Pesan ke PBB: Indonesia ingin Perkokoh Pilar Multilateralisme
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Luar Negeri (Menlu) Arrmanatha Nasir menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia ingin berkontribusi untuk memperkokoh multilateralisme dunia. Sebab, multilateralisme bukan sekadar negosiasi di atas meja perundingan.
“Ini tentang apa yang dapat kami bawa dan kontribusikan ke meja tersebut,” kata Arrmanatha saat sambutan dalam “Foreign Policy Circle Talks, "Eight Decades of the United Nations: What's Next?”, di Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Jakarta, Senin (19/10/2026).
Menurut Arrmanatha, multilateralisme bukanlah sebuah pilihan. Multilateralisme menjadi keharusan karena setiap negara di dunia membutuhkan ruang kerja sama.
Akan tetapi, di tengah kerja sama diperlukan, ruang dialog multilateral kian menyempit. Untuk itulah, Arrmanatha menyampaikan agar reformasi di tubuh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) diperlukan.
“Reformasi bukan lagi sekadar hal yang diharapkan, melainkan hal yang sangat mendesak,” ujar dia.
Indonesia telah lama suarakan transformasi di PBB
Arrmanatha mengatakan bahwa Indonesia telah menyuarakan sejak lama transformasi di PBB. Dalam Konferensi Bandung 1955, negara-negara berkembang ingin tatanan dunia harus menjadi milik semua bangsa.
“Sistem internasional harus berjalan lebih adil. Prinsip-prinsip dalam Piagam PBB harus terus bertahan, namun institusi yang dibangun di atasnya harus berevolusi,” kata dia.
Baca Juga
Reformasi di tubuh PBB, kata Arrmanatha, bukan tentang perubahan semata. Dia mendesak PBB untuk melayani, memahami keberadaannya, inklusif dalam keputusan, dan adaptif tentang apa yang terjadi di masa depan.
“Ini sangat berarti bagi kawasan Global South. Suara mereka layak mendapatkan tempat yang lebih kuat di meja perundingan, tempat keputusan-keputusan dunia diambil,” ujar dia.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres mengatakan Indonesia merupakan salah satu pilar multilateralisme. Ini terlihat dari banyaknya keterlibatan Indonesia dalam organisasi dunia.
Antonio mengatakan saat ini persaingan di antara kekuatan-kekuatan besar semakin intensif. Selain konflik antarnegara, dampak perubahan iklim yang semakin parah mulai terlihat. Ini menyebabkan kehancuran dan perpindahan penduduk dalam skala besar, mengancam ketersediaan air, pangan, dan kesehatan, serta membahayakan alam dan satwa liar.
“Sementara itu, teknologi telah mengubah masyarakat kita dengan kecepatan yang mencengangkan. Pada saat yang sama, ketimpangan terus meningkat, baik di dalam maupun antarnegara. Kepercayaan terhadap institusi semakin menurun,” kata Antonio.
Dengan berbagai kondisi ini, banyak yang mempertanyakan pertanyaan tentang manfaat kerja sama internasional. Menurutnya, kekecewaan terhadap multilateralisme seharusnya tidak mengurangi peran dari kerja sama internasional.
“Jawabannya adalah multilateralisme yang lebih baik: lebih efektif, lebih representatif, dan lebih mampu memberikan hasil nyata,” kata dia.
