Suku bunga The Fed Memuncak, Laba Blackstone Inc Turun 12%
JAKARTA, Investortrust.id - Salah satu raksasa pengelola aset yang berbasis di Amerika Serikat, Blackstone Inc tengah berjuang menghadapi tekanan kenaikan suku bunga dandampak penurunan kesepakatan pengelolaan dana. Blackstone melaporkan penurunan laba yang bisa dibagi pada pemagang sahamnya pada kuartal III-2023 sebesar 12%.
Pendapatan yang dapat didistribusikan untuk kuartal ketiga mencapai US$1,21 miliar, atau US$ 94 sen per saham, meleset dari proyeksi para analis yang disurvei Bloomberg, yang rata-rata menyebut sebesar US$1,01 per saham. Hal ini sejalan dengan laba Blackstone pada kuartal kedua, yang mencatat perolehan terendah dalam dua tahun terakhir.
Baca Juga
Saham raksasa ekuitas swasta tersebut termasuk dalam salah satu yang kinerjanya terburuk di indeks S&P 500 pada hari Kamis (19/10/2023), turun 7,9% menjadi US$94,22, penurunan satu hari terbesar sejak Juni tahun lalu.
Perusahaan yang mengelola aset senilai US$1,01 triliun ini adalah salah satu dari pengelola aset alternatif utama AS pertama yang melaporkan hasil kinerja kuartal ketiganya. Hasil tersebut mengungkapkan adanya konsekuensi dari kampanye The Feduntuk menaikkan suku bunga dalam upayanya melawan inflasi.
Para calon nasabah enggan melakukan perjanjian pembelian aset ketika biaya utang meningkat, dan perusahaan ekuitas swasta pun memilih mempertahankan aset-asetnya ketimbang menjualnya di pasar yang berfluktuasi. Akibatnya pendapatan berbasis fee Blackstone turun 5% karena perusahaan mendapat lebih sedikit dari kesepakatan penjualan. Mereka juga mengurangi jumlah dana yang mereka investasikan dalam kesepakatan baru hingga sebesar 60%, yang secara keseluruhan dapat memengaruhi kinerja keuangan perusahaan.
"Ada ketidakpastian seputar suku bunga dan inflasi," kata Presiden Blackstone, Jon Gray, dalam sebuah wawancara. "Semua itu berkontribusi padaketidakpastian, dan hal tersebut mengurangi volume transaksi."
Perang antara Israel dan Hamas juga dinilainya telah menciptakan lebih banyak ketidakstabilan di pasar yang sudah goyah akibat invasi Rusia ke Ukraina pada awal tahun lalu. Situasi ini menimbulkan keraguan lebih dalam, apakah aktivitas perjanjian ekuitas swasta akan meningkat setelah periode pelemahan ekonomi.
