AS Dikabarkan Siapkan Serangan Baru ke Iran, Harga Minyak Melonjak Lagi
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak mentah dunia naik lagi setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat (AS) meminta sejumlah negara Arab di kawasan Teluk bersiap menghadapi kemungkinan serangan militer baru terhadap Iran. Serangan itu akan dilancarkan seusai pemilihan paruh waktu AS.
Baca Juga
Trump Tolak Proposal Iran Terkait Selat Hormuz, Harga Minyak Naik
Dikutip dari CNBC, minyak mentah Brent, patokan internasional, naik 1,3% dan ditutup pada US$115,32 per barel, Rabu (28/10/2026). Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 2,9% menjadi US$102,78 per barel.
Kenaikan tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan eskalasi konflik yang dapat mengganggu pasokan energi dari Timur Tengah. Pelaku pasar kembali memperhitungkan risiko geopolitik setelah sebelumnya harga minyak melemah di tengah upaya diplomasi untuk mengakhiri perang.
Menurut laporan The Wall Street Journal, yang mengutip sejumlah sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, AS telah meminta beberapa negara Arab di kawasan Teluk agar bersiap menghadapi kemungkinan kampanye militer singkat tetapi intensif setelah pemilihan paruh waktu.
Laporan itu memperkuat kekhawatiran bahwa konflik AS-Iran belum akan segera berakhir, meskipun terdapat upaya untuk membuka jalan menuju kesepakatan diplomatik.
Presiden AS Donald Trump mengatakan perang dengan Iran akan berakhir sesuai persyaratan yang ditetapkannya. Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak boleh memperoleh senjata nuklir.
Dalam kampanye di Texas pada Selasa, Trump menyatakan konflik tersebut dapat diakhiri dengan cepat. Namun, ia menekankan bahwa setiap kesepakatan harus menjamin Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.
Pernyataan tersebut muncul setelah Trump sebelumnya mengatakan sedang mempertimbangkan dua pilihan, yakni mencapai kesepakatan dengan Teheran atau meningkatkan operasi militer.
Ketidakjelasan mengenai pilihan yang akan diambil Washington membuat investor tetap waspada. Kesepakatan diplomatik berpotensi meredakan tekanan harga minyak, sedangkan serangan baru dapat memperbesar risiko gangguan pasokan dan mendorong harga lebih tinggi.
Houthi Klaim Serang Fasilitas Minyak Saudi
Kekhawatiran pasar semakin meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran mengeklaim telah menyerang kilang minyak Ras Tanura milik Arab Saudi menggunakan rudal balistik pada Selasa.
Klaim serangan tersebut menimbulkan kekhawatiran mengenai keamanan infrastruktur energi Arab Saudi, salah satu produsen dan eksportir minyak terbesar dunia.
Baca Juga
Serangan Houthi Ancam Pasokan Global, Minyak Brent Bertahan di Atas US$109
Serangan terhadap fasilitas pengolahan maupun jalur distribusi minyak berpotensi mengganggu kemampuan negara-negara produsen untuk memasok minyak ke pasar internasional. Risiko tersebut menjadi semakin besar apabila serangan meluas ke fasilitas strategis lainnya atau menghambat aktivitas pelayaran.
Arab Saudi sebelumnya telah menghadapi serangkaian serangan yang dikaitkan dengan kelompok Houthi. Ancaman terhadap fasilitas energi dan sasaran sipil meningkatkan ketidakpastian mengenai keamanan ekspor minyak dari kawasan Teluk.
Dalam kondisi tersebut, harga minyak tidak hanya mencerminkan keseimbangan permintaan dan penawaran aktual, tetapi juga premi risiko geopolitik. Premi ini muncul ketika pedagang memperhitungkan kemungkinan pasokan terganggu akibat konflik, meskipun gangguan besar belum tentu terjadi.
Jika ancaman serangan baru terhadap Iran benar-benar diwujudkan dan dibalas dengan tindakan militer lanjutan, pasar berpotensi menghadapi tekanan tambahan. Sebaliknya, perkembangan diplomasi yang menghasilkan kesepakatan dapat mengurangi premi risiko tersebut.
Ketidakpastian Politik Israel Bayangi Pasar
Ketidakpastian geopolitik juga diperburuk oleh situasi politik Israel yang mengarah pada kebuntuan dalam pembentukan pemerintahan.
Hasil jajak pendapat awal setelah pemungutan suara menunjukkan bahwa baik blok Perdana Menteri Benjamin Netanyahu maupun kelompok penantang utamanya, Gadi Eisenkot, belum memperoleh jalur yang jelas untuk membentuk mayoritas pemerintahan.
Kedua blok diperkirakan belum mencapai ambang 61 kursi yang diperlukan untuk menguasai parlemen Israel yang memiliki 120 anggota.
Situasi tersebut membuka kemungkinan negosiasi koalisi berkepanjangan dan menimbulkan ketidakpastian mengenai arah kebijakan Israel terhadap Iran.
Bagi pasar minyak, perkembangan politik Israel relevan karena hubungan keamanan antara Israel dan Iran merupakan salah satu sumber utama ketegangan di Timur Tengah. Perubahan konfigurasi politik dapat memengaruhi pendekatan terhadap konflik, meskipun dampaknya terhadap kebijakan aktual belum dapat dipastikan.
Pasokan Energi Jadi Perhatian
Penguatan harga Brent dan WTI menunjukkan bahwa risiko geopolitik masih menjadi faktor dominan dalam pembentukan harga minyak.
Pasar menghadapi dua kemungkinan yang berlawanan. Jika Washington dan Teheran mencapai kesepakatan, risiko gangguan pasokan dapat berkurang dan harga minyak berpeluang terkoreksi. Namun, jika operasi militer kembali meningkat, gangguan terhadap infrastruktur energi dan jalur pelayaran dapat memperketat pasokan global.
Dampaknya tidak terbatas pada perdagangan minyak. Harga energi yang tinggi dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi, memperbesar tekanan inflasi, serta memengaruhi keputusan suku bunga bank sentral.
Baca Juga
Inflasi Masih Jadi Ancaman, The Fed Tahan Bunga Acuan di 3,75%-4%
Kenaikan harga minyak juga menjadi tantangan bagi The Fed yang memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,75%-4%. Apabila kenaikan energi berlanjut dan merambat ke harga barang serta jasa, upaya mengembalikan inflasi ke sasaran 2% dapat semakin sulit.
Bagi negara pengimpor energi, lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan biaya impor, menekan neraca perdagangan migas, serta menambah beban subsidi atau kompensasi energi apabila harga domestik tidak langsung mengikuti harga internasional.
Karena itu, perkembangan perang AS-Iran, keamanan fasilitas energi Arab Saudi, dan arah kebijakan pemerintahan AS akan tetap menjadi perhatian utama pasar dalam beberapa pekan mendatang.
