Harga Minyak Turun Dua Hari Beruntun, Pasar Menanti Kesepakatan AS-Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak mentah dunia kembali melemah pada Selasa (3/11/2026), memperpanjang penurunan untuk hari kedua berturut-turut. Pelaku pasar berharap Amerika Serikat (AS) dan Iran dapat mencapai penyelesaian diplomatik atas konflik yang selama delapan bulan terakhir mengganggu pasokan energi global.
Baca Juga
Harapan Perundingan AS-Iran Menguat, Harga Minyak Terjun Lebih dari 7%
Dikutip dari CNBC, minyak mentah Brent, patokan internasional, terkoreksi US$1,17 menjadi US$103,60 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 37 sen dan ditutup pada US$96,09 per barel. Dalam perdagangan intraday, harga WTI sempat merosot di bawah US$95 per barel.
Tekanan terhadap harga minyak muncul setelah beredar kabar bahwa Washington dan Teheran mulai menunjukkan kemajuan dalam upaya mencapai kesepakatan. Sehari sebelumnya, harga minyak bahkan anjlok lebih dari 7% setelah kedua negara memberikan sinyal terbuka terhadap kemungkinan perundingan.
Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada wartawan bahwa Iran ingin mencapai kesepakatan dan peluang tersebut bisa terwujud.
Upaya diplomasi juga terus berlangsung melalui Qatar. Kementerian Luar Negeri Qatar pada Selasa menyatakan negara Teluk tersebut masih memediasi pembicaraan antara AS dan Iran.
Delegasi Qatar telah melakukan pembicaraan di Teheran untuk mencari kesepakatan yang dapat mencegah eskalasi lebih lanjut di kawasan sekaligus mengakhiri konflik kedua negara.
Namun, peluang perdamaian belum sepenuhnya pasti. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan Teheran tidak akan menerima diplomasi yang didasarkan pada pemaksaan maupun pemerasan. Pernyataan tersebut dilaporkan kantor berita pemerintah Iran, Islamic Republic News Agency (IRNA).
Sikap Iran itu menunjukkan bahwa jalan menuju kesepakatan masih menghadapi hambatan. Hingga Selasa, belum jelas sejauh mana kemajuan pembicaraan yang sedang berlangsung.
Risiko Serangan Militer Masih Membayangi
Sebelum munculnya sinyal diplomasi, pasar minyak justru mengantisipasi kemungkinan konflik semakin meluas setelah pemilu sela AS. Kekhawatiran meningkat menyusul laporan bahwa Washington tengah menyusun rencana serangan terhadap Iran.
Ekspektasi eskalasi tersebut ikut mendorong kenaikan harga minyak lebih dari 10% sepanjang Oktober.
Situasi di Timur Tengah pun masih jauh dari stabil. The Wall Street Journal melaporkan, mengutip sejumlah pejabat AS, bahwa militer AS menyerang Pulau Qeshm di Iran pada Senin. Washington disebut telah melakukan serangan militer terbatas terhadap Iran dalam beberapa pekan terakhir.
Menurut laporan tersebut, operasi militer sengaja dilakukan dengan profil rendah untuk menghindari kesan bahwa AS sedang mempersiapkan eskalasi perang secara besar-besaran.
Ancaman terhadap jalur pelayaran energi juga belum mereda. Kapal-kapal komersial masih menghadapi serangan di kawasan Teluk Persia, Selat Hormuz, dan Teluk Oman.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan sedikitnya empat serangan terhadap kapal sejak awal November.
Pasar minyak menghadapi dua sentimen yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, harapan penyelesaian diplomatik berpotensi mengurangi premi risiko geopolitik. Di sisi lain, serangan terhadap kapal dan operasi militer AS menunjukkan bahwa gangguan pasokan energi masih menjadi ancaman nyata.
Trump Hadapi Tekanan Harga Energi
Pemerintahan Trump juga memiliki kepentingan ekonomi dan politik untuk mengakhiri konflik. Harga minyak yang tinggi telah memperbesar tekanan inflasi dan mendorong kenaikan harga bensin di AS.
Kondisi tersebut menjadi perhatian di tengah tekanan politik pada pemilu sela karena biaya hidup dan harga energi merupakan isu penting bagi pemilih.
Baca Juga
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan kepada CNN bahwa dirinya dan Trump merasa optimistis terhadap peluang tercapainya penyelesaian melalui perundingan.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan Trump lebih memilih menyelesaikan konflik Iran melalui jalur diplomasi dan tidak ingin menggunakan kekuatan militer jika tidak diperlukan.
Namun, tekanan inflasi masih menjadi tantangan bagi perekonomian AS. Pekan lalu, dua pejabat Federal Reserve menyatakan suku bunga mungkin perlu dinaikkan untuk mengendalikan inflasi.
Suku bunga yang lebih tinggi dapat menekan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan biaya pinjaman bagi konsumen maupun dunia usaha. Namun, kebijakan tersebut juga diperlukan untuk meredam tekanan harga.
Bagi pasar energi, perkembangan diplomasi AS-Iran akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah harga minyak selanjutnya. Jika kesepakatan tercapai, premi risiko geopolitik berpotensi menyusut. Sebaliknya, kegagalan perundingan dan meluasnya serangan di kawasan Teluk dapat kembali mendorong harga minyak naik.
