Serangan Houthi Ancam Pasokan Global, Minyak Brent Bertahan di Atas US$109
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak mentah dunia mendekati level tertinggi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan serangan Ukraina terhadap fasilitas minyak Rusia. Kelompok militan Houthi yang didukung Iran mengklaim telah menyerang sejumlah sasaran strategis di Arab Saudi, termasuk bandara dan fasilitas milik perusahaan minyak Saudi Aramco.
Baca Juga
Waduh! Trump Buka Opsi AS Ikut Perang Melawan Houthi di Yaman
Pada perdagangan Senin (19/10/2026), dikutip dari CNBC, minyak mentah Brent, yang menjadi patokan harga minyak global, sempat menyentuh US$110,70 per barel, sebelum kemudian turun 31 sen menjadi US$109,55 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik US$2,25 menjadi US$103,66 per barel.
Harga minyak mundur dari level tertingginya ketika pelaku pasar mempertimbangkan kemungkinan bertambahnya pasokan minyak Rusia setelah Amerika Serikat memberikan kelonggaran sanksi pada Jumat sebelumnya.
Houthi pada Senin mengklaim telah menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Bandara Internasional Abha di wilayah barat daya Arab Saudi dekat Yaman, fasilitas Saudi Aramco di Yanbu di pesisir Laut Merah, ladang minyak Shaybah, serta pasukan angkatan laut Arab Saudi.
Namun, CNBC menyatakan belum dapat memverifikasi klaim serangan tersebut. Pemerintah Arab Saudi juga belum mengeluarkan pernyataan publik yang mengonfirmasi laporan itu.
Meningkatnya ancaman keamanan turut berdampak pada agenda ekonomi Arab Saudi. Pemerintah negara tersebut menunda hingga 2027 konferensi Future Investment Initiative (FII), yang semula dijadwalkan berlangsung selama empat hari pada pekan berikutnya. Keputusan itu diambil di tengah eskalasi serangan Houthi terhadap kerajaan.
Sekitar 10 hari sebelumnya, kelompok tersebut juga menyerang Bandara Internasional King Khalid. Serangan itu dilaporkan menewaskan sedikitnya 12 orang dan menyebabkan ratusan lainnya mengalami luka-luka.
Infrastruktur Minyak Rusia Jadi Sasaran
Di Rusia, kebakaran terjadi di sebuah terminal minyak dan depot di St. Petersburg setelah Ukraina melancarkan serangan pesawat nirawak dalam skala besar pada Minggu. Gubernur St. Petersburg Alexander Beglov menyampaikan informasi tersebut melalui unggahan di media sosial.
Berdasarkan data Kpler, terminal di St. Petersburg mengekspor sekitar 120.000 barel produk minyak olahan per hari, terutama minyak bakar atau fuel oil. Besarnya kerusakan fasilitas tersebut belum diketahui secara langsung.
Ukraina sempat menghentikan sementara serangan terhadap fasilitas energi Rusia setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 11 Oktober menyatakan bahwa Kyiv dan Moskow telah menyepakati gencatan senjata di sektor energi.
Namun, Rusia tetap melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina setelah pengumuman tersebut. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pekan lalu menyatakan Kyiv akan kembali menyerang fasilitas Rusia sebagai tindakan balasan.
Perkembangan ini menambah kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi yang berkepanjangan, terutama jika fasilitas produksi, pengolahan, dan distribusi minyak terus menjadi sasaran konflik.
Serangan terhadap Kapal Tanker
Ketegangan juga meningkat di jalur pelayaran Teluk Persia. Dua kapal tanker dilaporkan mengalami serangan di lepas pantai Arab Saudi pada Jumat, menurut laporan insiden dari United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO).
Sebuah kapal kecil menembakkan granat berpeluncur roket ke arah kapal tanker yang belum diidentifikasi, sekitar 78 mil laut di timur laut Al Jubayl. Kapal tanker lainnya, ST3, dilaporkan terkena proyektil yang jenis maupun asalnya belum diketahui.
Iran meningkatkan serangan terhadap kapal tanker di Teluk Persia, Selat Hormuz, dan Teluk Oman sebagai bagian dari upaya menghambat ekspor minyak mentah dari kawasan tersebut.
Baca Juga
Iran Tingkatkan Serangan di Selat Hormuz, Minyak Brent Sentuh US$110 per Barel
Selat Hormuz merupakan jalur strategis perdagangan energi dunia. Gangguan berkepanjangan di kawasan ini dapat menghambat pengiriman minyak, meningkatkan biaya asuransi kapal, dan mendorong kenaikan harga energi internasional.
Bagi pasar minyak, perkembangan di Timur Tengah dan Rusia memunculkan dua risiko: ancaman gangguan pasokan akibat konflik dan kemungkinan tambahan pasokan Rusia setelah pelonggaran sanksi Amerika Serikat.
Kombinasi tersebut membuat arah harga minyak tetap sangat sensitif terhadap perkembangan militer, kebijakan sanksi, dan keamanan jalur pelayaran global.
