japan (BOJ) kemungkinan akan menghentikan kebijakan suku bunga negatif, sebuah kebijakan yang dinilai sangat tidak lazim untuk periode paruh pertama tahun 2024. Setidaknya hal ini disampaikan oleh 315 responden survei.
Jika benar kebijakan ini diterapkan BoJ, maka akan mengakhiri kebijakan suku bunga negatif yang dimulai oleh BOJ pada tahun 2016. Kebijakan ini pula yang membuat Jepang berbeda pendapat dengan bank sentral besar lainnya yang tengah menerapkan, kebijakan moneter yang ketat.
Baca Juga
Apa yang dilakukan BOJ, dan waktu penerapannya, dipastikan akan berdampak pada pasar dunia. Dampak terbesar, menurut responden MLIV Pulse, adalah ketidakstabilan lebih besar bagi para pemilik obligasi pemerintah AS (T-Bonds). Pasalnya kenaikan yield di Jepang akan mendorong para investor negeri Sakura tersebut untuk melepas obligasi dari AS, Eropa, dan Australia, dan kembali masuk ke pasar dalam negeri.
"Perubahan dalam kebijakan BOJ bisa memperlambat aliran modal dari Jepang, karena yield (obligasi di Jepang) akan menjadi lebih menarik daripada sebelumnya," kata Martin Whetton, kepala strategi pasar keuangan di Westpac Banking Corpdi Sydney dikutip Bloomberg, Senin (23/10/2023).
Sementara itu sebanyak 37% peserta survei mengatakan bahwa T Bonds akan mengalami dampak paling parah jika Gubernur BoJ Kazuo Ueda benar-benar menerapkan kebijakan yang superakomodatif tersebut. Penurunan nilai dolar AS diproyeksikan akan menambah beban, yang dalam hasil survey tersebut sebanyak 36% responden memperkirakan obligasi berdenominasi dolar yang akan terpukul.
Baca Juga
Lapangan Kerja AS Menguat, Signal Suku Bunga The Fed Tetap Tinggi
Para pengelola portofolio dan bank sentral di seluruh dunia tengah memantau dengan cermat setiap langkah yang diambil oleh BoJ, yang telah menjadikan suku bunga negatif dan pengendalian kurva imbal hasil obligasi sebagai dasar kebijakanuntuk melawan inflasi yang stagnan. BOJ telah mengguncang pasar global dengan menaikkan batas yield obligasi tenor 10 tahun pada akhir 2022, dan berikutnya pada akhir Juli 2023 lalu sehingga meningkatkan yield obligasi.
"Sejumlah bentuk normalisasi mungkin perlu," kata Eugene Leow, analis strategis suku bunga senior di DBS Bank Ltd. "Ini bisa menimbulkan dorongan ke atas yield obligasi tenor lima hingga 10 tahun di pasar negara maju karena yield obligasi pemerintah Jepang yang lebih tinggi."
Menurut data Departemen Keuangan AS, para investor asal Jepang sejauh ini adalah pemilih surat utang pemerintah AS terbesar, tercatat pada akhir Agustus 2023 nilainya telah mencapai lebih dari US$1,1 triliun. Perusahaan asuransi jiwa melepas ¥196 miliar (US$1,3 miliar) obligasi asing dalam periode April-September, setelah penjualan sebesar ¥8 triliun dalam enam bulan sebelumnya, demikian dilansir Kementerian Keuangan AS.
Survei MLIV Pulse menunjukkan bahwa 61% responden memperkirakan volatilitas pasar obligasi global akan terjadi ketika BoJ mengubah kebijakan, yang mayoritas responden memprediksi peningkatan suku bunga ini akan terjadi tahun depan.
Baca Juga
Inflasi Masih Tinggi, Bank Sentral Austalia Pertimbangkan Kenaikan Suku Bunga
"Pasar kemungkinan akan sangat reaktif sampai mereka terbiasa dengan tingkat imbal hasil positif," kata Ayako Sera, analis Sumitomo Mitsui Trust Bank Ltd. "Ini seperti memberikan kejutan luar biasa di tengah situasi tenang."
Surat utang secara tradisional memang menjadi pijakan bagi stabilitas banyak portofolio simpanan dan investasi. Namun surat utang pemerintah sendiri saat ini sudah lebih volatil ketimbang saham. Kombinasi kebijakan ketat yang diterapkan oleh Federal Reserve dan banjir penjualan obligasi oleh pemerintah AS juga dinilai telah menimbulkan kerugian, terutama pada utang jangka panjang.
Berikutnya Survei MLIV Pulse ini juga menanyakan pendapat responden kapan yield obligasi acuan Jepang tenor 10 tahun akan mencapai 1%, dan seberapa batas efektif yang ditoleransi oleh BoJ.Sebanyak 43% responden menyebut level imbal hasil itu kemungkinan akan tercapai pada paruh pertama tahun 2024, sementara 16% responden berpendapat akan diterapkan lebih lambat dibanding paruh pertama tahun depan,
Imbal hasil surat utang tenor 10 tahun milik pemerintah Jepang kini telah bergerak hampir dua kali lipat sejak akhir Juli 2023. Namun tingkat imbal hasil sebesar 0,835%tersebut tentunya masih jauh di bawah imbal hasil T Bonds AS yang terakhir mencapai 4,91%.

